Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide

  1. Home
  2. Berita Papua
  3. Tiga orang yang terlupakan dalam kasus sakitnya anak Puti Hatil (Bagian II)
  • Kamis, 18 Januari 2018 — 20:34
  • 7360x views

Tiga orang yang terlupakan dalam kasus sakitnya anak Puti Hatil (Bagian II)

Penginjil Dakinus memasuki wilayah Korowai sebagai Penginjil di gereja GIDI pada tahun 2009 untuk bekerja menolong membuat landasan terbang darurat milik gereja di Danowage.
Puti Hatil digendong oleh bapaknya, Daniel Hatil - Dok. Jubi
Admin Jubi
Editor : Kyoshi Rasiey
LipSus
Features |
Jumat, 22 Juni 2018 | 21:50 WP
Features |
Jumat, 22 Juni 2018 | 16:20 WP
Features |
Kamis, 21 Juni 2018 | 17:48 WP

PERHATIAN!!!

Penggunaan sebagian atau seluruh materi dalam portal berita ini tanpa seijin redaksi tabloidjubi.com akan dilaporkan kepada pihak berwenang sebagai tindakan pelanggaran terhadap Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang HAK CIPTA dan/atau UU RI Nomor 19 Tahun 2016 atas perubahan UU RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE)

Papua No. 1 News Portal | Jubi,

Oleh : Pendeta Trevor Johnson

....... Banyak orang di kota-kota memperbesar keserakahannya dengan memperoleh uang sebanyak mungkin serta menambah kelicikan mereka untuk memperoleh pendidikan setinggi mungkin. Ini mengenai apa yang ada di dalam hati manusia merupakan hal yang paling utama..... Baca bagian I

Penginjil Dakinus Wanimbo

Orang pertama yang sudah terlupakan pada artikel ini adalah Daniel Hatil. Tetapi sekarang saya ingin menghadirkan orang kedua pada artikel ini yang terlupakan di tiap doa-doa selama proses penyembuhan Puti. Beliau adalah orang yang paling berperan penting dalam menyelamatkan hidup Puti Hatil. Beliau adalah penginjil Dakinus Wanimbo, seorang pendeta dari GIDI yang sudah melayani selama 6 tahun di kampung Afimabul. Beliaulah satu-satunya orang yang mengantar Puti dan Daniel ke Danowage serta berjalan dengan mereka dan memimpin mereka menuju klinik kesehatan misionaris sehingga Puti dapat dirujuk ke rumah sakit Dian Harapan.

Penginjil Dakinus memasuki wilayah Korowai sebagai Penginjil di gereja GIDI pada tahun 2009 untuk bekerja menolong membuat landasan terbang darurat milik gereja di Danowage. Dia dulunya adalah majelis gereja di daerah pegunungan, tetapi dia merasa kecewa karena ucapan-ucapannya tidak dihargai ketika dia berkotbah di sana. Dakinus menjelaskan “Saya mengingat bacaan yang tertulis bahwa ‘seorang penginjil dihargai dimanapun kecuali di kampung kelahirannya sendiri dan termasuk sanak keluarga’. (Markus 6:4) dan saya merasa sepertinya saya sebaiknya pergi dan menyebarkan Kabar Baik Tuhan di tempat lain di mana mereka akan memberikan apresiasi terhadap injil itu melebihi sanak saudara saya yang mana keluarga saya sendiri dan kampung halamanku. Saya merasa sepertinya mungkin orang asing mengapresiasi sabda Tuhan lebih daripada orang-orang kita. Akhirnya saya masuk ke dalam program GIDI untuk membuka landasan darurat di Korowai di Danowage dan sesudah itu pergi ke Sinimburu untuk sementara waktu kemudian pindah ke Afimabul di mana saya sudah sedang melayani selama 6 tahun.”

Dakius Wanimbo - IST

Afimabul adalah wilayah yang sangat terpencil. Dakinus menyatakan, “Afimabul itu jauh dan susah…selalu ada masalah atap karena atap daun dan Alkitab saya selalu kena basah dan karena tidak ada listrik waktu malam susah baca dari api saja.  Juga waktu saya kasih Firman Tuhan saya selalu rasa terbatas dan saya menangis dan berdoa kepada Tuhan, ‘Tuhan, bagaimana saya bisa sampaikan Firman Tuhan lebih baik karena saya terbatas.’” Dakinus berusaha menjelaskan dengan bahasa Indonesia dengan baik, tetapi dia terbatas. Begitulah penginjil GIDI harus mampu berbahasa Indonesia sebelum terjun ke ladang pelayanan. Ketika saya bertanya kepada orang-orang Korowai mengenai Dakinus untuk evaluasi kinerja penginjil, sangat jelaslah bahwa mereka mencintai Dakinus. Mereka dapat merasakan bagaimana hatinya yang luar biasa terhadap orang-orang Korowai walaupun bahasa Korowai dan bahasa Indonesianya terbatas. Apa lagi, masyarakat Korowai semua merasa bahwa Penginjil Dakninus benar mencintai mereka karena itu dibuktikan dengan perbuatannya. Saya bertanya “tidak semua penginjil dapat berbahasa Korowai bahkan Dakinus tidak dapat berbahasa Indonesia dengan baik. Dapatkah dia melayani di kampung kalian dengan baik jika tidak mampu berbahasa Indonesia dengan baik?” Jawab mereka dengan sepenuh hati “Ya kami setuju”.  Dia sangat disukai dan mereka mengatakan begini  “Dia tidak bisa bicara baik, tapi itu jelas dia punya hati yang baik…dia orang baik sekali. Dia orang hebat dan luar biasa!”. Hati Dakinus sangat murni, dia adalah pria yang dicintai oleh orang-orang Korowai. Hal ini mengingatkan kita pada kutipan “Perbuatan berbicara lebih besar daripada kata-kata itu sendiri.”

Dakinus adalah penginjil yang pertama kali sadar akan penyakit Puti dan melakukan perjalanan panjang bersama Daniel dan Puti ke Danowage sehingga Puti mendapatkan pertolongan lebih. Ketika Puti dikirim ke Sentani dan pihak pemerintah menjenguk Puti, dan ketika koran-koran menyorot penyelematan Puti dan mengambil banyak gambar mengenai Puti, tidak ada seorang pun yang menyebutkan nama Dakinus. Dia sudah dilupakan tetapi Dakinus telah menyelamatkan hidup Puti. Dan Puti bukanlah orang pertama yang sakit yang dibawanya ke Danowage oleh Dakinus tetapi dia sudah sering membawa banyak orang sakit ke Danowage untuk mendapatkan kesembuhan.

Apa yang menjadi harapan-harapan Dakinus? Dia berkata, “Kesehatan harus ada tenaga tetap.” Dan lagi “Saya mau menjadi kader dan belajar kasih obat,” dan juga “Pemerintah Asmat kadang-kadang ke Baigun tapi tidak pernah ke Afimabul karena itu terlalu jauh, saya minta harus ada perhatian khusus dari pemerintah. Kalau Pemda tidak bisa, harus datang langsung dari tingkat propinsi. Sudah banyak orang sakit yang tidak dapat bantuan.” Akhirnya Dakinus rindu menemukan tempat kursus bahasa Indonesia sehingga dia dapat belajar bahasa nasional dengan lebih baik dan melayani dengan lebih baik kepada orang-orang bukan Lani.

Dakinus adalah simbol dari kebaikan yang orang-orang Korowai miliki sampai saat ini. Ada banyak kecenderungan yang mungkin menjadi pembicaraan hangat dan prasangka buruk terhadap tugas-tugas penginjil-penginjil ini sebagai pekerja-pekerja tim kesehatan pemerintah memasuki wilayah dan mengambil alih semua pekerjaannya. Penginjil-penginjil ini sering miskin, tanpa alas kaki, sederhana dan terbatas. Beberapa penginjil tidak dapat berbahasa Indonesia seperti Dakinus. Kami pernah mempunyai seorang pria yang tidak tahu membaca ataupun menulis tetapi dia selalu membawakan tas medis saya dan obat-obatan jika kami melakukan perjalanan panjang hari demi hari dan dari desa ke desa. Kita seharusnya memberikan penghormatan kepada pahlawan seperti Dakinus dan melakukan apapun untuk mendukung mereka. Sebelum pemerintah pernah masuk ke wilayah Korowai, gereja sudah ada sebelumnya di sana. Gereja telah berkorban untuk kebaikan orang-orang Korowai, mengorbankan kesehatan mereka sehingga menjadi sakit karena melayani orang-orang Korowai. Beberapa penginjil telah kehilangan anak-anak mereka selama pelayanannya di wilayah Korowai dan beberapa penginjil sudah meninggal akibat penyakit yang mereka derita selama mereka melayani atau membuka landasan darurat. Baru-baru tahun ini, seorang penginjil yang sudah tua dari kampung Ujung Batu menderita gagal jantung sesudah menembus hutan selama 12 jam dari posnya ke Danowage sebagai bagian dari pelayanannya.

Seperti yang diproklamasikan Gubernur Lukas Enembe ketika dia berbicara di Danowage dua bulan lalu saat kunjungannya untuk melepaskan tim kesehatan, dia berkata kepada saya, “Sebelum pemerintah pernah masuk di wilayah-wilayah terpencil di kawasan Pedalaman Papua, misionaris-misionaris dan gereja selalu hadir pertama.. untuk menolong orang-orang di sana.” Dan dia menambahkan lagi bahwa pemerintah dan gereja harus bekerja sama demi kesejahteraan masyarakat Korowai. Dia berterimakasih kepada saya dan penginjil-penginjil untuk semua ini.

Karena semakin bertambah guru-guru dan perawat-perawat yang profesional masuk ke wilayah Korowai untuk menolong orang di sini, saya sangat memohon untuk jangan berpikir bahwa pelayanan para penginjil tidak penting, mereka memang miskin dan tidak berpendidikan tinggi, tetapi menyelamatkan jiwa. Mereka sudah menyelamatkan hidup banyak orang di wilayah Korowai dan sudah kehilangan beberapa anak mereka dan teman sebaya selama pelayanan mereka. Mari jangan lupakan orang seperti penginjil Dakinus Wanimbo. (bersambung)

loading...

Sebelumnya

Pemilukada berpotensi konflik, tim sukses diminta bersikap dewasa

Selanjutnya

Kata legislator, petahana cenderung halalkan berbagai cara

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : [email protected]

Copyright © 2013. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe
wso shell IndoXploit shell wso shell hacklink hacklink satış hacklink wso shell evden eve nakliyat istanbul nakliyat evden eve nakliyat istanbul evden eve nakliyat evden eve nakliyat istanbul nakliyat