Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide

  1. Home
  2. Pasifik
  3. Pasca referendum, apa yang dapat dilakukan Bougainville agar mandiri?
  • Rabu, 07 Februari 2018 — 09:42
  • 1209x views

Pasca referendum, apa yang dapat dilakukan Bougainville agar mandiri?

Namun, diperkirakan setelah beberapa saat, Bougainville akan memiliki sumber daya memadai untuk meningkatkan pendapatannya sendiri. Namun apabila kawasan ini terus mengandalkan Pemerintah PNG untuk bantuan, maka insentif untuk menciptakan otonomi mandiri akan lemah.
Sebuah bangunan terbengkalai di lokasi tambang Panguna di Bougainville - RNZI
Elisabeth Giay
Editor : Zely Ariane

PERHATIAN!!!

Penggunaan sebagian atau seluruh materi dalam portal berita ini tanpa seijin redaksi tabloidjubi.com akan dilaporkan kepada pihak berwenang sebagai tindakan pelanggaran terhadap Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang HAK CIPTA dan/atau UU RI Nomor 19 Tahun 2016 atas perubahan UU RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE)

Papua No. 1 News Portal | Jubi,

Jakarta, Jubi - Terlepas dari hasil referendum Bougainville yang rencananya akan dilakukan Juni 2019, pertanyaan mengenai apa yang bisa dilakukan di daerah otonom itu untuk membangun ekonomi yang dapat memenuhi kebutuhan daerah itu secara mandiri masih belum terjawab .

Walaupun isu Bougainville yang independen atau otonom adalah kepentingan orang Bougainville, isu ini juga menyangkut kepentingan orang Papua Nugini.

Dengan semakin berkembangnya tren desentralisasi fiskal yang diupayakan oleh pemerintah-pemerintah pusat, dalam sebuah studi awal Institut Riset Nasional bidang Otonomi Fiskal PNG yang dipresentasikan minggu lalu, Profesor Satish Chand dari Universitas New South Wales menjelaskan aspirasi serupa di provinsi-provinsi lain, selain National Capital District, mungkin dapat dijadikan referensi.

Seperti yang telah dibuktikan oleh konflik berdarah di Bougainville, anggapan bahwa daerah itu telah gagal mandiri secara fiskal sejak 2001 itu tidak adil, mengingat pada tahun itu perekonomian Bougainville telah  kurang lebih ambruk.

Kapasitas Bougainville untuk meningkatkan pendapatan sangat minimal karena kebanyakan pendapatan mereka disalurkan melalui hibah dari pemerintah nasional.

Namun, diperkirakan setelah beberapa saat, Bougainville akan memiliki sumber daya memadai untuk meningkatkan pendapatannya sendiri. Namun menurut Chand apabila kawasan ini terus mengandalkan Pemerintah PNG untuk bantuan, maka insentif untuk menciptakan otonomi mandiri akan lemah.

Apakah perpajakan solusi yang layak?

Chand menggunakan jumlah anggaran tahunan Bougainville tahun 2017 sebagai acuan anggaran senilai  K162 Juta (AS$ 50 juta) pada tahun 2017 untuk mengestimasikan K1 Miliar (AS $ 309 juta) plus PDB untuk wilayah ini.

“Jadi jika kita memiliki K1 Miliar dalam GDP dan kita ingin mendapatkan K160 Kuta (US$ 49,2 juta) itu cukup mudah, kita perlu memberlakukan pajak sebesar 16 persen. Kedengarannya mudah. Jika kita telusuri lebih dalam terlihat bahwa ini lebih rumit karena sebagian besar produksi tidak dipasarkan, hampir semuanya adalah subsisten. Di kampung-kampung, anda tidak pernah bisa membayar pajak.”

Kita juga tahu apabila pajak diperkenalkan dalam situasi ekonomi yang begitu rapuh maka aktivitas ini dapat dengan cepat berpindah dari pasar ke kampung-kampung. Jadi mereka menghilang.” kata Prof Chand.

Opsi pertambangan  

Solusi cepat yang dipikirkan banyak orang adalah pembukaan kembali tambang Panguna. Banyak yang percaya bahwa pertambangan skala besar akan menjadi solusi untuk semua kebutuhan pemasukan daerah. Keyakinan yang menurut Profesor Chand sebenarnya tidak dapat dicapai.

“Nah opsi ini tidak benar karena sekarang telah diberlakukan moratorium atas pertambangan dan bahkan prakiraan paling optimis untuk pembukaan kembali  BCL paling cepat adalah tahun 2025,”

“Menurut saya kita harus meninggalkan gagasan pertambangan berskala besar. Ketika saya mengatakan ini banyak pihak yang tidak senang namun ini adalah kenyataannya. Kemudian kalau kita melihat pertambangan skala kecil yang diperkiraan adalah industri yang sedang booming dan menghasilkan pendapatan antara K75 sampai K100 juta (AS $ 23 - AS $ 30 juta) per tahun.”  

“Saran untuk memberlakukan pajak atas industri pertambangan kecil-kecilan mengingat kapasitasnya yang terbatas adalah upaya yang tidak mudah. Seonggok emas dapat dimasukkan ke dalam kantong Anda dan dibawa melintasi perbatasan; memajak produk dari industri kecil seperti ini akan sulit.”

Menjual ijin penangkapan ikan

“Jalan keluar yang paling menjanjikan adalah pendapatan dari penjualan ijin penangkapan ikan di perairan Bougainville. Hasil dari kalkulasi badan perikanan nasional dan orang-orang di Bougainville menunjukkan bahwa penjualan ijin ini dapat menghasilkan hingga K100 juta (AS $ 30 juta),” kata Prof Chand.

“Ini adalah sumber pendapatan yang berkelanjutan, dan nilainya dapat mencakup sekitar 60 persen dari anggaran tahunan. Pada saat ini, sumber pemasukan ini sepertinya opsi paling menjanjikan dari semua sumber lainnya.”

Penandatanganan Nota kesepahaman yang lalu antara Badan Perikanan Nasional dan Pemerintah Otonom Bougainville akan membuka jalan bagi daerah tersebut untuk mengambil alih penanganan sektor perikanan yang menguntungkan tersebut.

Selain sektor perikanan, Chand juga tertarik dengan opsi pajak luas pada tanaman pertanian yang dibudidayakan secara luas di sektor pertanian seperti kakao.

“Salah satu langkah perpajakan yang saya dukung adalah pajak ekspor kakao setiap Kina ekspor. Langkah ini dilakukan untuk alasan yang sangat sederhana, saya tidak melihat  ini sebagai upaya meningkatkan pendapatan, namun ini  akan membawa pemerintah lebih dekat kepada rakyat.”

“Salah satu cara untuk mempersatukan rakyat adalah melalui pajak, karena jika mereka membayar pajak, mereka menginginkan layanan dari pemerintah."

“Di sisi petani bisa membayar pajak tapi kemudian sebagai gantinya mengharapkan layanan-layanan dasar dari Pemerintah untuk mendorong penumbuhan produksi kakao, jadi pemerintah dan rakyat akan membangun hubungan baik."

Profesor Chand mengatakan karena hanya ada empat eksportir utama tanaman dagang, ini akan sangat mudah untuk dikelola.

Tenaga kerja ahli dan terampil

Chand melihat pembangunan sumber daya manusia sebagai sarana untuk membangun tenaga kerja dengan keahlian khusus yang lebih kuat. Menyarankan penggunaan secara optimal atas  program Fasilitas Perburuhan Pasifik Australia sebagai solusi, Chand menyarankan penting bagi Bougainville untuk memiliki penduduk yang berkualifikasi dalam keahlian dan keterampilan khusus di wilayah kepulauan tersebut sebagai langkah efektif dalam mengelola secara mandiri urusan keuangannya sendiri.

Target waktu

Berapa lama waktu yang diperlukan Bougainville, apabila semua sistem telah terorganisir, sebelum mereka mampu memenuhi kebutuhan operasional?

“Dari satu sisi  jawaban atas pertanyaan ini sangat sederhana. Kita tahu berapa banyak anggaran yang diperlukan Bougainville untuk mempertahakan tingkat layanan saat ini.”

“Pertanyaan selanjutnya adalah seberapa cepat pertumbuhan ekonominya, dan dari pengalaman di tempat lain, pertumbuhan tercepat yang memungkinkan terhadap pertumbuhan yang telah kita alami sejauh ini. Jika pertumbuh ekonomi kita sangat cepat maka kita bisa mencapai target itu dalam satu dekade, tapi jika Anda sama sekali tidak bertumbuh, maka Anda tidak akan pernah sampai di sana.”

“Kita memerlukan perkembangan perpajakan. Itu berarti kita harus memiliki kebijakan dan sumber daya yang ditargetkan untuk menumbuhkan ekonomi.”(PINA)

 

loading...

Sebelumnya

Banjir laut akan serang Kepulauan Marshall

Selanjutnya

Kajian Buku: Kudeta, globalisasi dan perombakan struktur ‘demokrasi’ Fiji

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : [email protected]

Copyright © 2013. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe