Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide

  1. Home
  2. Lapago
  3. Clarita tidak sekolah sejak September 2017
  • Selasa, 23 Januari 2018 — 21:38
  • 917x views

Clarita tidak sekolah sejak September 2017

Clarita tercatat sebagai siswa kelas 2 C, SD Negeri Wamena.
Para pelayat mendatangi rumah Clarita Agatha Christie Tana. Clarita, menjadi korban kekerasan hingga meninggal, Jubi/Islami
Islami Adisubrata
Editor : Edi Faisol
LipSus
Features |
Kamis, 22 Februari 2018 | 22:57 WP
Features |
Kamis, 22 Februari 2018 | 07:49 WP
Features |
Kamis, 22 Februari 2018 | 07:39 WP
Features |
Rabu, 21 Februari 2018 | 13:43 WP

Papua No. 1 News Portal | Jubi,

Wamena, Jubi –Sebelum meninggal akibat dianiaya ibundanya sendiri, Clarita Agatha Christie Tana, 8 tahun, tidak masuk sekolah sejak September 2017.  Clarita tercatat sebagai siswa kelas 2 C, SD Negeri Wamena.

“Clarita sudah tidak masuk sekolah karena dilarang ibunya sendiri, karena kelihatan takut jika dijemput pamannya sendiri,” kata Wali Kelas II C SD Negeri Wamena, Siti Mubarokah, kepada Jubi.

Menurut dia, Clarita terlihat menjadi anak yang broken home. “Kami berusaha mengatasi dan mencermati hal itu dengan baik,” Siti menambahkan.

Selama tidak masuk sekolah orang tua Clarita juga tidak pernah memberikan keterangan pasti, hanya alasan takut sama pamannya saja sehingga sampai saat ini merasa tidak percaya dengan peristiwa ini.

 “Anak ini tak terlalu banyak bicara tetapi aktif, misalkan dikasih tugas ia mengerjakan dengan fokus, dan tidak terlalu banyak bergerak yang main-main dan bergerak juga seperlunya saja," ujar  Siti menjelaskan.

Kepala sekolah SD Negeri Wamena, Lisna Hartati menyatakan keseharian Clarita di sekolah sama dengan siswa lain. “Clarita bermain bersama teman-teman sekelasnya yang disebut sebagai anak pendiam namun aktif dan dalam segi akademik juga bagus,” kata Lisna .

Menurut dia, pada hari pertama mendaftar di SD korban diantar langsung oleh pamannya yang bernama Artur Wahani, namun ketika semua persyaratan terpenuhi untuk bersekolah, tiba-tiba ibunya yang juga pelaku kekerasan mendatangi sekolah dan memarah dirinya karena tidak setuju anaknya didaftarkan oleh adiknya sendiri.

“Kami pun tidak mengerti kenapa bisa seperti itu, jadi kami juga mencoba bertanya langsung sama ibunya Clarita dan dia katakan tidak senang dengan adiknya sendiri,” kata Lisna menjelaskan.(*)

loading...

Sebelumnya

Kasus Clarita puncak gunung es kekerasan terhadap anak

Selanjutnya

Ini hasil autopsi jenazah Clarita

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga

Populer
Berita Papua |— Sabtu, 17 Februari 2018 WP | 6394x views
Pasifik |— Rabu, 14 Februari 2018 WP | 3176x views
Otonomi |— Selasa, 13 Februari 2018 WP | 2704x views
Lapago |— Jumat, 16 Februari 2018 WP | 2314x views

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : [email protected]

Copyright © 2013. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe