Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide

  1. Home
  2. Penkes
  3. Butuh kerja keras eliminasi malaria di Papua
  • Jumat, 02 Februari 2018 — 08:09
  • 1024x views

Butuh kerja keras eliminasi malaria di Papua

"Kalau masih santai-santai pasti tidak bisa. Harus kerja keras. Kalau di tingkat nasional, kelihatannya kurang yakin kasus malaria ini bisa tuntas pada tahun 2030," kata anggota Tim Supervisi Program Pekan Kelambu Massal Kementerian Kesehatan, Dr Roy Tjong.
Ilustrasi, pembagian kelambu anti nyamuk di kampung Toladan, distrik Sentani, kabupaten Jayapura - Jubi
ANTARA
Editor : Dewi Wulandari

PERHATIAN!!!

Penggunaan sebagian atau seluruh materi dalam portal berita ini tanpa seijin redaksi tabloidjubi.com akan dilaporkan kepada pihak berwenang sebagai tindakan pelanggaran terhadap Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang HAK CIPTA dan/atau UU RI Nomor 19 Tahun 2016 atas perubahan UU RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE)

Papua No. 1 News Portal | Jubi,

Timika, Jubi - Anggota Tim Supervisi Program Pekan Kelambu Massal Kementerian Kesehatan, Dr Roy Tjong, menegaskan dibutuhkan kerja keras untuk mengeliminasi kasus malaria di sejumlah daerah Papua yang secara nasional ditargetkan tahun 2030.

"Kalau masih santai-santai pasti tidak bisa. Harus kerja keras. Kalau di tingkat nasional, kelihatannya kurang yakin kasus malaria ini bisa tuntas pada tahun 2030," kata Roy Tjong, di Timika, Kamis (1/2/2018).

Roy mengatakan salah satu upaya yang dilakukan untuk menurunkan angka kesakitan malaria terutama di lima provinsi kawasan timur Indonesia yaitu dengan memaksimalkan penggunaan kelambu anti nyamuk.

Penggunaan kelambu anti nyamuk yang dipasang di kamar-kamar tidur warga, dinilai sangat efektif untuk mencegah gigitan nyamuk anopheles betina, pembawa parasit malaria.

Selain penggunaan kelambu anti nyamuk, sistem rujukan pasien juga perlu dibenahi.

"Salah satu persoalan tersulit di pedalaman Papua yaitu bagaimana mendapatkan pengobatan yang tepat. Artinya, orang yang sakit itu harus diperiksa terlebih dahulu darahnya, apakah benar-benar terserang malaria atau tidak. Kalau memang ditemukan parasit malaria dalam darahnya, barulah diberikan obat. Kalau tidak, dikhawatirkan akan terjadi resistensi," jelas Roy, yang didampingi Yety Intarti, staf Subdit Malaria Kemenkes.

Pada akhir 2017, Kemenkes mengirim 112.400 kelambu anti malaria ke Kabupaten Mimika.

Selain ke Mimika, kelambu anti malaria sumbangan lembaga donatur internasional, Global Fund itu juga dikirim ke Kabupaten Jayapura, Keerom, Sarmi, dan Boven Digoel.

Kasus malaria di Papua merupakan penyumbang tertinggi angka kasus malaria nasional.

Selain Provinsi Papua, empat provinsi di kawasan timur Indonesia lainnya yang masih merupakan daerah endemis malaria yaitu Papua Barat, Maluku, Maluku Utara, dan Nusa Tenggara Timur (NTT).

Terkait penggunaan kelambu anti nyamuk dalam rangka mengatasi kasus malaria, Pemkab Mimika menggelar program pekan kelambu malaria massal pada Jumat (2/2/2018) bertempat di Kampung Gimbi, Distrik Kuala Kencana.

Pemkab Mimika menargetkan setiap dua orang dalam satu rumah akan menggunakan kelambu anti nyamuk tersebut.

Sejumlah Puskesmas di Mimika sebelumnya telah membagikan kelambu gratis tersebut kepada masyarakat di wilayah kerja masing-masing. (*)

loading...

Sebelumnya

Presiden BEM Uncen sebut program KB produk Orba

Selanjutnya

Mimika bagikan vitamin A untuk Balita

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga

Populer
Polhukam |— Jumat, 18 Mei 2018 WP | 2855x views
Domberai |— Sabtu, 12 Mei 2018 WP | 2595x views
Koran Jubi |— Sabtu, 12 Mei 2018 WP | 1504x views
Koran Jubi |— Sabtu, 12 Mei 2018 WP | 1298x views

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : [email protected]

Copyright © 2013. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe