Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide

  1. Home
  2. Koran Jubi
  3. Anak-anak Papua yang berjuang ke sekolah
  • Kamis, 22 Februari 2018 — 07:49
  • 1263x views

Anak-anak Papua yang berjuang ke sekolah

Sejumlah anak-anak di Tanah Papua setiap hari penuh perjuangan mencapai sekolah. Selain karena lokasi tempat tinggal mereka yang jauh, juga karena fasilitas jalan dan kendaraan yang minim.
Siswa terpaksa naik truk ke sekolah dari kawasan Gunung Cyclop, Kabupaten Jayapura – Jubi/Yance Wenda
Editor : Syofiardi
LipSus

PERHATIAN!!!

Penggunaan sebagian atau seluruh materi dalam portal berita ini tanpa seijin redaksi tabloidjubi.com akan dilaporkan kepada pihak berwenang sebagai tindakan pelanggaran terhadap Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang HAK CIPTA dan/atau UU RI Nomor 19 Tahun 2016 atas perubahan UU RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE)

Papua No. 1 News Portal | Jubi,

Yulita Nawipa, 12 tahun, duduk di Kelas VIII SMP Negeri 1 Paniai Timur di Enarotali, Paniai, Provinsi Papua. Siswi yang tinggal dengan orang tuanya di Kampung Dagouto ini, setiap hari mesti berjalan kaki selama 35 menit ke sekolah yang terletak di Enarotali

Agar tidak telat, ia mesti sudah berangkat dari rumah pukul 06.20 WP bersama teman-temannya sekampung yang terletak di ujung utara kota Enarotali tersebut. Setiap hari ia akan baku tunggu dengan teman-temannya.

“Tidak ada perasaan apa-apa, kami cuma kejar cita-cita, kami ingin menjadi pintar, apalagi kalau tidak pergi dapat pukul dari orang tua, terutama dari bapak,” katanya kepada Jubi, ketika ditanya apa yang ia rasakan dengan sekolah sejauh itu setiap hari.

Ia sudah terbiasa berjalan kaki dengan jarak yang jauh ke sekolah sejak Taman Kanak-Kanak. Ia tidak perlu takut di jalan karena berada di daerahnya

“Kalau hujan, ya… kami berteduh di sekolah atau di jembatan yang ada atap atau singgah di rumah kenalan. Kalau tidak hujan atau panas kami senang karena kalau pulang kami rombongan bisa sambil main-mainan di jalan,” ujarnya.

Dulu sebelum pemerintah membangun jalan, jika ke sekolah sepatu anak-anak akan berlumpur. Namun setelah jalan dibangun sepatu tidak lagi kena lumpur dan baju tidak kotor.

“Hanya sering kotor karena keringat sebab berjalan kaki dan kadang pulang sekolah pakaian dicuci Mama, kadang juga cuci sendiri,” katanya.

Meski menempuh jarak yang cukup jauh dengan berjalan kaki, ternyata Nawipa tidak mengantongi uang jajan ke sekolah. Ketika Jubi menanyakan jumlah uang jajannya ia tertawa.

“Kami tidak tahu apa itu uang jajan, tidak biasa dikasih uang oleh orang tua, kadang-kadang saja, itu juga kalau dibutuhkan, seperti mau beli bolpoin atau buku, kami biasa bawa ubi bakar saja,” katanya.

Lain di Paniai, lain lagi kisah di Kabupaten Jayapura. Pada suatu pagi, embun Gunung Cycloop turun membasahi perkebunan sawit. Yendison Murib, 15 tahun, harus bangun dari tidurnya yang nyenyak pada pukul 5 karena mesti berangkat ke sekolah.

Selesai berjuang melawan dinginnya pagi untuk mandi, ia mengenakan seragam dan sarapan apa yang disediakan orang tuanya. Terkadang hanya menyerumput segelas teh atau kopi untuk pengganjal perutnya selama belajar.

Murib duduk di kelas VIII SMP Satu Atap Juk Lereh. Jarak dari rumahnya ke sekolah lumayan jauh. Tapi baginya itu sudah menjadi hal yang biasa.

“Saya tinggal di perumahan pekerja kelapa sawit di Blok G 10 Rajawali dan sekolah itu di Juk sana, kalau saya mau ke sekolah itu jauh sekali perjalanan dua jam ke sekolah,” katanya.

Sebenarnya ada armada khusus untuk antar-jemput siswa ke sekolah yang harus ditunggu pukul 6 pagi. Namun kalau terlambat berarti mereka harus mencari cara lain untuk sampai ke sekolah.

“Kalau terlambat kita cari jalan numpang di truk buah, tapi kalau tidak ada, sudah… kita tidak ke sekolah,” ujarnya.

Pemuda yang akrab disapa Teku ini mengaku berjalan jauh ke sekolah sudah biasa ia lakukan. Apalagi sekarang SMP Satu Atap Juk Lereh merupakan sekolah terdekat dari kampungnya.

“Sejak Sekolah Dasar itu kita sudah ada jemputan, tapi kalau pulang itu bus biasa jemputan dua kali, setelah antar anak SD baru nanti jeput anak SMP,” katanya Selasa, 20 Februari 2018.

Berjalan kaki ke sekolah baginya tentu tidak mudah, selain jauh cuaca di pegunungan selalu bagus dan berkabut. Matahari hanya sesekali muncul.

“Di sini kalau sudah hujan air naik tutup jalan, jadi kalau mau jalan itu susah, terpaksa tidak ke sekolah, bagaimana air saja tinggi sampai saya punya dada begitu, terus becek itu setinggi betis, jadi kami tidak sekolah, harus tunggu buldoser bersihkan jalan dari lumpur dan pelepah kelapa sawit, baru besoknya ke sekolah,” ucapnya.

Hal yang ditakutkan kalau pergi dan pulang sekolah, cerita Teku, adalah isu Potle alias “Potong Leher”. Itu adalah istilah untuk grup pembunuh yang biasa memotong leher.

“Jadi orang tua biasa larang kalau sudah terlambat itu tidak usah ke sekolah balik saja, soalnya banyak jembatan yang sedang diperbaiki, jadi orang tua dorang takut kita terjadi apa-apa, jadi dorang bilang kita begitu, sampai sekarang juga kita takut,” katanya.

Meski pergi dan pulang sekolah cukup jauh, uang jajan juga hal yang aneh bagi Teku.

“Saya biasa itu kalau ada saja, kalau tidak ada dikasih papa sudah biasa, kita mau beli apa juga paling itu-itu saja di sekolah, kalau di kota itu boleh banyak jualan, jadi harus dapat uang Rp 5 ribu ke atas, soalnya saya punya adik-adik ada tiga di belakang saya, jadi tidak mungkin saya mau berontak minta uang sama Mama,” katanya. (*)

loading...

Sebelumnya

Bisnis wisata di Raja Ampat

Selanjutnya

Mengajar ala Gerakan Papua Mengajar

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : [email protected]

Copyright © 2013. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe