Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide

  1. Home
  2. Pasifik
  3. Era baru dalam sejarah Parlemen Tonga dimulai
  • Senin, 19 Februari 2018 — 17:24
  • 549x views

Era baru dalam sejarah Parlemen Tonga dimulai

“Kami akan mengenang gedung ini, terutama karena generasi anggota parlemen sekarang adalah kabinet terakhir yang dilantik di gedung ini. Hanya mengingat kembali ruang ini dan maknanya bagi kita sudah sangat menyedihkan.”
Gedung Parlemen Tonga yang lama, dikirim dari Selandia Baru pada tahun 1892, tangguh melawan ratusan bencana alam namun akhirnya dihancurkan oleh Siklon Gita. - RNZI/ Richard Tindiller
Elisabeth Giay
Editor : Galuwo
LipSus
Features |
Rabu, 19 September 2018 | 16:08 WP
Features |
Selasa, 18 September 2018 | 07:24 WP
Features |
Senin, 17 September 2018 | 19:13 WP
Features |
Senin, 17 September 2018 | 18:26 WP

PERHATIAN!!!

Penggunaan sebagian atau seluruh materi dalam portal berita ini tanpa seijin redaksi tabloidjubi.com akan dilaporkan kepada pihak berwenang sebagai tindakan pelanggaran terhadap Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang HAK CIPTA dan/atau UU RI Nomor 19 Tahun 2016 atas perubahan UU RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE)

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Nukuʻalofa, Jubi - Awalnya banyak orang menganggap hal paling penting tentang masa pemerintahan Tonga hari ini, bahwa pemerintah pertama sejak pembubaran parlemen Tonga yang bersejarah oleh Raja Tupou VI, yang memicu terjadinya pemilihan dini November lalu.

Walaupun kejadian itu masih merupakan latar belakang yang menarik selama empat tahun ke depan, dengan robohnya Gedung Parlemen Tonga yang berusia 120 tahun akibat keganasan Siklon Gita pekan alu, maka satu lagi kejadian bersejarah terjadi.

Pada Jumat (16/2/2018), Juru Bicara Parlemen Tonga, Lord Fakafanua mengumumkan bahwa untuk sementara parlemen akan diadakan di Pusat Konvensi Fa'onelua Nuku'alofa.

Fakafanua mengungkapkan kesedihannya menyaksikan akhir dari Gedung yang berlokasi di Distrik Bisnis Pusat Nuku'alofa itu.

Dia mengatakan gedung tersebut telah menyelenggarakan sejumlah kegiatan bersejarah sejak tahun 1892, termasuk penyusunan Konstitusi negara itu, UU kepemilikkan lahan, dan reformasi politik tahun tahun 2010.

“Perundangan-undangan yang penting ini, mereka sahkan di Gedung Parlemen, dan tentu saja dengan pembukaan dan penutupan parlemen, acara monarki yang melibatkan pejabat dari luar negeri dan Yang Mulia (beberapa raja),” katanya.

“Kami akan mengenang gedung ini, terutama karena generasi anggota parlemen sekarang adalah kabinet terakhir yang dilantik di gedung ini. Hanya mengingat kembali ruang ini dan maknanya bagi kita sudah sangat menyedihkan.”

Fakafanua menggambarkan gedung parlemen dari kayu ini sebagai dasar dari perwakilan suara rakyat.

Wakil Ketua Parlemen, Sione Vikilani, mengatakan bahwa bangunan tersebut juga memiliki sejarah selain sebagai gedung parlemen.

“Materi kayu gedung itu dipotong di Selandia Baru dan kemudian dikirim ke Tonga. Ia tidak hanya digunakan oleh parlemen, namun juga untuk urusan peradilan sebagai pengadilan. Beberapa pernikahan dan registrasi keluarga kerajaan berlangsung di sana,” kata Dr Vikilani.

Kasus peradilan terakhir yang digelar di gedung tersebut adalah Komisi Penyelidik Kerajaan atas Kapal Feri Princess Ashika yang tenggelam pada tahun 2009 dan merenggut 74 jiwa. (RNZI)

loading...

Sebelumnya

Apa yang akan terjadi pada KTT MSG di Port Moresby?

Selanjutnya

Akibat musim hujan, Santo terancam wabah DBD

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga

Terkini

Populer

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : [email protected]

Copyright © 2013. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe