TUTUP
Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide

  1. Home
  2. Lapago
  3. Kasus Clarita puncak gunung es kekerasan terhadap anak
  • Selasa, 23 Januari 2018 — 19:11
  • 1675x views

Kasus Clarita puncak gunung es kekerasan terhadap anak

Sebenarnya masih ada kasus-kasus yang tersembunyi di kampung-kampung yang belum diketahui
Jenazah Clarita Agatha Christie Tana, 8 tahun, korban kekersan ibundanya yang meninggal, saat dimakamkan
Islami Adisubrata
[email protected]
Editor : Edi Faisol

PERHATIAN!!!

Penggunaan sebagian atau seluruh materi dalam portal berita ini tanpa seijin redaksi tabloidjubi.com akan dilaporkan kepada pihak berwenang sebagai tindakan pelanggaran terhadap Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang HAK CIPTA dan/atau UU RI Nomor 19 Tahun 2016 atas perubahan UU RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE)

Papua No. 1 News Portal | Jubi,

Wamena, Jubi –Kematian Clarita Agatha Christie Tana, 8 tahun, yang diduga  akibat kekerasan ibu kandungnya sendiri, sebagai puncak es kasus kekerasan di Kabupaten Jayawijaya.  

“Ini menjadi puncak gunung es kasus kekerasan anak di Jayawijaya yang terkuak dan terpublis, sebenarnya masih ada kasus-kasus yang tersembunyi di kampung-kampung yang belum diketahui,” kata General Manager Wahana Visi Indonesia (WVI), Zona Papua, Charles Sinaga.

Kasus kematian Clarita menjadi keprihatinan publik, hal itu menjadi alasan WVI selalu menghadirkan kesadaran baru bagi masyarakat agar  punya kekuatan dan kemauan yang tinggi melindungi kehidupan anak.

Ia menyebutkan kasus Clarita juga terjadi di sejumlah kasus kekerasan anak lainnya di Jayawijaya. “Meski jika bicara data di Papua memang tidak mudah, tetapi kekerasan ini luas bukan saja soal fisik tetapi juga dalam berbagai hal,” kata Charles menambahkan.

Menurut dia, kekerasan pada anak bisa dalam bentuk kekurangan gizi, tidak mendapatkan hak sekolah, dan bermain. Charles  berharap itu harus menjadi pembelajaran termasuk  mengedukasi masyarakat dari isu yang diangkat oleh media soal kasus kekerasan anak.

“Anak itu adalah anugerah Tuhan bukan untuk disiksa bukan untuk disia-siakan tetapi untuk dibimbing, dibina sehingga kelak tumbuh menjadi pribadi yang kuat, taat, menolong sesamanya” ujar Charles menjelaskan.

Divisi Monitoring dan evaluasi koordinator WVI di pegunungan tengah Papua, Marthen Sambo, menyebutkan  kekerasan secara fisik terjadi hampir 61 persen. “Hasil survei kepada anak yang mengalami kekerasan dengan membatasi tiga item yaitu kekerasan secara fisik, verbal dan psikis,” kata Marthen.  

Menurut dia, 99 persen responden anak saat itu mengatakan pernah mengalami kekerasan. Datanya menunjukan  paling banyak yang disurvei ialah anak SD di bawah usia 12 tahun. “Mereka menjawab biasanya karena tidak mau membantu orang tua langsung dipukul,” kata Marthen menjelaskan.

Sedangkan yang mengalami kekerasan secara verbal sebesar 25 persen seperti dimaki-maki, dikata-katai. Sedangkan 28 persen juga mengalami kekerasan secara psikis seperti dihina, diejek itu juga salah satu yang membuat anak batinya tersakiti.

“Kami pun aktif melakukan sosialisasi kemudian memberikan himbauan-himbauan stop kekerasan anak khususnya di sekolah dan di rumah, dan setelah dilakukan beberapa tahun ini mengalami penurunan kekerasan di sekolah,” katanya. (*)

loading...

Sebelumnya

KPU Jayawijaya menolak pencalonan Bartol Paragaye dan Ronny Elopere

Selanjutnya

Clarita tidak sekolah sejak September 2017

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : [email protected]

Copyright © 2013. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe
wso shell IndoXploit shell wso shell hacklink hacklink satış hacklink wso shell evden eve nakliyat istanbul nakliyat evden eve nakliyat istanbul evden eve nakliyat evden eve nakliyat istanbul nakliyat