Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide

  1. Home
  2. Penkes
  3. Praktisi gagas sekolah pangan lokal di Papua
  • Rabu, 07 Maret 2018 — 14:50
  • 568x views

Praktisi gagas sekolah pangan lokal di Papua

agasan itu muncul sebagai sikap menghadapi pergeseran masyarakat Papua yang sebelumnya berburu, berkebun, dan mencari ikan di laut, beralih menjadi masyarakat yang konsumtif dan melupakan kebiasaan akar budaya lokal.
Charles toto tengah Cristina Luluporo dan Marlina Flasy saat memukul Tifa sebelum memulai diskusi tanda dibukanya seminar , Jubi/David Sobolim
David Sobolim
Editor : Edi Faisol

PERHATIAN!!!

Penggunaan sebagian atau seluruh materi dalam portal berita ini tanpa seijin redaksi tabloidjubi.com akan dilaporkan kepada pihak berwenang sebagai tindakan pelanggaran terhadap Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang HAK CIPTA dan/atau UU RI Nomor 19 Tahun 2016 atas perubahan UU RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE)

Papua No. 1 News Portal | Jubi,

Jayapura Jubi – Praktisi pangan lokal, Charles Toto, menggagas sekolah pangan lokal Papua, di beberapa daerah seperti kabupaten Sorong, Jayapura, Wamena dan Merauke. Gagasan itu muncul sebagai sikap menghadapi pergeseran masyarakat Papua yang sebelumnya berburu, berkebun, dan mencari ikan di laut, beralih menjadi masyarakat yang konsumtif dan melupakan kebiasaan akar budaya lokal.

“Untuk memenuhi kehidupan sehari-hari dalam keluarga kini masyarakat mulai berubah menjadi masyarakat yang berharap sama pemerintah atau konsumtif dan melupakan kebiasaan,” kata Charles Toto, usai diskusi hari perempuan internasional dan pangan lokal, Selasa (6/3/2018)

Ia menjelaskan sekolah yang digagas itu untuk menyiapkan interpreneur di bidang pangan lokal menghadapi pasar ekspor. “Kami sedang  proses penjajakkan dan mempersiapkan sekolah pangan,” kata Toto menambahkan.

Toto sedang membuka akses  jaringan dengan sejumlah rekan arsitek untuk bangunan gedung, termasuk melibatkan sejumlah rekan ahli pertanian mempersiapkan produk dan mengajarkan bercocok tanam ke masyarakat Papua, khusus pangan asli Papua.

Menurut dia, Papua dinilai belum bisa menyiapkan pangan lokal yang banyak kepada perusahan maupun hotel karena sumber daya di bidang pertanian kurang. "Ini menjadi tantangan untuk bisa memenuhi permintaan dalam jumlah banyak,” katanya.

Pengajar jurusan Antropologi Universitas Cenderawasih, Jayapura, Marlina Flasy, menilai peluang memproduksi pangan lokal sangat berpotensi di Papua yang lahannya luas.

"Siapa saja yang datang  bekerja dengan kuat dia akan bertahan dan orang Papua juga jangan hanya mengharapkan dari orang lain," kata Flasy. 

Ia mendorong agar produksi pangan lokal sebagai identitas orang Papua lewat regulasi yang jelas untuk mempertahankan nilai lokal.

Falsy juga mendorong Pemda dan Bulog bekerja sama dengan mama-mama  Papua agar bisa menyalurkan makanan lokal seperti  sagu kepada PNS di Papua.

"Itu perlu dengan Perda agar penyalurannya jelas, jangan beras saja tetapi juga perlu makanan lokal," katanya. (*)

loading...

Sebelumnya

Perjuangan menghadapi penerapan kurikulum 2013

Selanjutnya

Imayawa Bandung menjadi tempat pembinaan dan pelatihan

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : [email protected]

Copyright © 2013. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe