Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide

  1. Home
  2. Lapago
  3. Pelajar jual koran sambil sekolah di Yahukimo
  • Kamis, 25 Januari 2018 — 20:34
  • 1013x views

Pelajar jual koran sambil sekolah di Yahukimo

“Kami menganggap ini tempat kerja kami setiap hari, karena banyak kaka saya yang berhasil sekolah dari hasil jual koran,” ucapnya.
Soni dan Yatmo - Jubi/Piter Lokon
Piter Lokon
Editor : Yuliana Lantipo
LipSus
Features |
Kamis, 22 Februari 2018 | 22:57 WP
Features |
Kamis, 22 Februari 2018 | 07:49 WP
Features |
Kamis, 22 Februari 2018 | 07:39 WP
Features |
Rabu, 21 Februari 2018 | 13:43 WP

Papua No. 1 News Portal | Jubi,

Jayapura, Jubi - Dua pelajar di kota Dekai, Kabupaten Yahukimo, senang memilih berjualan koran usai jam sekolahnya. Dari koran pula, mereka mengaku mendapat banyak pengetahuan dan terbantu dalam hal biaya untuk kebutuhan sehari-harinya.

Mereka adalah Soni Suhun, yang masih duduk dibangku sekolah tingkat SMP dan Yotma Yalak yang sudah di tingkat SMA.

Sehari-hari, selepas jam sekolah, keduanya akan mengambil koran yang dikirimkan dari Jayapura di Bandara Nop Goliat Dekai. Kemudian mulai menjual di perempatan jalan raya pusat kota, atau lebih dikenal dengan sebutan Tugu Salib.

Tugu Salib sudah dikenal masyarakat sebagai tempat penjualan koran. Hingga saat ini, baru ada dua surat kabar yang beredar di Dekai: koran JUBI (Jujur Bicara) Papua dan koran Cenderawasih Pos.

“Saya jual koran Jubi di sini dengan harga Rp20 ribu. Banyak yang beli tapi kadang juga ada yang tidak laku,” ucap Soni. “Tapi kadang sudah habis sebelum ke sini (tugu Salib) karena pembeli sudah tunggu di bandara,” imbuh siswa kelas yang masih duduk di kelas II SMP tersebut.

Sementara itu, Yatma Yalak, penjual koran Cepos, mengatakan pesawat yang membawa koran dari Jayapura ke Dekai, biasanya tiba antara jam 12-14 WIT. Setelah jam belajar berakhir, Yatma akan bergegas ke bandara.

“Kalau koran belum tiba, kami tunggu sampai pesawat masuk. Tapi kadang kami yang terlambat karena pelajaran tambahan,” ujar Yatma yang mengaku menjadi penjual ke 4, menggantikan beberapa kakaknya.

Dari berjualan koran, Yatma merasa terbantu. Ia mengaku pengetahuannya ikut bertambah dari membaca berita-berita di koran. Selain diperkaya pengetahuannya, Yatma juga tertolong dalam masalah biaya untuk ojek dan foto copy pelajaran.

“Kami menganggap ini tempat kerja kami setiap hari, karena banyak kaka saya yang berhasil sekolah dari hasil jual koran,” ucapnya.

Awalnya, kedua pelajar ini “direkrut” oleh Kwenang Pahabol, agen koran di Dekai. Bagi Kwenang, memilih anak sekolah untuk menjual koran sama saja dengan membantu mereka karena dapat memberikan penghasilan.

“Saya memilih penjualnya anak sekolah karena melalui itu mereka bisa tertolong biaya pendidikan yang mereka butuhkan, dari pada mencari orang yang tidak sekolah. Lewat ini juga mereka bisa belajar mandiri,” kata pria yang telah menjadi agen koran sejak 2015 itu.

Internet buruk, koran laris

Pantauan Jubi pada Kamis (25/1/2018), beberapa warga tengah asyik duduk dipinggiran jalan di Tugu Salib sambil membaca koran.

Salah satunya adalah Victor Wetapo, seorang ASN di Pemerintahan Yahukimo. Ia mengatakan buruknya jaringan internet membuat dirinya memilih membaca dua surat kabar harian sebagai sumber berita dan informasi.

“Kita di Yahukimo, jaringan internet untuk online ini kurang bagus, jadi setiap hari saya mengharuskan punya persiapan (uang) untuk membeli koran Jubi atau Cepos. Mau tidak mau harus. Jika korannya habis dibeli orang lain, maka saya cari teman-teman yang sudah beli dan baca, lalu kembalikan uang mereka dan bawa pulang ke rumah untuk saya baca,” ujar Victor, yang sudah memulai kebiasaan membaca koran sejak tahun 2015.

Perbedaannya kalau membaca berita di koran dan online, kata Victor, adalah tentang kepuasan. “Kalau online jaringannya kadang bagus dan kadang buruk, apalagi untuk browsing satu berita saja loading-nya lama, jadi tidak puas baca banyak berita sampai waktunya (paket data) habis,” kisahnya.

“Jadi, pribadi saya memilih koran dibanding online karena beritanya langsung baca tuntas tanpa membutuhkan koneksi internet yang lama,” lagi kata Victor.

Pembaca setia koran lainnya adalah Nius Silak. Ia lebih memilih koran karena lebih mudah peroleh informasi dan bisa dibaca kapan saja tanpa perlu internet.

“Karena jeringan internet buruk maka lebih banyak minat baca koran walaupun harganya mahal Rp20 ribu satu koran. Kami selalu seperti ini baca koran di jalan,” kata Nius Silak saat baca koran Jubi.

“Saya lebih banyak membaca isu Politik West Papua, olahraga, ekonomi, pembangunan dan pendidikan serta berita Pasifik di koran Jubi. Saya manfaatkan baca koran untuk memperoleh informasi,” ucapnya.

Nius yang juga sering kehabisan koran saat akan dibeli, berharap ada penambahan jumlah koran yang dikirim ke Dekai dari kedua perusahaan tersebut.

“Saya berharap kepada pimpinan kedua koran agar bisa tambah jumlah pengirimannya lebih banyak karena pembacanya banyak, koran cepat habis sehingga kadang saya tidak dapat lagi di tempat jualan,” harap Nius. (*)

loading...

Sebelumnya

DPRD Jayawijaya diminta membentuk Pansus Pilkada

Selanjutnya

Koneksi internet buruk warga Yahukimo memilih baca koran

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga

Populer
Berita Papua |— Sabtu, 17 Februari 2018 WP | 6655x views
Pasifik |— Rabu, 14 Februari 2018 WP | 3304x views
Penkes |— Rabu, 21 Februari 2018 WP | 2725x views
Lapago |— Jumat, 16 Februari 2018 WP | 2364x views
Terkini

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : [email protected]

Copyright © 2013. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe