Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide

  1. Home
  2. Polhukam
  3. Polres Mimika usut kasus dugaan korupsi pagar bandara Rp 8,5 miliar
  • Jumat, 02 Maret 2018 — 23:56
  • 1759x views

Polres Mimika usut kasus dugaan korupsi pagar bandara Rp 8,5 miliar

"Nanti kami lihat dulu fakta-faktanya sudah sampai sejauh mana. Kami juga membutuhkan laporan dari masyarakat yang mengetahui persoalan ini agar dapat membantu memberikan data-data untuk kepentingan penyelidikan lebih lanjut. Kalau memang benar terjadi permasalahan, maka pasti akan kami tindaklanjuti," kata Rudy, Jumat (2/3/2018).
Ilustrasi Polisi sedang berjaga - Jubi/Dok.
ANTARA
Editor : Edho Sinaga

PERHATIAN!!!

Penggunaan sebagian atau seluruh materi dalam portal berita ini tanpa seijin redaksi tabloidjubi.com akan dilaporkan kepada pihak berwenang sebagai tindakan pelanggaran terhadap Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang HAK CIPTA dan/atau UU RI Nomor 19 Tahun 2016 atas perubahan UU RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE)

Papua No. 1 News Portal | Jubi,

Timika, Jubi - Satuan Reserse dan Kriminal Polres Mimika, Provinsi Papua, khususnya penyidik tindak pidana korupsi, siap mengusut kasus dugaan korupsi proyek pembangunan pagar Bandara Agimuga di Kampung Aramsolki, Distrik Agimuga.
Kasat Reskrim Polres Mimika AKP Rudy Priyo Santoso mengatakan, jajarannya membutuhkan bukti-bukti tentang adanya dugaan tindak pidana korupsi dalam pengerjaan pagar Bandara Agimuga.

"Nanti kami lihat dulu fakta-faktanya sudah sampai sejauh mana. Kami juga membutuhkan laporan dari masyarakat yang mengetahui persoalan ini agar dapat membantu memberikan data-data untuk kepentingan penyelidikan lebih lanjut. Kalau memang benar terjadi permasalahan, maka pasti akan kami tindaklanjuti," kata Rudy, Jumat (2/3/2018).

Sebelumnya, tokoh masyarakat Agimuga, Pius Ilimagai beberapa waktu lalu menegaskan, terdapat banyak permasalahan dalam pengerjaan pagar Bandara Agimuga tahun anggaran 2017. Proyek senilai Rp 8,5 miliar yang bersumber dari APBN melalui Kementerian Perhubungan itu dikerjakan oleh PT Romora Haghas Papua, yang beralamat di Jalan Nangka, RT 09/IV, Kelurahan Malawili, Distrik Aimas, Kabupaten Sorong, Provinsi Papua Barat.

Sejak awal proyek itu dikerjakan, kata Ilimagai, sudah ditemukan banyak kejanggalan seperti penunjukkan kontraktor pemenang lelang yang tidak transparan.

"Mereka mendatangkan kontraktor dari Sorong untuk mengerjakan proyek pagar Bandara Agimuga di Kabupaten Mimika. Selama pekerjaan berlangsung, kontraktor tidak pernah datang ke Agimuga. Semua pekerjaan diserahkan penuh kepada mandor lapangan yang merupakan anggota TNI yang bertugas di Koramil Agimuga," kata Pius.

Dirinya pun menduga, penunjukan kontraktor asal Sorong tersebut tidak lepas dari intervensi Kepala Unit Pengelola Bandar Udara (UPBU) Agimuga, yang juga berasal dari Sorong.

"Kami tidak tahu persis apakah antara kepala bandara dan kontraktor ada hubungan keluarga atau tidak, tapi yang jelas mereka sama-sama berasal dari Sorong," tutur Pius.

Saat pekerjaan awal dilakukan, pihak mandor lapangan menyuruh masyarakat Agimuga dari tiga kampung yaitu Aramsolki, Amungun dan Kiliarma mengumpulkan material batu untuk pengecoran pondasi pagar bandara. Namun setelah material batu dikumpulkan oleh masyarakat ternyata tidak semuanya dibayar oleh pengelola proyek.

"Perjanjian awal dengan masyarakat saat itu harga batu satu kubik Rp 500 ribu. Kenyataannya tidak diambil semuanya. Akibatnya terjadi pertengkaran hingga perkelahian di antara masyarakat sendiri. Material batu yang belum dibayar masih terutang sekitar Rp 300 juta," terangnya.

Selanjutnya saat pengukuran lokasi Bandara Agimuga untuk dibangun pagar keliling, Kepala UPBU diduga menentukan sendiri batas tanah lokasi bandara tanpa berkoordinasi dengan para tokoh masyarakat setempat. Padahal, landas pacu Bandara Agimuga sendiri memiliki panjang 600 meter, sementara luas pagar yang dibangun mencapai lebih dari 1.000 meter.

Pius mengatakan, pekerjaan proyek pembuatan pagar Bandara Agimuga diselesaikan pada Desember 2017, namun kualitas pekerjaan tidak seluruhnya baik.

"Di bagian depan kelihatan bagus, tapi di belakang banyak bolong-bolong karena pondasi pagar tidak dicor seluruhnya, sehingga ternak masyarakat bebas keluar masuk area bandara," kata Pius. (*)

loading...

Sebelumnya

Medan sulit hambat Coklit pemilih di Jayawijaya

Selanjutnya

Keluarga anggota Polri yang tak lulus seleksi perwira mengadu ke MRP

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : [email protected]

Copyright © 2013. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe