Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide

  1. Home
  2. Ekonomi
  3. Usaha perahu penumpang di Danau Sentani
  • Senin, 12 Februari 2018 — 07:05
  • 2727x views

Usaha perahu penumpang di Danau Sentani

Sebuah speed boat atau perahu penumpang melayani penduduk di Dermaga Yahim, Danau Sentani. Pemilik dan operatornya warga setempat. Seperti apa usaha mereka?
Operator speed boat melayani penumpang di Dermaga Yahim, Danau Sentani tujuan Kampung Simporo - Jubi/Yance Wenda
Yance Wenda
Editor : Syofiardi
LipSus
Features |
Rabu, 19 September 2018 | 16:08 WP
Features |
Selasa, 18 September 2018 | 07:24 WP
Features |
Senin, 17 September 2018 | 19:13 WP
Features |
Senin, 17 September 2018 | 18:26 WP

PERHATIAN!!!

Penggunaan sebagian atau seluruh materi dalam portal berita ini tanpa seijin redaksi tabloidjubi.com akan dilaporkan kepada pihak berwenang sebagai tindakan pelanggaran terhadap Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang HAK CIPTA dan/atau UU RI Nomor 19 Tahun 2016 atas perubahan UU RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE)

Papua No. 1 News Portal | Jubi,

Danau Sentani adalah panorama keindahan Kabupaten Jayapura. Dengan air yang biru, tenang, serta pinggirnya dipagari hutan-hutan sagu dan bukit-bukit kecil membuat mata sejuk memandang.

Karena Danau Sentani cukup luas, kampung-kampung yang terletak terpisah-pisah di pinggirnya membuat penduduknya membutuhkan angkutan laut untuk bergerak dari satu kampung ke kampung lainnya.

Kondisi ini memuculkan usaha speed boat bagi penduduk setempat, seperti di Dermaga Yahim. Speed boat melayani antar-jemput pelajar dan warga lainnya menuju ke jantung Kota Sentani untuk menuntut ilmu, bekerja, dan berbelanja.

Salah seorang pemilik speed boat adalah Roy Repasi, 28 tahun. Pemuda asal Serui ini sudah enam bulan langsung menjadi operator speed boat miliknya di Dermaga Yahim. Meski speed boat-nya sudah berusia 10 tahun, namun itulah tempatnya menggantungkan hidup sekeluarga.

“Harga speed boat ini saya beli Rp45 juta, belum termasuk mesinnya, sedangkan harga mesinnya satu sekitar Rp40 juta hingga Rp42 juta,” katanya kepada Jubi.

Menurut Roy, setiap kampung di pinggir danau memiliki transportasi masing-masing. Sedangkan speed boat yang mangkal di Dermaga Yahim memiliki trayek ke Putali dengan tarif Rp5.000 sekali antar, Yoboi Rp7.500, Abar dan Kampung Simporo Rp10.000. Trayek Roy ke Kampung Simporo.

Meski pendapatan tergantung banyaknya penumpang, namun menurut Roy usaha angkutan speed boat cukup lumayan. Bahkan jika kerja penuh dalam setahun modal bisa kembali.

“Sehari saya bisa dapat lebih Rp300 ribu atau seminggu lebih Rp3 juta,” kata Roy saat menunggu penumpang.

Setiap hari operator speed boat ini bersabar menunggu penumpang yang datang satu persatu. Namun mereka selalu memberikan layanan terbaik agar penumpang merasa nyaman.

Namun setiap Sabtu dan Senin penumpang selalu ramai karena Sabtu mulai libur dan orang-orang kampung pulang dari kota, juga untuk beribadah. Sedangkan Senin mereka kembali ke kota. Di atas tanggal 20 Desember setiap tahun penumpang juga akan ramai.

Pada saat ramai jumlah penumpang tetap dibatasi demi keselamatan di perjalanan.

“Maksimal penumpangnya 12 orang, tapi kalau masih mau naik bisa 16 atau 18 penumpang, kalau speed boat yang lebih besar bisa 20 orang,” katanya.

Kendala yang kadang dihadapi Roy adalah jika mesin mati di tengah Danau. Selain itu juga hujan yang membuat perahu tak beratap ini terpaksa diistirahatkan.

“Persoalan lain adalah tidak adanya BBM khusus untuk kami, setelah bahan bakar bensin berkurang, kami menggunakan Pertalite, namun ini tidak tahan lama dibanding bensin, sudah hampir empat bulan ini premium susah,” ujarnya.

Menurutnya, Pertalite kurang cocok untuk mesin speed boat yang menyebabkan mesin tidak stabil dan kurang awet. Karena itu pemerintah mesti kembali mempermudah mendapatkan bensin.

Operator lain, Then Jhon Doyapo, 34 tahun, mengaku sudah dua tahun mengelola speed boat milik pemerintah kampung yang dibeli dengan Anggaran Dana Kampung (ADK). Rutenya Simporo-Yahim.

Speed ini untuk antar-jemput anak-anak sekolah dari Kampung Simporo, setelah antar mereka pagi, sambil menunggu saya mencari uang bensin dengan melayani penumpang umum, kami juga baku bagi waktu mengangkut anak sekolah dengan Roy, kalau Senin saya dan Selasa Roy,” katanya.

Ongkos untuk masing-masing pelajar Rp5 ribu. Namun jika ada pelajar yang tidak memiliki uang juga dibawa demi pendidikan mereka. Agar anak-anak tidak terlambat ke sekolah sekali angkut bisa 30 anak.

Menurut Jhon, setiap hari ia bisa mendapatkan Rp200 ribu atau sebulan Rp3 juta hingga Rp4 juta. Itu didapatkan dengan sehari melayani anak sekolah tiga trip dan sisanya melayani masyarakat umum.

“Penghasilan sehari Rp200 ribu tersebut setengahnya untuk membeli bensin dan sisanya saya simpan,” ujarnya.

Jhon mengatakan armada dari Kampung Simporo ke Dermaga Yahim sudah cukup banyak, yaitu lima unit. Di kampung tetangganya juga ada enam unit. Kesebelas speed boat ini dioperasikan bergantian.

Hanya saja, katanya, yang kurang adalah trasnportasi darat dari dermaga ke sekolah anak-anak yang menyebabkan mereka sering terlambat. Ia berharap pemerintah membantu menyediakan bus.

“Apalagi mereka ada yang sekolahnya jauh-jauh seperti ke Kehiran, Kemiri, dan dalam kota, karena ongkos terbatas mereka berjalan kaki,” katanya.

Problem bagi Jhon mengelola speed boat adalah jika mesin rusak yang menyebabkan ia harus menanggung sendiri biayanya.

Marthina, siswi SMP YPPGI Sentani yang sehari-hari menggunakan jasa speed boat ke sekolah menceritakan bagaimana ia harus berjuang bangun pagi-pagi agar tidak terlambat sampai ke sekolah.

“Biasanya kalau uang terbatas itu kan kita ramai-ramai jalan kaki dari dermaga sini ke sekolah, jadi kita bangun subuh baru siap-siap tunggu kapal lewat kita datang ke sekolah, tapi juga kadang saya tinggal karena tidak ada uang untuk bayar kapal,” ucapnya.

Mama Dolly, warga yang tinggal di seberang Danau Sentani mengatakan kapal motor satu-satunya transportasi yang digunakan masyarakat untuk ke seberang.

“Kami datang ke kota belanja apa yang menjadi kebutuhan di rumah, baru kami balik, speed ini kalau Mama mau pakai itu Rp100 ribu, tapi kalau mau tunggu penumpang seperti biasa itu murah saja,” ujarnya. (*)

loading...

Sebelumnya

Pertumbuhan ekonomi Papua melambat

Selanjutnya

Nasib pangan lokal Papua di tangan Pemerintah

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga

Populer

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : [email protected]

Copyright © 2013. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe