close
Iklan Kominfo
Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide

  1. Home
  2. Anim Ha
  3. Jasa pengiriman, modus masuknya narkoba ke Merauke
  • Senin, 15 Januari 2018 — 22:20
  • 1670x views

Jasa pengiriman, modus masuknya narkoba ke Merauke

Secara umum, modus pengiriman narkoba baik dari Jawa maupun Makassar, menggunakan identitas orang yang tidak sesuai dan melalui jasa pengiriman barang.
Ribuan pil PCC yang diamankan Polres Merauke tahun 2017 silam – Jubi/Frans L Kobun
Ans K
Editor : Dewi Wulandari

PERHATIAN!!!

Penggunaan sebagian atau seluruh materi dalam portal berita ini tanpa seijin redaksi tabloidjubi.com akan dilaporkan kepada pihak berwenang sebagai tindakan pelanggaran terhadap Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang HAK CIPTA dan/atau UU RI Nomor 19 Tahun 2016 atas perubahan UU RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE)

Papua No. 1 News Portal | Jubi,

SABTU 6 Januari 2017 sekitar pukul 15.00 WIT, masyarakat di sekitar Kompi Yalet 755, Kelurahan Rimba Jaya, Distrik Merauke dikagetkan dengan hadirnya beberapa anggota kepolisian dari Satuan Narkoba (Satnarkoba) Polres Merauke. Mereka mengepung salah satu kios yang menjual sejumlah kebutuhan pokok. Ternyata ada target operasi. Karena hendak berlangsung transaksi jual beli narkotika dan obat-obatan terlarang (narkoba) jenis sabu-sabu.

Penggerebekan dilakukan. Dua pelaku berhasil ditangkap dengan inisial F dan JM. Sebelum penangkapan, F yang telah melihat beberapa anggota kepolisian mengepung, sempat memasukkan satu bungkus sabu-sabu ke mulutnya dan ditelan. Namun Polisi begitu menciduknya, langsung memaksakan pelaku memuntahkan kembali satu bungkus sabu tersebut.

Sabu-sabu itu dikirim dari Batam melalui jasa pengiriman. Tiga paket sabu-sabu dimasukkan dalam buku yang dilubangi tengahnya dan ditutup kembali dengan kertas karbon.

“Kedua pelaku telah kami amankan dan sedang dalam pemeriksaan. Apakah ada sindikat atau tidak, masih dalam proses pengembangan,” ujar Kapolres Merauke, Ajun Komisaris Besar Polisi (AKBP) Bahara Marpaung, melalui Kasat Narkoba Polres Merauke, Ajun Komisaris Polisi (AKP) Subur Hartono, di kantornya Selasa (9/1/2018).

Tahun 2017, lanjut Kasatnarkoba, enam kasus nakoba berhasil diungkap. Tiga diantarnya sabu-sabu telah dikirim ke Kejaksaan Negeri (Kejari) Merauke setelah dinyatakan lengkap atau P-21.

“Saya mendapatkan informasi kalau ada satu kasus narkoba sedang disidangkan di Pengadilan Negeri (PN) setempat,” ujarnya.

Tiga jenis narkoba lainnya, selain sabu-sabu dengan tersangka R, juga dua pelaku lain yang mengedarkan pil PCC ribuan butir berinisial I dan L.

“Kami telah minta perpanjangan penahanan terhadap ketiga pelaku. Dalam waktu dekat, berkas tersangka sudah dikirim ke kejaksaan untuk diproses hingga pengadilan nanti,” katanya.

Secara umum, modus pengiriman narkoba baik dari Jawa maupun Makassar, menggunakan identitas orang yang tidak sesuai dan melalui jasa pengiriman barang.

Namun demikian, aparat kepolsian Polres Merauke telah membangun jaringan. Sehingga setiap gerak langkah dari para penerima barang haram tersebut, dipantau dan terdeteksi cepat oleh aparat kepolisian.

“Kami tak bisa bekerja sendiri. Tentunya sangat diharapkan peran aktif dari semua masyarakat memberikan informasi jika mengetahui adanya transaksi narkoba yang sedang dilakukan siapa saja,” ujarnya.

Untuk menjaga agar generasi muda tidak terjerumus penyalahgunaan narkoba, pihaknya terus melakukan penyuluhan di sekolah-sekolah serta beberapa tempat lain. Itu dengan tujuan mengingatkan para pelajar agar selalu waspada dan tidak tergoda.

Sementara itu, Ketua Dewan Pimpinan Kabupaten (DPK) Gerakan Anti Narkoba, Tawuran, dan Anakhis (Gepenta) Kabupaten Merauke, Harry Ndiken, mengapresiasi aparat kepolisian yang bisa membongkar penjualan narkoba di bumi Anim Ha.

“Ini sesuatu yang sangat luar biasa. Karena dalam tahun 2017, kurang lebih enam kasus narkoba bersama pelakunya, berhasil diungkap. Terakhir pada awal tahun 2018, dua orang tertangkap ketika sedang melakukan transaksi jual beli narkoba jenis sabu lagi,” katanya.

Keberadaan Gepenta, jelas dia, hanya sebagai informan. Kewenangan melakukan penangkapan adalah kepolisian maupun BNN.

“Ya, karena di Merauke belum ada BNN, sehingga kepolisian yang bergerak,” tuturnya.

Harry menegaskan Merauke sudah menjadi kota sangat terbuka. Sehingga siapa saja boleh masuk beraktivitas. Termasuk melakukan hal-hal kurang baik, termasuk penyelundupan narkoba.

Untuk itu, perlu pengawasan yang dilakukan aparat kepolisian. Namun partisipasi masyarakat, sangat diharapkan. Sehingga barang haram tersebut, dapat diputus mata rantainya.

“Saya kira kita semua harus mempunyai kepedulian dan tanggungjawab memberikan informasi kepada kepolisian jika mengetahui ada transaksi narkoba dilakukan,” katanya.

“Sekali lagi saya sebagai Ketua DPK Gepenta mengajak kita bekerjasama mencegah narkoba. Buka hanya mencegah, tetapi ikut menanggulangi. Tak boleh cuci tangan begitu saja dan membiarkan kepolisian bekerja sendiri,” saran Harry.

Dia menilai peredaran narkoba yang dilakukan selama ini, telah ada sindikat dibangun. Tak mungkin hanya orang perorangan memasok sendirian.

“Kepolisian harus membongkar tuntas dengan memeriksa para pelaku yang telah ditangkap. Saya optimistis ada jaringan kuat, karena tak mungkin orang melakukan transaksi perorangan,” tegasnya.

Terhadap para pelaku, Harry menegaskan hukum harus ditegakkan. Aparat kepolisian yang menangani juga, agar tak bermain dengan aturan hukum. Tegakan hukum dengan seadil-adilnya.

“Ingat bahwa narkoba tak memberikan manfaat, tetapi justru merusak mental generasi bangsa. Olehnya, pencegahan dan pemberantasan harus dilakukan terus menerus,” pintanya lagi.

Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Merauke, Moses Kaibu, yang dimintai komentarnya mengatakan masuknya narkoba di daerah ini akibat pengawasan kurang ketat oleh aparat kepolisian.

“Kita harus perangi penyalahgunaan narkoba. Karena dampaknya sangat besar terhadap generasi muda sekarang,” katanya.

Kabupaten Merauke, lanjut Kaibu, sangat terbuka dan tak menutup kemungkinan menjadi tempat pertama dilakukan transaksi, sebelum diedarkan lagi ketiga daerah pemekaran yakni Boven Digoel, Mappi, serta Asmat. (*)

loading...

Sebelumnya

Lemahnya sosialisasi, KDRT meningkat

Selanjutnya

Ketika Perda nomor 8 tahun 2014 ditegakkan

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga

Populer
Dunia |— Minggu, 14 Oktober 2018 WP | 4948x views
Polhukam |— Minggu, 14 Oktober 2018 WP | 4329x views
Domberai |— Minggu, 21 Oktober 2018 WP | 4049x views
Otonomi |— Rabu, 17 Oktober 2018 WP | 2525x views
Polhukam |— Selasa, 16 Oktober 2018 WP | 2478x views

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : [email protected]

Copyright © 2013. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe