Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide

  1. Home
  2. Lapago
  3. Ini hasil autopsi jenazah Clarita
  • Selasa, 23 Januari 2018 — 22:22
  • 1309x views

Ini hasil autopsi jenazah Clarita

Jenazah telah dimakamkan usai  di autopsi di rumah sakit Bhayangkara, di Jayapura.
Jenazah Clarita saat diantar ke TPU Sinakma, Jubi/Islami
Islami Adisubrata
Editor : Edi Faisol
LipSus
Features |
Kamis, 22 Februari 2018 | 22:57 WP
Features |
Kamis, 22 Februari 2018 | 07:49 WP
Features |
Kamis, 22 Februari 2018 | 07:39 WP
Features |
Rabu, 21 Februari 2018 | 13:43 WP

Papua No. 1 News Portal | Jubi,

Wamena, Jubi- Kapolres Jayawijaya AKBP, Yan Pieter Reba, mengakui sudah mendapat hasil autopsi jenazah Clarita Agatha Christie Tana, seorang anak yang menjadi korban kekerasan orang tuanya. Jenazah telah dimakamkan usai  di autopsi di rumah sakit Bhayangkara, di Jayapura.

"Telah dimakamkan dan sekarang kepolisian memiliki cukup bukti untuk menjerat tersangka,” kata Yan Pieter , kepada Jubi.

Menurut Yan, hasil autopsi akan dikembangkan untuk mengetahui kemungkinan pelaku lainnya yang terlibat dalam aksi kekerasan terhadap Clarita.  Ia menyebutkan hasil visum itu masih dianalisis oleh dokter forensik bedah rumah sakit Bhayangkara, meski  disebutkan penyebab kematian korban akibat ada penyumbatan darah di otak belakang.

“Sehingga tidak ada asupan oksigen masuk,” kata Yan menjelaskan.

General Manager Wahana Visi Indonesia (WVI), Zona Papua, Charles Sinaga menyebutkan kematian Clarita Agatha Christie Tana, yang diduga  akibat kekerasan ibu kandungnya sendiri, sebagai puncak es kasus kekerasan di Kabupaten Jayawijaya. 

“Ini menjadi puncak gunung es kasus kekerasan anak di Jayawijaya yang terkuak dan terpublis, sebenarnya masih ada kasus-kasus yang tersembunyi di kampung-kampung yang belum diketahui,” Charles Sinaga.

Ia menyebutkan kasus Clarita juga terjadi di sejumlah kasus kekerasan anak lainnya di Jayawijaya. “Meski jika bicara data di Papua memang tidak mudah, tetapi kekerasan ini luas bukan saja soal fisik tetapi juga dalam berbagai hal,” kata Charles menambahkan.

Menurut dia, kekerasan pada anak bisa dalam bentuk kekurangan gizi, tidak mendapatkan hak sekolah, dan bermain. Charles  berharap itu harus menjadi pembelajaran termasuk  mengedukasi masyarakat dari isu yang diangkat oleh media soal kasus kekerasan anak.

“Anak itu adalah anugerah Tuhan bukan untuk disiksa bukan untuk disia-siakan tetapi untuk dibimbing, dibina sehingga kelak tumbuh menjadi pribadi yang kuat, taat, menolong sesamanya” ujar Charles menjelaskan. (*)

loading...

Sebelumnya

Clarita tidak sekolah sejak September 2017

Selanjutnya

Masyarakat diiming-iming uang dan rumah untuk barter tambang emas

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga

Populer
Berita Papua |— Sabtu, 17 Februari 2018 WP | 6655x views
Pasifik |— Rabu, 14 Februari 2018 WP | 3304x views
Penkes |— Rabu, 21 Februari 2018 WP | 2726x views
Lapago |— Jumat, 16 Februari 2018 WP | 2364x views
Terkini

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : [email protected]

Copyright © 2013. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe