Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide

  1. Home
  2. Nasional & Internasional
  3. Dua negara Kepulauan Pasifik di garis depan dampak perubahan iklim
  • Kamis, 08 Maret 2018 — 15:26
  • 3512x views

Dua negara Kepulauan Pasifik di garis depan dampak perubahan iklim

“Orang-orang yang mengetahui lebih dalam akan isu ini, memiliki rasa urgensi. Tapi masih banyak juga orang yang tidak tahu. Masih banyak pekerjaan yang harus kita selesaikan.”
Hutan mangrove di Pātangata, Tonga. -Kaniva Tonga News/Kalino Lātū
Elisabeth Giay
Editor : Galuwo
LipSus
Features |
Kamis, 20 September 2018 | 09:41 WP
Features |
Rabu, 19 September 2018 | 16:08 WP
Features |
Selasa, 18 September 2018 | 07:24 WP
Features |
Senin, 17 September 2018 | 19:13 WP

PERHATIAN!!!

Penggunaan sebagian atau seluruh materi dalam portal berita ini tanpa seijin redaksi tabloidjubi.com akan dilaporkan kepada pihak berwenang sebagai tindakan pelanggaran terhadap Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang HAK CIPTA dan/atau UU RI Nomor 19 Tahun 2016 atas perubahan UU RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE)

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Nukuʻalofa, Jubi - Menteri Pasifik Selandia Baru, Apito William Sio menyampaikan Kiribati dan Tuvalu bagaikan burung kenari di tambang batu bara yang akan memicu alarm pertama dampak perubahan iklim.

Menteri Sio menyebutkan dua negara di Kepulauan Pasifik tersebut, sebagai contoh utama kampanye pendidikannya tentang perubahan iklim, ketika dia dan partainya masih berada di blok oposisi.

Sio menuturkan bahwa setiap orang memiliki tingkat pengetahuan dan pendapat yang berbeda mengenai isu perubahan iklim.

“Orang-orang yang mengetahui lebih dalam akan isu ini, memiliki rasa urgensi. Tapi masih banyak juga orang yang tidak tahu. Masih banyak pekerjaan yang harus kita selesaikan.”

Ia mengaku pernah mengunjungi Tuvalu dan Kiribati pada 2016. Sejak saat itu ia menunjukkan video-video yang direkamnya, untuk menggambarkan dampak perubahan iklim di dua kelompok kepulauan tersebut, serta masyarakatnya sebagai bagian utama dari kampanye pendidikan yang dijalankannya.

Video-video itu menampilkan masyarakat lokal yang membahas tentang perubahan iklim dan bagaimana perubahan iklim mempengaruhi kehidupan mereka.

Sio menerangkan sekarang iklim ekstrem sering terjadi. Musim-musim berubah. “Di Kiribati, banjir laut menghancurkan tanaman pangan, rumah-rumah, dan lokasi pemakaman.”

Polusi air tanah menyebabkan air tidak lagi bersih, dan menimbulkan wabah penyakit diare, pun penyakit lainnya yang ditularkan melalui air, sehingga meningkatkan angka kematian anak-anak.

Kedua negara kepulauan itu juga menghadapi masalah yang berkelanjutan dalam pengelolaan limbah, ketahanan pangan, pertumbuhan populasi, dan ketergantungan pada barang-barang impor.

“Namun, rakyat dan pemerintah Kiribati dan Tuvalu terus bekerja keras untuk mempertahankan pulau mereka.”

Di Kiribati, pemerintah membangun tembok laut yang terbuat dari batu yang diimpor dari Fiji, sementara di Tuvalu mereka mereklamasi pinggiran laut.

Penanaman mangrove di pinggiran pantai sepanjang garis laut, juga merupakan bagian dari pertahanan negara kepulauan tersebut. “Ini tentang anak-anak kita,” tegas Sio.

“Ingat burung kenari di tambang batu bara. Saat burung itu mati, kita semua dalam keadaan berbahaya,” tambahnya. (Kaniva Tonga News)

loading...

Sebelumnya

KPUD Manokwari Selatan terancam sanksi

Selanjutnya

Papua masuk di jalur Megathrust

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga

Terkini

Populer

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : [email protected]

Copyright © 2013. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe