Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide

  1. Home
  2. Infrastruktur
  3. Jalan Provinsi Bian-Okaba Kini jadi jalan Setapak
  • Kamis, 08 Februari 2018 — 06:32
  • 958x views

Jalan Provinsi Bian-Okaba Kini jadi jalan Setapak

Ruas jalan provinsi tersebut, seperti jalan menuju hutan atau berburu. Karena di samping kiri-kanan, ditumbuhi rumput tebal dan tinggi.
Jalan Bian-Okaba yang ditumbuhi rumput tebal, sehingga menjadi jalur setapak dan hanya bisa dilewati motor – Jubi/Frans L Kobun
Ans K
frans@tabloidjubi.com
Editor : Angela Flassy

Papua No. 1 News Portal | Jubi,

DENGAN menggunakan transportasi laut berupa perahu  motor  yang oleh masyarakat di Kampung Domande menyebutnya belang, perjalanan menuju ke Bian-Okaba ditempuh dalam waktu kurang lebih setengah jam.

Senin 5 Februari  2018 sekira pukul 14.00, perahu kecil itu berlabuh. Di tempat tersebut, telah menunggu Kepala Kampung Alatep, Distrik Okaba, Jeina Maula Gebze bersama beberapa warga.

Setelah beristirahat,  perjalanan kembali dilanjutkan menggunakan dua unit sepeda motor, sekaligus memantau secara langsung kondisi ruas jalan Bian-Okaba sepanjang 36 kilometer.

Jatuh-bangun di jalan. Itulah yang dialami dan dirasakan  pengendara. Betapa tidak, kondisi ruas jalan rusak parah, disertai lumpur tebal dan kubangan (genangan air).

Pengalaman Jubi melalui jalan dari Bian menuju Okaba, selain kondisi ruas jalan yang sangat memprihatinkan, rumput di  kiri-kanan sudah menutupi badan jalan. Belum lagi, pengendara motor harus benar-benar berkonsentrasi saat berkendara. Ruas jalan itu, telah menjadi jalan setapak. Padahal, belasan tahun silam, jalan provinsi tersebut beraspal.

Yustinus Boyen, seorang warga Kampung Alatep, Distrik Okaba menuturkan, sejak ia masih kecil sampai dewasa dan berkeluarga, jalan tersebut tak pernah diperbaiki.

“Dari cerita orangtua kami, dulunya jalan Bian sampai Okaba diaspal. Hanya saja, tidak ada perawatan sama sekali. Sehingga kondisinya menjadi rusak dan kini menjadi jalan setapak yang hanya dapat dilalui sepeda motor,” ungkapnya.

Ruas jalan tersebut, katanya, seperti jalan orang menuju hutan sekaligus berburu. Karena di samping kiri-kanan, ditumbuhi rumput tebal dan tinggi.

“Pemerintah terkesan menutup mata melihat kondisi ruas jalan yang rusak ini. Dari tahun berganti tahun, masyarakat terus berteriak agar dperbaiki dan kembali diaspal. Namun sampai sekarang, tak kunjung dilakukan,” katanya.

Kepala Kampung Alatep, Jeina Maula Gebze mengaku, ruas jalan Okaba itu adalah jalan sentral, karena  penghubung beberapa distrik lain seperti Tubang, Ngguti, Tabonji hingga Kimaam. Bahkan jalan itu merupakan penghubung ke Bade, Kabupaten Mappi.

“Memang sangat miris kondisi jalannya. Kita harus menembus jalan berlubang maupun berlumpur. Belum lagi rumput di samping kiri-kanan yang tebal dan tinggi,” tuturnya.

Dikatakan, jalan tersebut merupakan satu-satunya jalan jika menggunakan transportasi darat untuk menuju Okaba hingga beberapa distrik lain sampai Bade, Kabupaten Mappi, hanya melalui jalur jalan tersebut.

Karena buruknya kondisi jalan tersebut, lanjut dia, banyak orang yang melintas jatuh di jalan. Apalagi musim hujan seperti saat ini, kondisi jalan menjadi sangat rusak berat dari Bian hingga Okaba.

Dia mengaku, untuk menempuh perjalanan dengan motor dari Bian-Okaba pada musim hujan, biasanya antara tiga sampai empat jam. Kalau musim kemarau dan jalan kering, waktu perjalanan sekitar dua jam perjalanan.

“Tidak tahu dengan cara apa lagi kita bersuara. Selama ini, masyarakat juga terus bertanya-tanya kapan jalan diaspal,” katanya.

“Kami sangat berharap agar baik Pemerintah Kabupaten Merauke maupun provinsi hingga pusat, dapat merespon apa yang disuarakan masyarakat ini,” pintanya lagi.

Sulit pasarkan potensi alam

Kepala Distrik Okaba, Fransiskus Kamijay menjelaskan, jalan Bian-Okaba adalah penghubung untuk beberapa distrik lain. Hanya saja, kondisinya sangat buruk. “Ya, teman-teman jurnalis sudah merasakan bagaimana sulitnya menembus ruas jalan puluhan kilometer yang telah rusak itu,” ujarnya.

Lebih lanjut Kamijay mengatakan, ruas jalan tersebut, hanya dapat dilalui kendaraan roda dua, karena empat jembatan, terbuat dari papan dan merupakan swadaya masyarakat dari beberapa kampung tersebut tidak dapat dilalui kendaraan beroda dua.

“Kondisi ruas jalan dimaksud, sudah lama rusak dan tak kunjung dikerjakan provinsi. Hampir setiap hari, masyarakat menanyakan kapan jalan diperbaiki. Tentunya saya  hanya bisa meminta warga bersabar,” katanya.

Kamijau mengaku, beberapa waktu lalu, atas perintah Bupati Merauke, Frederikus Gebze, masyarakat melakukan pembersihan ruas jalan sekitar tiga kilometer. Namun sebagian besar belum. Karena jarak dari Bian-Okaba, mencapai kurang lebih 36 kilometer.

“Betul, dulunya ruas jalan itu telah diaspal, namun sudah rusak. Belum lagi rumput tumbuh, sehingga kini menjadi jalan setapak yang hanya bisa dilalui kendaraan roda dua,” tegasnya.

Kamijay menjelaskan, masyarakat dari semua kampung di Distrik Okaba, berniat turun ke kota untuk bisa menjual hasil alamnya baik kopra maupun tanaman lain termasuk daging. Tetapi kondisi jalan tidak memungkinkan.

“Saya memberikan jaminan ketika jalan sudah diaspal, setiap hari masyarakat akan turun ke kota menjual hasilnya yang dipanen,” tuturnya.

Berbagai keluhan dan aspirasi yang disuarakan masyarakat selama ini, pintanya, agar dapat direspon  pemerintah provinsi.  Sehingga akses transportasi darat, dapat dijangkau berbagai kalangan.

Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Merauke, Fransiskus Sirfefa menegaskan, dirinya sudah melihat secara langsung kondisi jalan Bian-Okaba. “Memang sangat memprihatinkan, lantaran mengalami kerusakan. Belum lagi kubangan di tengah jalan, akibat genangan banjir,” katanya.

Setelah melihat kondisi jalan itu, Sirfefa mengaku sudah berkomunikasi bersama Kepala Dinas Pekerjaan Umum (PU) Kabupaten Merauke, HBL Tobong. Hanya saja, jawaban didapatkan kalau itu adalah jalan provinsi.

“Saya mau tanya, sampai kapan pemerintah membuka mata sekaligus merespon keluhan masyarakat? Apakah hanya menunggu petunjuk provinsi?” tanya dia.

Diharapkan Pemkab Merauke mengambil langkah cepat. “Sebagai dewan, saya tak akan pernah tinggal diam, tetapi  terus menyuarakan aspirasi masyarakat ini,” katanya. (*)

loading...

Sebelumnya

Sabotase pipa, air galon dan tunggakan 1 miliar di RSUD Jayapura

Selanjutnya

Tiga jembatan gantung akan dibangun di Asmat

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga

Populer
Berita Papua |— Sabtu, 17 Februari 2018 WP | 4174x views
Anim Ha |— Sabtu, 10 Februari 2018 WP | 2706x views
Penkes |— Senin, 12 Februari 2018 WP | 2586x views
Terkini

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : redaksionline@tabloidjubi.com

Copyright © 2013. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe