TUTUP
Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide

  1. Home
  2. Anim Ha
  3. Selamatkan anak Asmat dengan pendidikan berpola asrama
  • Kamis, 08 Maret 2018 — 19:19
  • 1040x views

Selamatkan anak Asmat dengan pendidikan berpola asrama

Ans K
[email protected]
Editor : Angela Flassy

PERHATIAN!!!

Penggunaan sebagian atau seluruh materi dalam portal berita ini tanpa seijin redaksi tabloidjubi.com akan dilaporkan kepada pihak berwenang sebagai tindakan pelanggaran terhadap Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang HAK CIPTA dan/atau UU RI Nomor 19 Tahun 2016 atas perubahan UU RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE)

Papua No. 1 News Portal | Jubi,

BUPATI dan Wakil Bupati Asmat, Elisa Kambu-Thomas Eppe Sanfanpo dalam masa kepemimpinan mereka, mendorong pendidikan secara merata baik dalam kota hingga kampung-kampung.

Salah satu terobosan yang dilaksanakan sejak Januari 2018 adalah mewajibkan guru-guru kembali ke tempat tugas. Bahkan, gaji guru, tak ditransfer melalui rekening lagi setiap bulan. Tetapi nantinya diambil secara manual di Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) di tingkat distrik.

Langkah itu diambil, setelah sorotan datang silih berganti dari masyarakat kepada pemerintah, setelah proses belajar mengajar di kampung tidak berjalan maksimal. Karena para guru lebih banyak menghabiskan waktu di kota dengan berbagai alasan.

Sekretaris Dinas Pendidikan Pendidikan Kabupaten Asmat, Jakobus Gedu saat ditemui Jubi di kantornya Kamis 8 Maret 2018 mengatakan, dengan sistem tersebut, para guru telah berlomba-lomba kembali ke tempat tugasnya.

“Ya, cara seperti demikian harus dilakukan. Jika tidak, kami akan terus disoroti masyarakat, karena guru tak pernah berada di tempat tugas,” ujarnya.

Saat ini Kabupaten Asmat sedang menerapkan pendidikan berpola asrama. “Kami sedang terapkan SD/SMP Satu Atap berpola asrama khas Asmat di Sawaerma, juga SMP Negeri III,” ujarnya.

Hal tu sesuai permintaan Yuven Biakai saat itu agar ada sekolah unggulan Asmat. “Namun, bagi saya kurang tepat. Jika orang luar mengetahui, bisa dianggap terlalu bombastis,” ujarnya.

Dikatakan, di satu sisi, kalau yang diunggulkan adalah budaya, setuju. Tetapi lainnya, tentu diragukan. “Lalu saya berkonsultasi dengan Bapak Yan Tethol dengan konsepnya Sekolah Satu Atap (Satap) berpola Asrama. Lalu, saya meminta petunjuk kalau bisa ditambah khas lagi. Seketika langsung direspon,” ujarnya.

Akhirnya, jelas dia, sejak 2008 silam, pendidikan berpola asrama khas Asmat, mulai berjalan di Sawaerma. Anak-anak yang direkrut masuk di sekolah itu, diseleksi dari kampung-kampung.

“Jadi, anak-anak tersebut, umumnya diambil dari kelas IV. Selanjutnya masuk di Satap berpola asrama  Khas Asmat hingga tamat. Lalu, lanjut ke Sekolah Menengah Pertama (SMP) lagi,” katanya.

Sedangkan SMA, lanjut dia, belum dibangun. Karena masih melihat perkembangan. Bagi yang sudah tamat SMP, mereka dititipkan di SMA Yan Smith Agats. Bahkan, ada beberapa diantaranya dikirim ke salah satu SMA di Bogor.

Jumlah anak didik di Satap Berpola Asrama Sawaerma sebanyak 101 orang. Untuk proses seleksi yang dilakukan adalah dengan melihat kecerdasan sosial, muatan konsep kearifan lokal. Artinya apakah anak bisa mengukir dan menganyam atau tidak. Itu yang  menjadi salah satu kriteria.

Secara umum, mereka sangat betah tinggal di asrama sekaligus ke sekolah dan belajar. “Memang ada satu dua orang yang tidak betah tinggal, karena situasi. Sehingga memilih pulang kampung,” ujar dia.

“Kami juga bekerjasama dengan Keuskupan Agats. Sehingga para pastor di sana melakukan pengawasan terhadap anak-anak selama tinggal di asrama,” tuturnya.

Untuk SMPN Persiapan Negeri III berpola asrama khas Asmat, katanya, hanya terdapat 43 siswa. Mereka juga hanya tahu belajar dan sekolah. Kalau menyangkut biaya, pemerintah mengintervensi.

Dijelaskan, dengan sistem pendidikan berpola asrama ini, agar anak-anak Asmat dapat melihat jati dirinya. “Ya, mungkin kedepan Asmat dimekarkan,  namun secara rumpun, mereka tetap satu,” ujarnya.

Ditambahkan, untuk menyelamatkan generasi Papua terutama anak Asmat, pendidikan berpola asrama harus dijalankan. “Saya mengacu saat misionaris Katolik masuk disini dan merintis pendidikan berpola asrama, telah memberikan hasil sekarang. Dimana, banyak intelektual yang ada di birokrasi Asmat adalah dari asrama,” katanya.

DPRD Asmat berikan dukungan

Secara terpisah Wakil Ketua I Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Asmat, Brent Jensenem mengatakan, program tersebut, dirintis oleh mantan Bupati Asmat, Yuven Biakai.

Awalnya, kata dia, sekolah mengajarkan anak-anak tentang budaya, sehingga budaya dapat dipertahankan dari generasi ke generasi.

Namun demikian, lanjut dia, dengan aturan pendidikan bahwa lulusan dari SD/SMP Satu Atap Berpola Asrama Sawaerma, harus diakui pemerintah. Sehingga antara pemerintah dan dewan duduk membicarakan lagi. Akhirnya disepakati semua mata pelajaran diberikan kepada anak didik.

Tetapi, katanya, yang masuk dan tinggal di asrama tersebut adalah anak-anak Asmat yang diseleksi melalui beberapa tahapan terlebih dahulu.

“Akhirnya berjalan dan proses belajar mengajar tetap lancar sampai sekarang. Memang kami utamakan adalah anak-anak Asmat yang diseleksi dari setiap kampung,” ungkapnya.

Dia juga berharap anak-anak yang sekolah disitu, terus dibimbing dengan baik. Setelah tamat SD dan SMP, didorong masuk ke SMA unggulan di luar Papua. (*)

loading...

#

Sebelumnya

Jarang di tempat tugas, gaji guru di Asmat diterimakan langsung

Selanjutnya

Warga kampung Suator, Kabupaten Asmat menderita kusta

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : [email protected]

Copyright © 2013. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe
wso shell IndoXploit shell wso shell hacklink hacklink satış hacklink wso shell evden eve nakliyat istanbul nakliyat evden eve nakliyat istanbul evden eve nakliyat evden eve nakliyat istanbul nakliyat