Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide

  1. Home
  2. Anim Ha
  3. Ketika Perda nomor 8 tahun 2014 ditegakkan
  • Senin, 15 Januari 2018 — 23:08
  • 1438x views

Ketika Perda nomor 8 tahun 2014 ditegakkan

Aksi penggerebekan dilakukan di salah satu rumah kontrakan di Jalan Maluku, Kelurahan Seringgu. Dari tangan kedua pelaku, ditemukan puluhan botol air mineral kemasan berisi sopi maupun peralatan produksi mulai dari dandang, kompor, alat penyuling, dan lain-lain.
Minuman lokal jenis sopi maupun yang berlabel yang disita Polres Merauke – Jubi/Frans L Kobun
Ans K
Editor : Dewi Wulandari
LipSus
Features |
Kamis, 20 September 2018 | 09:41 WP
Features |
Rabu, 19 September 2018 | 16:08 WP
Features |
Selasa, 18 September 2018 | 07:24 WP
Features |
Senin, 17 September 2018 | 19:13 WP

PERHATIAN!!!

Penggunaan sebagian atau seluruh materi dalam portal berita ini tanpa seijin redaksi tabloidjubi.com akan dilaporkan kepada pihak berwenang sebagai tindakan pelanggaran terhadap Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang HAK CIPTA dan/atau UU RI Nomor 19 Tahun 2016 atas perubahan UU RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE)

Papua No. 1 News Portal | Jubi,

PEKAN lalu, seorang ibu rumah tangga berinisial NB dan GR, mahasiswa salah satu perguruan tinggi di Kabupaten Merauke, digelandang ke Satuan Narkoba Polres Merauke.  Keduanya tertangkap saat memproduksi minuman beralkohol lokal (milo) dengan beberapa bahan mulai dari air sumur, gula pasir, dan ragi roti.

Hasil produksi milo jenis sopi itu dikemas dan diisi dalam botol minuman mineral ukuran 600 ml dan dijual berkisar Rp 20 ribu - Rp 25 ribu.

Aksi penggerebekan dilakukan di salah satu rumah kontrakan di Jalan Maluku, Kelurahan Seringgu. Dari tangan kedua pelaku, ditemukan puluhan botol air mineral kemasan berisi sopi maupun peralatan produksi mulai dari dandang, kompor, alat penyuling, dan lain-lain.

Dari pengembangan pemeriksaan, kedua pelaku mengaku sudah lima kali memproduksi milo dan dijual kepada orang lain. Namun, tempat produksi berlangsung di tempat lain.

Hasil pemeriksaan terhadap kedua pelaku, sejumlah peralatan dibeli pelaku dengan modal Rp 20 ribu. Mereka mendapatkan keuntungan hingga Rp 600 ribu dari penjualan sopi.

“Harga jual antara Rp 20 ribu-Rp 25 ribu/botol, sangat terjangkau bagi masyarakat sehingga banyak orang membeli,” ujar Kasat Narkoba Polres Merauke, AjunKomisarisPolisi (AKP) Subur Hartono.

Kapolres Merauke, Ajun Komisaris Besar Polisi (AKBP) Bahara Marpaung, mengungkapkan selama 2017, sekitar 30 tempat produksi minuman lokal yang digerebek pihaknya.

Sebagian pelaku berhasilditangkap dan diserahkan ke Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) untuk diproses sesuai Peraturan Daerah (Perda) Nomor 8 Tahun 2014 tentang pemberantasan minuman keras.  Namun, ada juga yang menghilang saat penggerebekan. Hanya barang bukti milo yang ditemukan.

Dikatakan, secaraumum banyak kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yang terjadi, pemicunya adalah konsumsi minuman beralkohol. Umumnya yang  dikonsumsi adalah milo. Karena harga jual murah dan bisa didapatkan dimana saja.

“Setiap hari saya selalu memberikan tugas dan tanggung jawab kepada Kabag Ops Polres Merauke, Kompol Marthen Koagouw, agar terus melakukan operasi penertiban minuman lokal di berbagai tempat,” katanya.

Secara terpisah KepalaSatuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kabupaten Merauke, ElyasRefra, di ruang kerja nya, Jumat (12/1/2018), menjelaskan selama ini pihaknya selalu bekerjasama bersama aparat kepolisian untuk penindakan sesuai PerdaNomor 8 Tahun 2014.

Selama tahun 2017, lanjut Refra, sebanyak 24 pelaku diproses dan disidangkan sampai Pengadilan Negeri (PN) Merauke. Tujuh orang menjalani hukuman di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas), lantaran tak mampu membayar denda.

Tahun 2016, katanya, jumlah yang diproses dengan Perda tersebut mencapai 30-an orang.

“Kalau mau dilihat, terjadi trend penurunan. Karena para pelaku mulai ketakutan, setelah begitu ditangkap aparat kepolisian langsung diserahkan ke Satpol PP untuk diproses sesuai Perda dimaksud,” ungkapnya.

Sesuai perda, para pelaku dihukum membayar denda Rp3,5juta. Jika tak mampu membayar, maka harus menjalani hukuman kurungan dua bulan di Lapas Merauke.

“Khusus yang kedapatan dua kali memproduksi dan menjual, tidak didenda lagi, tetapi langsung dijebloskan ke penjara,” tegasnya.

Menyinggung ancaman memulangkan orang ke kampung halaman jika memproduksi milo berulang kali, Reframenegaskan, itu adalah instruksi Bupati Merauke, Frederikus Gebze, yang harus ditindaklanjuti.

“Tentunya ada beberapa ahapan yang dilalui terlebih dahulud engan memanggil kepala suku. Sekaligus dibicarakan dan disepakat ibersama. Setelah itu, dipulangkan ke kampung halamannya,” tegas Refra.

Seperti Kacang Goreng

Refra mengatakan, khusus di KabupatenMerauke, hanya terdapat dua distributor penjualan minuman berlabel. Namun, pengecernya sangat banyak ibarat orang berjualan kacang goreng.

“Sejak Desember 2017, kita menahan semua perizinan dan tak dikeluarkan. Untuk usaha yang sudah pasti, perpanjangan dipending dan diserahkan kepada tim terpadu. Itu karena jumlah pengecer yang menjual miras berlabel sangat banyak,” katanya.

Sesuai Perda yang berlaku, lanjut dia, tempat penjualan minuman beralkohol harus jauh dari rumah ibadah maupun sekolah.

“Kami belum melakukan sidak. Jika ditemukan ada pengecer masih menjual tanpa mengantong iizin, akan diproses hukum,” tegasnya.

Seorang Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS) di Satpol PP Kabupaten Merauke, Evanus Pasaribu, mengatakan total uang yang disetorkan dari denda para pelaku milo maupun minuman berlabel mencapai Rp 85 juta.

“Saya yang sering menangani pelaku hingga proses persidangan di PN Merauke. Biasanya, setelah sidang, kami memberikan kesempatan beberapa hari kepada pelaku untuk menyelesaikan denda. Jika tak membayar, akan ditangkap dan dijebloskan ke penjara,” katanya.

Diakui ada yang sempat melarikan diri, karena tak mampu membayar. Namun berhasil ditangkap dan menjalani hukuman kurungan di lembaga antara 2-3 bulan.

“Memang ada kekhususan kepada pelaku yang sudah dua kali tertangkap memproduksi milo, tak didenda lagi. Tetapi langsung diantar ke Lapas,” ujarnya.

Ditanya pelaku yang diproses lantaran menjual minuman berlabel, Evanu mengaku ada dua orang. Hanya saja, merek membayar denda mulai berkisar antara Rp 10 juta sampai Rp 30 juta. Keduanya membayar dan tak menjalani hukuman kurungan tiga bulan di lembaga.

Pada 2018, ancaman hukuman makin berat yakni membayar denda sampai Rp 7,5 juta dan hukuman kurungan sampai tiga bulan. (*)

loading...

Sebelumnya

Jasa pengiriman, modus masuknya narkoba ke Merauke

Selanjutnya

Dua pekan berlalu, belum ada bantuan pangan bagi warga Waan

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga

Terkini

Populer
Polhukam |— Kamis, 13 September 2018 WP | 32889x views
Polhukam |— Kamis, 13 September 2018 WP | 8932x views
Polhukam |— Kamis, 13 September 2018 WP | 6441x views
Polhukam |— Jumat, 21 September 2018 WP | 5781x views
Koran Jubi |— Senin, 17 September 2018 WP | 5597x views

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : [email protected]

Copyright © 2013. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe