Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide

  1. Home
  2. Infrastruktur
  3. Sabotase pipa, air galon dan tunggakan 1 miliar di RSUD Jayapura
  • Jumat, 26 Januari 2018 — 22:24
  • 2444x views

Sabotase pipa, air galon dan tunggakan 1 miliar di RSUD Jayapura

“Saya harus akui itu bahwa kami kekurangan air. Untuk mengatasi itu, saat ini kami harus berutang pada perusahaan mobil-mobil tangki air,” jelas Aloysius.
Tangki penampungan air utama di RSUD Jayapura - Jubi/Victor Mambor
Roy Ratumakin
Editor : Victor Mambor
LipSus
Features |
Kamis, 20 September 2018 | 09:41 WP
Features |
Rabu, 19 September 2018 | 16:08 WP
Features |
Selasa, 18 September 2018 | 07:24 WP
Features |
Senin, 17 September 2018 | 19:13 WP

PERHATIAN!!!

Penggunaan sebagian atau seluruh materi dalam portal berita ini tanpa seijin redaksi tabloidjubi.com akan dilaporkan kepada pihak berwenang sebagai tindakan pelanggaran terhadap Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang HAK CIPTA dan/atau UU RI Nomor 19 Tahun 2016 atas perubahan UU RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE)

Papua No. 1 News Portal | Jubi,

Jayapura, Jubi - Rina, seorang ibu beranak dua bercerita punya pengalaman buruk saat hendak melahirkan anak keduanya, sebelas tahun lalu. Saat hamil, ia dan suaminya secara rutin memeriksakan kandungannya di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Jayapura, selain juga periksa rutin pada seorang dokter yang menjalankan praktek di sekitar Jalan Percetakan Kota Jayapura. Bersama suaminya, ia berencana melakukan proses persalinan di RSUD Jayapura. Namun rencana itu harus dibatalkan oleh Rina dan suaminya, sebulan sebelum anak mereka lahir.

“Saat kami datang periksa kandungan saya, saya tanya sama dokternya, tentang biaya melahirkan di RSUD Jayapura. Anak pertama kami lahir di luar Jayapura sehingga kami tak punya bayangan berapa besar biaya melahirkan di rumah sakit itu,” ujar Rina.

Dokter kandungan yang ia sudah tak ingat lagi namanya itu lalu menjelaskan tentang kebutuhan persalinan dan perkiraan biaya yang akan dikeluarkan nanti.

“Tapi di akhir penjelasannya itu, dokter itu bilang kami harus sediakan air sendiri karena di rumah sakit tidak ada air bersih. Gara-gara itu kami putuskan untuk melahirkan di rumah sakit lain,” Rina menjelaskan mengapa ia dan suaminya mebatalkan rencana persalinanya di RSUD Jayapura .

Rina tidak bertanya lagi untuk apa air yang dibawa sendiri itu. Sebab menurutnya tidak masuk akal jika sebuah rumah sakit kekurangan air hingga perempuan yang bersalin harus membawa air sendiri.

Baca Separuh lebih masyarakat Jayapura curi air PDAM

Minimnya air bersih di rumah sakit Jayapura yang terjadi 11 tahun lalu itu, masih terjadi hingga saat ini. Banyak pasien atau keluarga pasien mengeluh. Kebanyakan dari mereka terpaksa membeli air galon demi kebutuhan mereka atau keluarga mereka yang sakit.

“Tadi malam saya harus beli air tiga galon untuk kebutuhan orang tua saya yang dirawat. Saya memang tidak tahu kalau di rumah sakit ini tidak ada air,” ujar Hesti, seorang karyawan perusahaan swasta di Kota Jayapura yang sedang menjaga bapaknya di ruang perawatan penyakit paru-paru.  Air itu menutnyanya bukan untuk minum, tapi digunakan untuk kebutuhan seperti buang air atau membersihkan tubuh orang tuanya.

Sulitnya air bersih di RSUD Jayapura ini tak dibantah oleh Pelaksana Tugas Direktur RSUD Jayapura, Aloysius Giay. Bahkan ia mengaku rumah sakit yang dipimpinnya untuk sementara waktu ini sudah berutang pada penyedia air bersih.

Saya harus akui itu bahwa kami kekurangan air. Untuk mengatasi itu, saat ini kami harus berutang pada perusahaan mobil-mobil tangki air,” jelas Aloysius.

Kesulitan ini menurutnya juga terjadi karena ada sabotase oleh warga yang tinggal di sekitar rumah sakit. Warga yang bangun rumah-rumah baru di sekitar rumah sakit melakukan sabotase dengan cara mengalihkan aliran air dari pipa utama menggunakan pipa atau selang ke rumah mereka. Sementara pipa utama itu juga mengallirkan air ke rumah-rumah warga lain yang sudah lama ada disitu.

“Ini mengurangi debit air untuk ketersediaan di rumah sakit,” ungkap Aloysius yang juga Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Papua.

Namun masyarakat setempat yang dituding melakukan sabotase aliran air membantah tindakan mereka itu sebagai sabotase, sekalipun air yang mereka gunakan itu mengalir tanpa meteran yang berfungsi pengukur penggunaan air.

“Yang alihkan air ke rumah kami itu orang PDAM. Kami juga bayar. Jadi bukan curi air,” bantah seorang warga di lereng bukit sekitar RSU Jayapura yang menolak disebutkan namanya. Air yang mengalir ke rumahnya memang menggunakan selang dari pipa utama yang mengalir ke kompleks rumah sakit.

Baca RSUD Jayapura berjuang hilangkan kesan rumah sakit jorok!

Distribusi air di rumah sakit, sesuai Pedoman Sanitasi Rumah Sakit di Indonesia seharusnya melalui pipa utama yang dialirkan oleh Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) jika menggunakan PDAM sebagai sumber air di rumah sakit. Sehingga tidak dibenarkan ada aliran lain ke pengguna lain selain rumah sakit.

“Bulan depan, kami sudah mulai melakukan perombakan pipa-pipa air yang mengalir baik dari bak induk lama maupun bak induk yang baru ke semua ruangan-ruangan yang ada di rumah sakit sehingga tidak ada lagi sabotase air,” Aloysius menjelaskan rencana rumah sakit mengatasi kelangkaan air.

Ia mengaku sudah berkoordinasi dengan pihak PDAM agar bulan depan, semua pipa air dilakukan istalasi ulang.

Dewan Perwakilan Rakyat Papua (DPRP) sudah mendorong pihak rumah sakit untuk mengambil langkah tegas terhadap warga yang mensabotase air dari pipa utama yang seharusnya mengalir tanpa hambatan ke rumah sakit.

“Orang datang bangun rumah sembarangan baru habiskan air. Kami minta direktur rumah sakit untuk segera ambil langkah tegas menertibkan mereka. Kedepan harus ada penambahan penampungan, supaya di waktu-waktu tertentu ada cadangan air untuk rumah sakit,” ujar Natan Pahabol, anggota komisi VI DPRP yang membidangi masalah pendidikan dan kesehatan.

Namun sabotase bukanlah satu-satunya masalah langkanya air bersih di RSUD Jayapura. Turunnya debit air secara umum di Kota Jayapura dan tunggakan hingga 1 miliar lebih adalah penyebab lainnya.

Kepala PDAM Jayapura, Abdul Patenongan menjelaskan penurunan debit air di mata air yang selama ini menjadi sumber air bersih utama di wilayah Distrik Jayapura Utara dan Selatan, mulai dari Batu Putih hingga Pasir II mengakibatkan pihaknya menambah pasokan air bersih dari wilayah Waena. RSUD jayapura sendiri berada di Distrik Jayapura Utara.

“Kami hanya alirkan air satu minggu dua kali yaitu hari Senin dan Kamis, termasuk ke RSUD Jayapura,” Abdul menjelaskan tentang kendala distribusi air yang berdampak pada rumah sakit.

Selain itu, Abdul menyampaikan sejak tahun 2015 RSUD Jayapura menunggak pembayaran air hingga Rp.1.113.019.762,-. Menurutnya, jumlah tunggakan ini tidak diakui oleh pihak rumah sakit, walaupun sejak pergantian direktur pada tahun 2016 pihak rumah sakit sudah mulai melakukan pembayaran secara rutin.

Suplai air bersih ke rumah sakit, menurut Abdul sudah cukup dengan kapasitas 18 liter per detik. Dengan jumlah tersebut sudah sangat cukup untuk melayani seluruh ruangan yang ada di rumah sakit.

“Tapi karena istalasi air yang masuk ke rumah sakit juga melayani perumahan warga disekitar rumah sakit dan kebanyakan pelayanan tersebut ke rumah warga terlebih dahulu maka pasokan air ke rumah sakit menjadi berkurang,” ungkap Abdul. (*)

loading...

Sebelumnya

54 maskapai penerbangan masuk daftar hitam, 14 beroperasi di Papua

Selanjutnya

Jalan Provinsi Bian-Okaba Kini jadi jalan Setapak

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga

Populer

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : [email protected]

Copyright © 2013. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe