Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide

  1. Home
  2. Nasional & Internasional
  3. Papua masuk di jalur Megathrust
  • Minggu, 11 Maret 2018 — 15:57
  • 1095x views

Papua masuk di jalur Megathrust

Di sisi lain, ia juga mengingatkan ancaman gempa juga berlaku di sepanjang jalur Megathrust mulai dari Sumatera, Jawa, Bali, Sumbawa hingga Papua.
Ilustrasi gempa. -Thinkstock/Petrovich9
Admin Jubi
Editor : Galuwo
LipSus
Features |
Sabtu, 18 Agustus 2018 | 15:14 WP
Features |
Sabtu, 18 Agustus 2018 | 15:38 WP
Features |
Sabtu, 18 Agustus 2018 | 09:47 WP

PERHATIAN!!!

Penggunaan sebagian atau seluruh materi dalam portal berita ini tanpa seijin redaksi tabloidjubi.com akan dilaporkan kepada pihak berwenang sebagai tindakan pelanggaran terhadap Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang HAK CIPTA dan/atau UU RI Nomor 19 Tahun 2016 atas perubahan UU RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE)

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Jayapura, Jubi – Tahun ini, beberapa wilayah di Indonesia sering diguncang gempa. Menanggapi hal tersebut, Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM, Rudy Suhendar, gempa yang rentan mengguncang Indonesia bisa disebabkan oleh subduksi (Megathrust) yang merupakan tempat terbentuknya gunung berapi dan gempa.

“Selain itu, gempa bisa dipicu oleh faktor instralab (patahan di bagian bawah lempeng) dan patahan aktif.” katanya, di Bandung, Kamis (8/3/2018).

Megathrust adalah zona tumbukan antara lempeng Indo-Australia dan Eurasia. Dikatakan Rudy, Megathrust memanjang dari sebelah barat ujung Sumatera, ke selatan Jawa, Bali, Nusa Tenggara, yang terbagi ke beberapa segmen. Salah satunya adalah segmen di selatan Selat Sunda.

Baru-baru ini, merebak pula isu soal kemungkinan Jakarta diguncang gempa Megathrust 8,7 skala richter.

"Di Jakarta akan menerima guncangan saja. Hanya tidak akan sebesar yang terjadi di lokasi tepatnya," katanya.

Rudy mengakui dalam dalam 10 tahun terakhir, setidaknya ada empat gempa bumi yang guncangannya cukup kuat hingga ke Jakarta. Gempa-gempa itu yakni gempa Indramayu 9 Agustus 2007, gempa Tasikmalaya 2 September 2009, gempa Tasikmalaya 15 Desember 2016, dan gempa Lebak 2018.

Namun, dia menyatakan Jakarta sejauh ini relatif aman untuk ditinggali. "Di manapun sebenarnya, masyarakat harus tetap tenang dan tidak perlu khawatir berlebihan, namun terus meningkatkan kewaspadaan dan kesiapsiagaan.”

Di sisi lain, ia juga mengingatkan ancaman gempa juga berlaku di sepanjang jalur Megathrust mulai dari Sumatera, Jawa, Bali, Sumbawa hingga Papua.

Kata Rudy, potensi besaran dan dampak gempa itu dapat dihitung dan diprediksi secara ilmiah, akan tetapi hingga kini belum ada cara untuk memprediksi kejadian gempa bumi secara tepat.

Untuk mengurangi kerentanan terhadap gempa bumi, Rudi mengatakan salah satu caranya adalah dengan penataan ruang berbasis kebencanaan.

"Termasuk di dalamnya pembangunan bangunan yang tahan gempa bumi," ujarnya.

Dia melanjutkan, menghadapi gempa tidak bisa dilakukan satu sektor mengingat setiap sektor memiliki tugas masing-masing.

Ia mencontohkan badan Geologi yang bertugas memetakan kawasan rawan bencana. Sementara untuk mengantisipasi gempa susulan dan kerusakan, dibutuhkan kerja dari institusi lain.

"Jadi untuk menghindari gempa susulan atau potensi bencana, alangkah baiknya dimasukkan ke dalam kurikulum pendidikan. Kerja sama yang erat antarpemerintah, swasta dan masyarakat harus terus dijalin dan ditingkatkan dalam mengantisipasi kejadian bencana," ujarnya.

Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Kasbani mengatakan untuk upaya mitigasi dan mengantisipasi gempa bumi, pihaknya telah mengeluarkan peta rawan bencana geologi.

"Kami telah membuat peta kawasan rawan bencana dan tsunami berdasarkan sejarah gempa yang ada di situ. Termasuk besaran-besaran gempa yang terjadi, semua struktur bangunan harus mengikuti panduan itu," kata Kasbani.

Gempa di Papua dan sekitarnya

Sebelumnya, menurut data BMKG, Kabupaten Boven Digoel, Papua, dilanda dua kali gempa berkekuatan lebih dari 5 skala richter (SR), pada Februari lalu.

Meski tidak menimbulkan korban, gempa yang pertama kali terjadi pada pukul 00:44 WIB, berkekuatan 7,6 SR, yang berlokasi pada 266 km tenggara Boven Digoel.

Gempa susulan terjadi pada pukul 03:17 WIB, berkekuatan 5,4 SR dan lokasinya berada pada 275 km tenggara Boven Digoel.

Menurut situs resmi BMKG, gempa tersebut dirasakan (MMI) IV-V Tanah Merah, IV-V Wamena, IV-V Merauke, dan II-III Jayapura.

Sementara negara tetangga, Papua Nugini, yang masih satu pulau dengan Papua lebih parah lagi.

Gempa berkekuatan 7,1 skala richter kembali mengguncang Papua Nugini, Jumat (8/3/2018) dini hari waktu setempat. Gempa kuat itu terjadi menyusul gempa-gempa susulan dan belum pulihnya negeri tersebut dari gempa sebelumnya yang telah menewaskan lebih dari 100 orang.

Gempa dilaporkan berpusat 135 kilometer dari timur kota Rabaul sekitar pukul 03.39 pagi waktu lokal.

Meski pusat gempa relatif dangkal, Pusat Peringatan Tsunami Pasifik tidak mengeluarkan peringatan tsunami atas gempa tersebut. Sejauh ini belum ada laporan mengenai korban dan kerusakan akibat bencana.

Gempa hari ini merupakan gempa susulan berkekuatan besar yang kedua kalinya menerjang Papua Nugini sejak gempa 7,5 skala richter mengguncang negara itu pada 27 Februari lalu.

Gempa 6,7 skala richter juga menerjang pegunungan Southern Highlands, wilayah kaya sumber daya yang terletak 600 kilometer dari Ibu Kota Port Moresby, pada Rabu (7/3/2018).

Hingga kini total jumlah korban dilaporkan mencapai lebih dari 100 orang. Meski begitu, Pusat Bencana Nasional Papua Nugini belum melakukan finalisasi laporan korban.

Namun, merujuk pada laporan awal Palang Merah setidaknya 143 ribu orang terkena dampak gempa ini, dengan 500 di antaranya terluka dan 17 ribu lainnya harus mengungsi.

Perdana Menteri Peter O'Neill menyatakan proses pemulihan bencana ini bisa memakan waktu hingga bertahun-tahun.

"Tragisnya, gempa di dataran tinggi ini telah memakan korban lebih dari 100 masyarakat dengan masih banyak orang lainnya yang hilang dan ribuan lainnya terluka," kata O'Neill.

"Tidak mungkin ada perbaikan cepat. Kerusakan dari bencana ini membutuhkan waktu berbulan-bulan hingga bertahun-tahun untuk bisa dipulihkan," katanya. (CNN Indonesia)

loading...

Sebelumnya

Dua negara Kepulauan Pasifik di garis depan dampak perubahan iklim

Selanjutnya

Tak didukung Pemerintah, Erthyn Wene Lanny harumkan nama Papua

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : [email protected]

Copyright © 2013. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe