Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide

  1. Home
  2. Penkes
  3. Ketika obat malaria habis di Yahukimo
  • Kamis, 08 Februari 2018 — 09:54
  • 903x views

Ketika obat malaria habis di Yahukimo

“Kami kecewa terhadap rumah sakit dan juga pemerintah, karena banyak yang sakit malaria tetapi tidak dikasih obat, heran dalam waktu bersamaan stok obat bisa habis, bahkan di apotek juga,” katanya
Pasien sedang berobat di Puskesmas Dekai, ibukota Kabupaten Yahukimo – Jubi/ Piter Lokon.
Piter Lokon
Editor : Syofiardi
LipSus
Features |
Jumat, 22 Juni 2018 | 21:50 WP
Features |
Jumat, 22 Juni 2018 | 16:20 WP
Features |
Kamis, 21 Juni 2018 | 17:48 WP

PERHATIAN!!!

Penggunaan sebagian atau seluruh materi dalam portal berita ini tanpa seijin redaksi tabloidjubi.com akan dilaporkan kepada pihak berwenang sebagai tindakan pelanggaran terhadap Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang HAK CIPTA dan/atau UU RI Nomor 19 Tahun 2016 atas perubahan UU RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE)

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Yahukimo, Jubi - Lebih dua minggu obat malaria DHP habis di Dekai, Yahukimo. Keluarga pasien, rumah sakit, dan puskesmas kebingungan. Ini pertama kali terjadi di kabupaten yang angka penderita malaria termasuk tinggi di Papua.

Tomi Sub kebingungan. Keluarganya, Petius Wakla, 25 tahun, sudah seminggu sakit. Ketika dibawa ke dokter praktek dan diperiksa darahnya ternyata menderita malaria Tropika plus (+).

Dokter memberinya resep, namun setelah mencari obat ke empat apotek di Yahukimo, ternyata obat sedang habis.

“Akhirnya saya bawa ia ke RSUD Dekai, tetapi di sana obat juga habis, saya bawa ke Apotek Derial habis juga, ternyata semua apotek di Yahukmo kehabisan obat malaria,” katanya kepada Jubi di Dekai, Sabtu, 3 Februari 2018.

Ia kembali membawa Petius ke UGD RSUD Yahumo. Di sana Petius terpaksa dipasang infus.

“Kami kecewa terhadap rumah sakit dan juga pemerintah, karena banyak yang sakit malaria tetapi tidak dikasih obat, heran dalam waktu bersamaan stok obat bisa habis, bahkan di apotek juga,” katanya

Kehabisan obat juga diceritakan Pendeta Geradus Heluka. Istrinya sakit, pada 23 Januari lalu ia membawanya ke tempat praktek Dokter Rahel untuk cek darah. Di sana ia melihat beberapa pasien sakit malaria.

“Obat di situ tidak ada, jadi kami cari obat di apotek kota Dekai, di semua apotek ternyata obat malaria habis, baik kina maupun DHP, itu tidak ada, lalu kami pergi ke UGD RSUD Dekai dengan membawa resep dokter, tapi sampai di sana dokter juga bilang obat habis,” ceritanya kepada Jubi di Dekai, Sabtu, 3 Februari 2018.

Pendeta Geradus menanyakan kenapa obat malaria tidak ada. Dokter menjelaskan persediaan hanya untuk pencegahan malaria musim ini. Obat tambahan belum masuk dari Dinas Kesehatan karena di gudang dinas stok juga habis.

“Dalam waktu bersaman habis di RSUD dan apotek, jadi ini sangat mencurigakan, apalagi banyak pasien malaria di rumah sakit,” katanya.

Pendeta Geradus kesal dengan kejadian tersebut, karena habisnya persediaan obat di sebuah kabupaten berkaitan dengan nyawa manusia.

“Jika masyarakat meninggal siapa yang tanggung? Orang dinas, rumah sakit, atau pemerintah,” katanya. “Harapan saya pasien malaria ini harus bisa ditangani cepat dan rumah sakit harus punya obat, jangan sampai pasien tidak diobati berjam-jam dan jangan sampai tidak bisa tertolong,” katanya.

Kepala Sub Bagian Tata Usaha RSUD Dekai Aser Sobolim mengatakan, obat malaria DHP (Dihydroartemisinin piperaquine) habis sejak Desember 2017. Namun sudah ada kembali Senin, 29 Januari 2018.

“Obat habis karena banyaknya pasien yang sakit malaria dari Desember 2017 hingga Januari 2018, hal seperti ini sebelumnya tak pernah terjadi, ini pertama kali,” katanya kepada Jubi, Kamis, 1 Februari 2018.

Obat malaria lainnya seperti Kina aman. Hanya saja, kata Aser, kebanyakan pasien tidak suka Kina karena tingkat kesembuhannya 5 hingga 6 hari dan telinga juga menjadi tuli berapa hari. Karena itu kebanyakan pasien suka dengan DHP karena kesembuhannya cepat dengan tidak ada efek seperti telinga tuli.

“Karena itu setelah DHP habis, pasien kami beri Kina dan infus,” ujarnya.

Stok obat di RSUD Dekai, jelasnya, berasal dari Dinas Kesehatan Kabupaten Yahukimo sesuai permintaan atau kebutuhan.

“Saya berharap tidak terulang lagi kekosongan stok, ke depan obat selalu tersedia supaya bisa memberikan pelayanan kepada masyarakat saya di Yahukimo,” katanya.

Meski mengaku belum memiliki data 2017, Aser mengatakan, angka pasien malaria di Yahukimo selalu tertinggi setiap tahun. Penderita berasal dari kampung-kampung.

Kehabisan obat malaria juga terjadi di Puskesmas Dekai. Dokter yang bertugas di sana, dr. Jois Polis mengatakan, tak hanya DHP bahkan juga Kina kosong sejak 15 Januari 2018 dan baru ada 1 Februari 2018. Kehabisan obat terjadi karena ketika diminta ke Dinas Kesehatan ternyata di gudang sedang kosong.

“Ini baru pertama kali terjadi di Puskesmas Dekai, kami di sini dalam sehari pasien bisa lebih 100 yang diperiksa darahnya dan 20 hingga 30 orang didiagnosa terkena malaria, artinya setahun pasien malaria di Puskesmas Dekai yang melayani Distrik Dekai bisa 4.240 orang, jadi kami membutuhkan obat yang banyak,” ujarnya.

Ketika Jubi mengkonfirmasi ke Gudang Farmasi Dinas Kesehatan Kabupaten Yahukimo, staf di sana bernama Ari Chiristianto Sumilang membantah stok obat habis.

“Siapa yang bilang obat habis? Orangnya siapa? Informasi yang tidak benar itu, gudang dekat dengan Rumah Sakit Umum Dekai, jadi mereka biasanya obat habis datang minta maka kami kasih, jadi obat tidak ada kekosongan, di Apotek tersedia obatnya, jadi jangan informasi yang salah, makanya jangan langsung dari pimpinan, tetapi tanya di Apotek dulu, pemimpin rumah sakit itu siapa? Info yang tidak benar itu,” katanya dengan suara keras.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Yahukimo, Yando mengaku belum tahu kalau obat malaria habis di RSUD Dekai karena belum ada laporan kepadanya.

“Kalau obatnya habis kami biasanya minta ke Dinas Kesehatan Provinsi Papua sesuai obat yang habis, hanya kadang kita mengalami kesulitan dengan penerbangan,” jelasnya kepada Jubi, Jumat 2 Februari 2018.

Ia mengatakan, biasanya selalu ada persediaan 8.000 tablet obat malaria di Gudang Farmasi dan sebelum habis langsung dipesan ke Dinas Kesehatan Provinsi Papua. Sebagai antisipasi dinas juga menyiapkan 5.000 kelambu yang akan dibagikan ke masyarakat yang membutuhkan dan mengimbau masyarakat membersihkan halaman. (*)

loading...

Sebelumnya

Di SD YPK Alatep, satu guru mengajar enam kelas

Selanjutnya

Himpunan Mahasiswa Lanny Jaya: Dinas Pendidikan jangan hanya janji saja

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : [email protected]

Copyright © 2013. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe
wso shell IndoXploit shell wso shell hacklink hacklink satış hacklink wso shell evden eve nakliyat istanbul nakliyat evden eve nakliyat istanbul evden eve nakliyat evden eve nakliyat istanbul nakliyat