Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide

  1. Home
  2. Perempuan dan Anak
  3. Dari ubi jalar, anaknya raih sarjana
  • Rabu, 31 Januari 2018 — 14:59
  • 673x views

Dari ubi jalar, anaknya raih sarjana

Kedua anaknya, Elisabeth Santinena dan Erfina Sereng telah menyelesaikan studi dari Universitas Negeri Musamus (Unmus)
1. Mama Helena Hogot (kiri), Lusia Anselina (tengah) dan Sisilia Swenti (kanan) yang menggeluti pekerjaan menjual ubi jalar – Jubi/Frans L Kobun
Ans K
Editor : Angela Flassy
LipSus
Features |
Sabtu, 24 Februari 2018 | 11:20 WP
Features |
Sabtu, 24 Februari 2018 | 11:03 WP
Features |
Kamis, 22 Februari 2018 | 22:57 WP
Features |
Kamis, 22 Februari 2018 | 07:49 WP

Papua No. 1 News Portal | Jubi,

Merauke, Jubi – Menanti dengan harapan. Itulah sosok dua ibu rumah tangga, Helena Hogot dan Lusia Anselina dari Kampung Bersehati Erom, Distrik Tanah Miring, Kabupaten Merauke yang sudah seminggu lebih dengan setia berjualan di Pasar Mopah.
Saban hari, keduanya menghabiskan waktu menunggu pembeli, agar ubi jalar yang dibawa langsung dari Kampung Erom. Jumlah yang dibawa sangat banyak, mencapai puluhan karung.
Saat ditemui Jubi, ubi jalar yang ditanam dan dipanen sendiri itu, belum laku seluruhnya. Baru beberapa karung yang laku. Itupun melewati tawar menawar dengan pembeli.
Harga standard untuk satu karung ubi jalar sekira Rp250.000. Pembeli menawar hingga Rp200.000. Ia terpaksa menjual, walau akan merugi bila dikalkulasi dari biaya tanam, panen sampai angkut dari Erom menuju kota.
“Kami tanam sampai panen sendiri. Lalu membawa ke kota untuk dijual di pasar,” ujar Helena Hogot, saat ditemui Jubi Jumat (26/1/2018).
Dalam setahun, katanya, ia bisa menanam sampai tiga kali, entah musim hujan maupun kemarau. Dengan luas lahan antara setengah atau seperempat hektare, disesuaikan kekuatan tenaga maupun anggaran.
Helena menuturkan, dalam usia empat bulan, ubi jalar dipanen. Ubi harus dibersihkan, lalu diisi dalam karung. Untuk setengah hektare lahan, hasil ubi jalar mencapai 100 karung kalau tanah sudah pernah ditanam.
“Kalau kita lahan baru baru, hasil panen ubi jalar, lebih banyak dan bisa mencapai 200 karung,” tuturnya.
Untuk membawanya ke kota, ia menyewa orang memikul dari kebun ke pinggir jalan. Biaya angkut per karung Rp10.000. Itu saat musim kemarau. Bila musim hujan, dibayar Rp20.000/karung, karena yang memikul melewati lumpur.
Sampai di jalan, mobil telah menunggu untuk mengangkut ubi ke kota. Setiap karung, dibayar Rp10.000. Sekali angkut berkisar antara 80-100 karung.
Sampai di kota, mereka harus menghabiskan waktu berminggu-minggu di pasar untuk menjualnya.

“Saya tidak menggunakan penadah. Lebih baik saya menjual sendiri, meskipun harus korban segala-galanya termasuk keluarga untuk menanti pembeli,” ungkapnya.
Sudah belasan tahun menggeluti pekerjaan sebagai petani ubi jalar. Namun dua tahun terakhir, hasil penjualannya anjlok. “Kalau dibandingkan lima tahun lalu, begitu bawa puluhan sampai ratusan karung ubi jalar, orang langsung mengambilnya dan dibawa ke kabupaten pemekaran,” tuturnya.
“Terus terang, kami kewalahan dua tahun terakhir. Hasil panen ubi sangat menggembirakan. Namun, pemasaran mengalami kesulitan,” katanya.
Meski demikian, kerja keras Ibu Helena Hogot membuahkan hasil yang lainnya. Kedua anaknya, Elisabeth Santinena dan Erfina Sereng telah menyelesaikan studi dari Universitas Negeri Musamus (Unmus). Sedangkan anak bungsunya masih di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA)
“Saya bekerja keras membanting tulang siang malam, asalkan anak-anak saya bisa kuliah dan meraih gelar sarjana. Puji Tuhan, dua sudah sukses dan telah berkerja. Tinggal satu lagi,” katanya.
Hal serupa disampaikan Lusia Anselina. Ubi jalar yang dijual adalah dari hasil kerja keras keluarga dengan membuka lahan mencapai satu hektare.

“Kalau bicara hasil panen, memang sangat menggembirakan. Hanya persoalannya adalah minimnya pembeli,” katanya.
“Sudah seminggu lebih kami di pasar, tetapi hasil jualan belum habis. Mau pulang ke Erom, tidak mungkin. Karena harus menjaga jualan ubi jalar dalam kemasan karung,” ujarnya.
Lusia mengaku, pendapatan dari berjualan ubi jalar, tidak menentu. Namun demikian, ia masih bersyukur karena dua anaknya sudah menyelesaikan studi dari perguruan tinggi. Sedangkan dua lain, masih berkuliah. Dalam waktu tidak terlalu lama, akan menyelesaikan kuliah.
“Tinggal satu masih di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP),” katanya.
Sisilia Swenti, salah seorang pembeli ubi jalar Erom mengatakan, penjualan dalam setahun terakhir, mengalami penurunan drastis.

“Biasanya saya mengambil satu sampai dua karung untuk dijual kembali. Namun, kini sepi pembeli,” ungkapnya.
“Sudah hampir dua minggu, ubi jalar saya jual di lapak, hampir kering, karena orang tidak membeli. Biasanya saya jual antara Rp15.000-20.000 untuk satu kumpul,” katanya.

Jadi Sentra Kawasan Ubi Jalar
Kepala Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan Kabupaten Merauke, Eddy Santoso mengatakan, meskipun pihaknya memprioritaskan pengembangan umbi-umbian di kampung lokal, namun Kampung Bersehati Erom menjadi sentra kawasan pengembangan ubi jalar.
Dalam tahun ini, lanjut dia, lahan yang dibuka masyarakat Erom mencapai 150 hektare. Tahun lalu, hanya 100 hektare.

“Memang target kami setiap tahun, harus mengalami peningkatan. Karena kawasan tersebut sangat cocok untuk pengembangan ubi jalar,” ujarnya.
Masyarakat Kampung Bersehati Erom yang umumnya berasal dari Nusa Tenggara Timur (NTT), yang sangat familiar menanam ubi jalar. Sehingga pemerintah menetapkan Erom sebagai kawasan sentra, lantaran produksi juga mengalami peningkatan setiap tahun.
Eddy mengaku, untuk satu hektare, rata-rata petani mennghasilkan 20 ton ubi jalar.

“Sejauh yang saya pantau, tak ada kendala. Hama jarang menyerang tanaman ubi jalar. Sehingga hasilnya sangat bagus. Bahkan, pemasaran tidak hanya di Merauke, tetapi di tiga kabupaten pemekaran di Selatan Papua, bahkan sampai Maluku,” tuturnya.
Ditambahkan, pemerintah terus mencari informasi ke daerah lain untuk membantu petani memasarkan ubi jalar. Dari kualitas ubinya juga tidak diragukan. (*)

 

loading...

Sebelumnya

Pilkada Papua diharapkan tidak memisahkan hubungan kekerabatan

Selanjutnya

Pilkada Jayawijaya jadi perhatian Mabes Polri

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga

Populer
Berita Papua |— Sabtu, 17 Februari 2018 WP | 6934x views
Dunia |— Jumat, 23 Februari 2018 WP | 3446x views
Penkes |— Rabu, 21 Februari 2018 WP | 3166x views
Lapago |— Jumat, 16 Februari 2018 WP | 2418x views
Terkini

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : [email protected]

Copyright © 2013. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe