Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide

  1. Home
  2. Anim Ha
  3. Sampan, sungai dan sagu, kehidupan masyarakat Asmat
  • Minggu, 11 Maret 2018 — 14:33
  • 486x views

Sampan, sungai dan sagu, kehidupan masyarakat Asmat

"Saya pernah bertemu seorang anak di rumah sakit. Dia polos menyampaikan, kalau dia makan sagu, akan lebih cepat sembuh,” ujar Uskup
Uskup Agats, Mgr. Aloysius Murwito- Jubi/Frans L Kobun
Ans K
Editor : Angela Flassy

PERHATIAN!!!

Penggunaan sebagian atau seluruh materi dalam portal berita ini tanpa seijin redaksi tabloidjubi.com akan dilaporkan kepada pihak berwenang sebagai tindakan pelanggaran terhadap Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang HAK CIPTA dan/atau UU RI Nomor 19 Tahun 2016 atas perubahan UU RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE)

Papua No. 1 News Portal | Jubi ,

SAMPAN, sungai dan sagu (3 S) tak bisa lepas dari kehidupan masyarakat Asmat. Uskup Agats, Mgr. Aloysius Murwito menginginkan sampan, sungai dan sagu, harus dilestarikan. Tak boleh luntur, seiring perkembangan zaman.

“Saya kira sampai  sekarang, sampan, sungai dan sagu, masih berlaku bagi masyarakat Asmat di kampung-kampung,” ujar Uskup saat ditemui Jubi  di Agats Jumat 9 Maret 2018.

Sungai, menurut Uskup, berkaitan dengan kondisi geografis. Dimana segala sesuatu tak terlepas dari air. Perjalanan kemana pun melalui sungai. Lalu, lauk pauk juga ada di dalam sungai.

Bicara sungai, juga tak terlepas dari sampan. Karena umumnya, transportasi yang digunakan masyarakat di kampung-kampung adalah sampan, sekalipun sekarang mengalami perubahan perkembangan. Selain orang mendayung perahu secara manual, juga menggunakan long boat atau perahu motor. Tetapi semua itu tak lepas dari sampan.

Sedangkan sagu, katanya, masih melekat di masyarakat Asmat, meskipun ada nasi. “Beberapa pekan lalu, saya pernah  bertemu seorang anak di rumah sakit. Dia polos berkata kalau dia makan sagu, akan lebih cepat sembuh,” ujar Uskup menirukan pengakuan anak tersebut.

“Bagi saya, istilah 3 S itu, masih esensial dan memiliki unsur-unsur dasar yang  tak terlepas dalam kehidupan masyarakat Asmat, meskipun saat ini, muncul berbagai tawaran,” ujarnya.

Bagi Uskup, perubahan tawaran dimaksud, bisa menjadi berkat. Tetapi lain sisi, mempunyai pengaruh negatif sangat kental.

“Contoh konkret saja begini, ketika orang selalu makan beras, maka akan memanjakan diri dan tidak ingin bekerja. Selain itu, zat yang terdapat dalam beras, secara kesehatan lebih jelek dari pada sagu yang dikonsumsi rutin tiap hari,” katanya.

Ketika masyarakat sudah beralih ke perahu motor, tentunya tak mendayung manual lagi. Masalah terjadi ketika peralatan rusak, lalu tak ada uang untuk memperbaiki. Uskup berututur akibatnya berbagai cara dapat dilakukan yakni dengan mencuri.

“Jadi, akan lebih tepat ketika moda transportasi berupa perahu, agar tetap dipertahankan. Karena umumnya masyarakat dari kampung-kampung, keluar masuk hutan mencari sagu, selalu dengan perahu,” katanya.

Hal serupa disampaikan salah seorang intelektual pendidikan di Kabupaten Asmat, Jakobus Gedu. “Kenapa saya bilang masyarakat Asmat masih terpola dengan konsep sampan, sungai dan sagu. Karena secara umum, hidupnya di pinggir kali maupun pantai,” katanya.

“Kemana-mana, pasti kendaraan mereka adalah perahu. Begitu keluar rumah, perahunya dipinggir rumah atau kali. Dari situ, dengan perahu, mereka mencari ikan serta udang di air. Selanjutnya ke hutan pangkur sagu sambil mengumpulkan hasil bumi lain,” ujarnya.

Setelah memangkur sagu, lanjut dia, masyarakat Asmat mendayung perahu pulang ke rumah. Selama cadangan makanan masih mencukupi, mereka bertahan di rumah. Jika sagu habis, mereka akan membawa istri dan anak-anak masuk ke hutan kembali.

“Saya mencoba memunculkan istilah 3 S setelah melihat gambaran alamnya. Lalu memperhatikan siklus kehidupan masyarakat Asmat dari waktu ke waktu,” ujarnya.

Secara umum, lanjut Jakobus, masyarakat di Asmat adalah peramu. Mereka dari rumah ke sungai dan hutan, menggunakan satu-satunya transportasi yakni perahu. Dimana, didayung secara manual.

Selama masuk hutan memangkur sagu, tidak langsung pulang. Tetapi tinggal bersama keluarga selama berhari-hari bahkan minggu.

Akibatnya, jelas dia, anak-anak tidak bisa mengikuti proses belajar mengajar di sekolah. Karena orangtuanya membawa ke hutan.

“Saya sependapat agar sampan, sungai dan sagu, harus tetap dipertahankan. Karena merupakan pola hidup masyarakat Asmat yang sudah berjalan dari tahun ke tahun,” ungkapnya.

Namun demikian, ia meminta orangtua tidak mengajak anak anak ketika masuk hutan memangkur sagu. Biarkan mereka tetap di kampung untuk sekolah seperti biasa.

Secara terpisah Pastor Paroki Roh Kudus Bayun, Distrik Safan, Kabupaten Asmat, Romo Siprianus Flory Koten mengatakan, umumnya masyarakat di wilayah pelayanannya, menjadikan sagu sebagai makanan pokok. Hal itu sangat positif dan harus dibudayakan.

“Jangan karena beras sejahtera (rastra) muncul lalu sagu diabaikan. Saya selalu mengingatkan masyarakat bahwa  beras hanya muncul sesaat saja. Jadi, tak boleh menggantungkan hidup dari nasi,” tegasnya.

Lebih baik, katanya, masyarakat terus melestarikan dan membudayakan sagu dari waktu ke waktu. (*)

 

loading...

Sebelumnya

DPRD Asmat : Masyarakat perlu pendampingan

Selanjutnya

KLB di Asmat karena layanan kesehatan tak maksimal

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga

Populer

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : [email protected]

Copyright © 2013. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe