Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide

  1. Home
  2. Papua Bangkit
  3. Cegah gizi buruk, warga Asmat diminta tanam pisang dan sukun
  • Senin, 19 Februari 2018 — 21:23
  • 1515x views

Cegah gizi buruk, warga Asmat diminta tanam pisang dan sukun

"Asmat ini kan daerah rawa, jadi selama ini kita dorong masyarakat untuk menanam pohon pisang dan sukun yang bisa menjaga ketahanan pangan," ujar Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Holtikultura Provinsi Papua, Semuel Siriwa, di Jayapura, Senin (19/2/2018).
Sejumlah tim kesehatan Polda Papua, sedang memeriksa anak-anak dan balita penderita campak dan gizi buruk, di Asmat - Jubi/Dok.
ANTARA
Editor : Edho Sinaga
LipSus
Features |
Kamis, 20 September 2018 | 09:41 WP
Features |
Rabu, 19 September 2018 | 16:08 WP
Features |
Selasa, 18 September 2018 | 07:24 WP

PERHATIAN!!!

Penggunaan sebagian atau seluruh materi dalam portal berita ini tanpa seijin redaksi tabloidjubi.com akan dilaporkan kepada pihak berwenang sebagai tindakan pelanggaran terhadap Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang HAK CIPTA dan/atau UU RI Nomor 19 Tahun 2016 atas perubahan UU RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE)

Papua No. 1 News Portal | Jubi,

Jayapura, Jubi - Pemerintah Provinsi Papua melalui Dinas Tanaman Pangan dan Holtikultura mengklaim telah mendorong masyarakat di Kabupaten Asmat untuk menanam pisang dan sukun. Dua jenis tanaman ini dinilai dinas tersebut, hasilnya bisa dijadikan makanan pokok dan memperkuat ketahanan pangan di wilayah tersebut.

"Asmat ini kan daerah rawa, jadi selama ini kita dorong masyarakat untuk menanam pohon pisang dan sukun yang bisa menjaga ketahanan pangan," ujar Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Holtikultura Provinsi Papua, Semuel Siriwa, di Jayapura, Senin (19/2/2018).

Semuel mengungkapkan, kasus campak dan gizi buruk yang berujung ditetapkannya Kejadian Luar Biasa (KLB) di Kabupaten Asmat, bisa ditanggulangi dengan peningkatan bahan pangan bergizi. Bahkan dirinya berjanji, Pemerintah Provinsi Papua melalui dinasnya, akan terus membantu bibit kedua tanaman tersebut, agar ke depan kejadian serupa bisa dihindari.

"Tanaman-tanaman itu bisa menjadi pengganti beras, apa lagi kalau jenisnya Pisang Tanduk. Kita masih akan siapkan bibit-bibit tersebut," kata dia.

Dijelaskannya, saat ini masyarakat di Asmat belum dapat didorong untuk menanam jenis tanaman pangan dengan pola hidorponik, karena penerapannya membutuhkan sosialisasi dan pendampingan yang konsisten.

"Kalau ingin menerapkan sistem hidroponik, masyarakat di Asmat belum bisa menerima secara baik karena pola tersebut butuh teknologi tinggi dan pendampingan. Sementara kita dorong yang sifatnya alamiah yang tidak butuh pemeliharan yang intens,” terang Semuel.

Kasus gizi buruk dan campak di Asmat memang mengundang perhatian nasional bahkan internasional. Tercatat, sebanyak 72 anak meninggal akibat campak dan gizi buruk sampai ditetapkannya KLB berakhir. Sebanyak 66 orang meninggal akibat campak dan enam orang meninggal karena gizi buruk.

Sejak September 2017 hingga 4 Februari 2018 juga didapatkan data, kasus meninggal di rumah sakit sebanyak delapan orang dan sisanya ditemukan di kampung, sedangkan sejumlah pasien yang dirujuk ke RSUD Agats, baru dilakukan pada 20 hingga 22 Januari 2018. (*)

loading...

Sebelumnya

Pelaksanaan penerimaan CPNS Papua masih menunggu

Selanjutnya

Selain menjadi lumbung pangan, ini harapan lain untuk Keerom

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga

Populer
Pilihan Editor |— Selasa, 25 September 2018 WP | 8442x views
Polhukam |— Jumat, 21 September 2018 WP | 6341x views
Koran Jubi |— Senin, 17 September 2018 WP | 5981x views
Berita Papua |— Senin, 24 September 2018 WP | 4214x views

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : [email protected]

Copyright © 2013. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe