Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide

  1. Home
  2. Pasifik
  3. Kajian Buku: Kudeta, globalisasi dan perombakan struktur ‘demokrasi’ Fiji
  • Kamis, 08 Februari 2018 — 10:42
  • 851x views

Kajian Buku: Kudeta, globalisasi dan perombakan struktur ‘demokrasi’ Fiji

Namun, walaupun terlihat dari luar sebagai sesuatu yang dangkal, kudeta Bainimarama tahun 2006 memiliki perbedaan yang signifikan dengan para pendahulunya.
Perdana Menteri Fiji Voreqe Bainimarama membawa Fiji lebih dekat kepada model standar demokrasi liberal namun tetap tidak toleran terhadap kritik dan media - Asia Pacific Report/ Kartun: ©Malcolm Evans/Jurnalisme Pasifik Review
Elisabeth Giay
Editor : Zely Ariane
LipSus
Features |
Kamis, 20 September 2018 | 09:41 WP
Features |
Rabu, 19 September 2018 | 16:08 WP
Features |
Selasa, 18 September 2018 | 07:24 WP
Features |
Senin, 17 September 2018 | 19:13 WP

PERHATIAN!!!

Penggunaan sebagian atau seluruh materi dalam portal berita ini tanpa seijin redaksi tabloidjubi.com akan dilaporkan kepada pihak berwenang sebagai tindakan pelanggaran terhadap Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang HAK CIPTA dan/atau UU RI Nomor 19 Tahun 2016 atas perubahan UU RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE)

Papua No. 1 News Portal | Jubi,

Suva, Jubi - Ketika Laksamana Voreqe Bainimarama melakukan kudeta keempat di Fiji, “kudeta yang mengakhiri semua kudeta”, pada tanggal 5 Desember 2006, kudeta itu disalahpahami and disalahartikan oleh banyak politisi, pejabat urusan luar negeri, jurnalis, dan bahkan beberapa pakar sejarah.

Berbagai macam suara yang terus-menerus memperdebatkan restorasi “demokrasi” Fiji—bukan  versi demokrasi cacat yang telah bertahan dalam berbagai bentuk sejak kemerdekaan  negara itu dari penjajahan Inggris pada tahun 1970, namun secara khusus pemerintahan bankir Laisenia Qarase yang tidak sah dan tidak konstitusional menyusul kudeta  (percobaan) ketiga pada tahun 2000.

Namun, walaupun terlihat dari luar sebagai sesuatu yang dangkal, kudeta Bainimarama tahun 2006 memiliki perbedaan yang signifikan dengan para pendahulunya.

Bainimarama berusaha menghindari kesalahan Sitiveni Rabuka setelah dia melakukan kedua kudeta pertama di Fiji pada tahun 1987 sambil mempertahankan struktur kekuasaan yang sama.

Sebaliknya, menurut sejarawan asal Selandia Baru Robbie Robertson yang menetap di Fiji selama bertahun-tahun, Bainimarama perlahan-lahan mengubah berbagai unsur Fiji.

Namun bukan itu saja.

Bainimarama juga menyusun kembali peraturan pemilihan, menghapus komunalisme untuk menghilangkan hak istimewa dari elit lama, dan membangun fondasi pemilihan non-komunal pertama untuk pemungutan suara di Fiji.

Kemenangan telak

Kemudian dia terpilih sebagai Perdana Menteri resmi Fiji dengan memenangkan suara mayoritas dan menang telak pada bulan September 2014 dengan Partai Fiji First yang barudibentuknya. Kemenangannya membuat para pengritiknya di Australia dan Selandia Baru tercengang.

Robertson berkualifikasi menulis buku yang tepat waktu jelang pemilihan nasional ini, The General's Goose:  Fiji’s Tale of Contemporary Misadventure, dimana Bainimarama akan kembali diuji tahun ini dengan satu pemilihan lain. Robertson adalah mantan dosen sejarah di Universitas regional Pasifik Selatan yang berbasis di Suva pada masa kudeta awal Rabuka (ketika saya pertama kali bertemu dengannya).

Robertson telah mempublikasikan banyak tulisan tentang globalisasi. Oleh karena itu ia mampu menghadirkan perspektif unik tentang Fiji selama tiga dekade dalam buku ini.

Sejak 2006, Fiji telah semakin menjauh dari pengaruh Australia dan Selandia Baru, sebagaimana diungkap oleh Robertson. Namun, situasi ini adalah akibat Bainimarama menyalahkan Canberra dan Wellington atas kebijakan mereka yang gagal dan buta.

Bahkan sejak Pemilu 2014, Bainimarama telah mempertahankan “garis keras” dalam politik Pasifik melalui alternatif Pacific  Islands Development Forum (PIDF) dibandingkanPacific Islands Forum (PIF), dan dalam kesepakatan dagang Pacific Agreement on Closer Economic Relations (PACER) Plus.

Australia dan Selandia Baru mengabaikan Fiji

Saat menghadiri sebuah konferensi internasional di Brisbane tahun 2015, Bainimarama mengambil kesempatan mengingatkan pendengarnya bahwa Australia dan Selandia Baru “teman-teman lama yang telah mengabaikan Fiji”.

Untuk pertama kalinya dalam sejarah Fiji, Bainimarama mengarahkan negara ini lebih dekat kepada model “standar demokrasi liberal” dan jauh dari warisan kolonial Inggris dan berbasis ras.

Robertson mengakui bahwa, seperti Ratu Sir Kamisese Mara (Perdana Menteri Fiji pada saat kemerdekaan dan kemudian menjabat presiden), Rabuka dan Qarase, “Bainimarama memiliki kroni dan militer terus mendapatkan keuntungan yang berlebihan dari kekuasaannya”.

Meskipun demikian, “pencapaian kontroversial Bainimarama yang luar biasa tidak diragukan lagi sejak dia me-reboot kembali sistem operasi Fiji pada tahun 2013”.

Karya akademis Robertson ini disusun dengan penuh ketelitian dan menyadur berbagai sumber yang mengesankan, termasuk karyanya sendiri selama lebih dari tiga dekade.

Salah satu fitur dari buku terbarunya ini adalah analisis terhadap mantan Pejabat SAS Inggris Lisoni Ligairi dan peran Skuadron Meridian Pertama, dan “wajah publik” dari Kudeta ke-3, pengusaha George Speight yang sekarang menjalani hukuman seumur hidup karena pengkhianatan terhadap negara atau makar.

Buku ini terbagi dalam empat bab panjang ditambah sebuah Pengantar dan Kesimpulan.

Pada Bab 1 memuat tantangan dalam menaklukan warisan kolonial yang cacat; bab 2 terkait perubahan besar pada kudeta Rabuka tahun 1987 dan konstitusi supremasi adat Taukei; bab 3 mengambil topik Redux: Musim untuk Kudeta tentang Kudeta 2000 yang direncanakan oleh Speight (dan berhasil sebagiannya); dan Bab 4 tentang Plus ça Change ...? tentang Bainimarama  me-”reset” politik.

Keberhasilan Bainimarama dalam mengungguli kritiknya dari Pasifik mungkin paling terlihat oleh keberhasilan diplomatiknya dalam menyelenggarakan konferensi puncak perubahan iklim global “Pasifik” di Bonn pada tahun 2017.

Satu kelemahan dari perspektif jurnalisme  Robertson adalah kurangnya penilaian peran media selama periode tersebut, mengingat berbagai kontroversi yang beredar di setiap kudeta, terutama kontroversi Speight ketika dia menuduh beberapa wartawan karena terlalu dekat dengan pihak dibelakang kudeta.

Terlepas dari kritik saya terhadap keterbatasan konten media, The General's Goose adalah buku yang bagus dan harus menjadi bacaan wajib bagi jurnalis yang meliput urusan Pasifik Selatan, terutama yang mungkin akan terlibat dalam liputan pemilihan umum tahun ini di Fiji. (Asia Pacific Report)

*Kajian buku ditulis oleh Dr. David Robbie, profesor jurnalisme dan direktur Pusat Media Pasifik Universitas AUT.

Buku ini dapat diunduh di sini.

loading...

Sebelumnya

Pasca referendum, apa yang dapat dilakukan Bougainville agar mandiri?

Selanjutnya

Dua negara Pasifik ini belum sepenuhnya “bebas”

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga

Populer
Polhukam |— Kamis, 13 September 2018 WP | 32926x views
Polhukam |— Kamis, 13 September 2018 WP | 8971x views
Polhukam |— Kamis, 13 September 2018 WP | 6478x views
Polhukam |— Jumat, 21 September 2018 WP | 5925x views
Koran Jubi |— Senin, 17 September 2018 WP | 5634x views

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : [email protected]

Copyright © 2013. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe