Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide

  1. Home
  2. Mamta
  3. Bantu renovasi gereja dengan tarian tradisional
  • Senin, 12 Februari 2018 — 07:45
  • 1708x views

Bantu renovasi gereja dengan tarian tradisional

Untuk menggalang dana renovasi pembangunan Gereja Katolik St. Agustinus Entrop, Kerukunan Keluarga Besar Manggarai di Jayapura dan Keerom, Papua menggelar tarian tradisional caci, Minggu siang (11/2/2018). Ketua Tungku Manggarai Jayapura, Ignasius Hasim, mengatakan caci tidak hanya untuk mempererat persaudaraan, tapi juga ungkapan syukur kepada Tuhan.
Para pemain caci Manggarai dalam laga caci di depan Gereja Katolik St. Agustinus Entrop, Kota Jayapura – Jubi/Timo Marten
Timoteus Marten
Editor : Dewi Wulandari
LipSus
Features |
Rabu, 19 September 2018 | 16:08 WP
Features |
Selasa, 18 September 2018 | 07:24 WP
Features |
Senin, 17 September 2018 | 19:13 WP
Features |
Senin, 17 September 2018 | 18:26 WP

PERHATIAN!!!

Penggunaan sebagian atau seluruh materi dalam portal berita ini tanpa seijin redaksi tabloidjubi.com akan dilaporkan kepada pihak berwenang sebagai tindakan pelanggaran terhadap Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang HAK CIPTA dan/atau UU RI Nomor 19 Tahun 2016 atas perubahan UU RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE)

Papua No. 1 News Portal | Jubi,

Jayapura, Jubi – Untuk menggalang dana renovasi pembangunan Gereja Katolik St. Agustinus Entrop, Kerukunan Keluarga Besar Manggarai di Jayapura dan Keerom, Papua menggelar tarian tradisional caci, Minggu siang (11/2/2018).

Ketua Tungku Manggarai Jayapura, Ignasius Hasim, mengatakan caci tidak hanya untuk mempererat persaudaraan, tapi juga ungkapan syukur kepada Tuhan.

“Karena kita sadar betul bahwa apa yang kita punya bersumber dari Allah. Kemana orang Manggarai pergi pasti di sana gereja itu hidup," katanya.

Ia berharap orang-orang Manggarai berpartisipasi membangun gereja, tidak sebatas kata-kata, tetapi juga dibuktikan dengan aksi. Hingga tengah hari bahkan dana terkumpul sekira Rp 18 juta dari aksi spontanitas umat yang menonton caci.

“Tanggal 18 Februari puncaknya. Saat itu orang Manggarai harus menjadi dasar peletakan pembangunan Gereja Entrop. Hari ini kita tunjukkan bahwa kita ada dan berguna bagi Tuhan dan pembangunan Gereja Entrop,” lanjut alumnus STFT Fajar Timur Abepura ini.

Caci digelar empat kali sebelumnya sejak lima tahun terakhir di Jayapura dan Keerom. Tahun 2013, tarian ini dipentaskan untuk memeriahkan tahbisan imam baru di Arso, Keerom. Namun, sebulan sebelumnya, pemain caci diseleksi sehingga tampil maksimal saat penahbisan.

Pada Sabtu (9/1/2016) digelar misa natal, dilanjutkan pentas caci, Minggu (10/1/2016) di halaman Gereja Entrop.

Akhir Januari 2016, caci dipentaskan di lagi di halaman Gereja Paroki Santu Petrus dan Paulus Argapura. Saat yang sama juga digelar tarian tradisional dari beberapa suku untuk memeriahkan peresmian gereja ini.

Kemudian caci dipentaskan pada pelantikan Ketua Tungku Manggarai Ignasius Hasim, Minggu (25/9/2016) di SMA Yayasan Pendidikan dan Persekolahan Katolik (YPPK) Taruna Bhakti, Distrik Heram, yang sebelumnya dilakukan misa inkulturasi.

Menurut asal katanya, caci merupakan gabungan kata bahasa Manggarai, yaitu ca (satu) dan ci (uji). Caci adalah pertandingan (uji ketangkasan) satu lawan satu.

Tarian ini dimainkan oleh pria dewasa bertelanjang dada, yang mengenakan atribut adat, seperti kain tenun (songke), selendang, celana putih, destar (pengikat kepala), panggal (penutup kepala menyerupai tanduk kerbau, yang terbuat dari kulit kerbau dan rumbai bulu kuda), ndeki (ikatan rotan menyerupai huruf “S” dan dipasang rumbai bulu kuda) di bagian belakang dan nggorong (giring-giring), serta tubi rapa (semacam janggut) atau manik-manik pada bagian dagu.

Pemain caci bergantian memukul (paki) dan menangkis (ta'ang). Pemukul menggunakan pecut (lempa) yang terbuat dari kulit kerbau yang dikeringkan. Sedangkan penangkis melindungi diri dengan tameng (nggiling) yang terbuat dari kulit kerbau yang dikeringkan, dan perisai (koret/agang) - ikatan rotan berbentuk setengah lingkaran.

Bila mengenai daerah kepala, bahkan meninggal dunia, hal itu disebut beke dan oknum bersangkutan dinyatakan kalah, dan karena itu ia harus keluar dari arena laga (natas).

Selama tarian caci, pemain caci menari, memukul, dan menangkis. Sesudahnya, penangkis ditemani pemukul dan pemain caci lainnya, melanjutkannya dengan paci (perkenalan identitas diri—seperti kokokan saat sabung ayam) dan nyanyian, serta syair-syair tentang peri kehidupan.

Penari caci juga mengikuti irama pukulan gong dan gendang yang ditabuh ibu-ibu di sudut arena. Sementara di sudut lainnya, sekelompok pria dari dua belah kubu menyanyikan lagu-lagu, syair, dan ungkapan (nasihat) sebagai penyemangat.

Salah satu pemain caci, Kristianus, menyebutkan caci bukan semata-mata uji ketangkasan, tetapi juga aspek seni (seni suara dan seni gerak), dan “seni memukul dan menangkis”.

“Para petarung juga harus berani, jujur, dan tidak menyimpan dendam meski berdarah-darah hingga meninggal dunia,” kata Kristian.

Associate Professor bidang Sosiologi di National University of Singapura, Maribeth Erb—yang bertahun-tahun meneliti tentang pariwisata, sejarah dan ritual Manggarai—dalam artikelnya “Darah, Keringat dan Air Mata Manggarai” pada Nathional Geographic Indonesia, Desember 2008, menulis, caci adalah komunikasi antara Tuhan dan umat manusia.

Tuhan menguji para pemain satu lawan satu, apakah mereka bersalah atau tidak. Salah satunya adalah cambuk, simbol petir. Kilat adalah penghakiman dari Tuhan, tetapi juga menghubungkan langit dan bumi.

Caci adalah simbol Tuhan, kesatuan ibu pertiwi dan bapak langit. Perisai di tangan kanan adalah lambang rahim, ibu pertiwi. Tongkat anyam di tangan kiri adalah lambang langit. Pecutan adalah kilat yang menghubungkan keduanya.

“Permainan cambuk ini adalah hiburan besar bagi hampir semua lelaki Manggarai meskipun tidak semua ikut bermain. Ini dipandang sebagai cara membuktikan keperkasaan, dan keberanian, kejantanan seksual, dan daya tarik bagi perempuan. Kini caci sebagai simbol persaudaraan dan sportifitas orang Manggarai,” tulisnya.

Sejak tahun 1970-an, lanjutnya, caci memainkan peran yang makin penting sebagai lambang seni dan budaya Manggarai, bagi orang Manggarai dan orang di luar Manggarai.

Warga Manggarai di Jayapura, Laurensius Duhu, mengatakan tarian caci biasanya dipentaskan pada beberapa peristiwa penting.

“Misalnya saat upacara syukur panen di akhir tahun (penti), pembayaran belis atau maskawin (wagal), tahbisan imam baru, dan pesta adat lainnya,” katanya.

Menurut tradisi leluhur, caci dilakukan sehari penuh atau lebih, yang dimulai dengan renggas (semacam penyemangat) dan ba leso (secara harafiah: menyertakan matahari) saat matahari terbit, dan diakhiri saat matahari terbenam yang disebut rege.

Kini tarian caci ditetapkan menjadi salah satu dari lima warisan budaya nasional dan dunia. Lima warisan budaya leluhur Manggarai, yang dijadikan warisan budaya nasional dan dunia, seperti ditulis Kompas (11/9/2016), yaitu, tarian caci, penti, lodok (sistem pembagian kebun komunal yang tampak seperti jaring laba-laba raksasa), arsitektur rumah adat (Mbaru Niang) dan kampung adat Wae Rebo.

Kampung Wae Rebo, yang berada di bagian selatan Manggarai, sekitar 1.200 mdpl, ditetapkan sebagai warisan budaya dunia oleh UNESCO tahun 2012. (*)
 

loading...

Sebelumnya

KAPP jalin kerja sama dengan pemerintah Inggris

Selanjutnya

Sinode Kingmi mediasi dua suku yang bertikai

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga

Populer

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : [email protected]

Copyright © 2013. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe