Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide

  1. Home
  2. Pasifik
  3. Hari Perempuan Internasional: Merenungkan keragaman perempuan Pasifik  
  • Minggu, 11 Maret 2018 — 17:01
  • 460x views

Hari Perempuan Internasional: Merenungkan keragaman perempuan Pasifik  

SPC akan mendukung delegasi Kepulauan Pasifik untuk meningkatkan kesadaran masyarakat global akan prioritas perempuan Pasifik, dan untuk berbagi pengalaman dan keprihatinan mereka dalam membangun komunitas yang tangguh.
Perempuan-perempuan yang bergerak di bidang pertanian organik di Komunitas Baniata di Pulau Rendova, Kepulauan Solomon. - SPC
Elisabeth Giay
Editor : Galuwo

PERHATIAN!!!

Penggunaan sebagian atau seluruh materi dalam portal berita ini tanpa seijin redaksi tabloidjubi.com akan dilaporkan kepada pihak berwenang sebagai tindakan pelanggaran terhadap Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang HAK CIPTA dan/atau UU RI Nomor 19 Tahun 2016 atas perubahan UU RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE)

Papua No. 1 News Portal | Jubi

“Meskipun menghadapi banyak hambatan dalam kehidupan mereka, perempuan dari daerah terpencil (rural women) memainkan peran penting dalam membentuk dan membangun ketangguhan Pasifik pada saat ini,” sampai Direktur Jenderal The Pacific Community (SPC), Dr Colin Tukuitonga, saat merayakan Hari Perempuan Internasional .

Sama seperti rekan-rekan mereka dari seluruh belahan dunia, rural women di kawasan Kepulauan Pasifik tentu saja menghadapi hidup yang tidak mudah. Mereka sering kali tidak memiliki akses kepada layanan dan infrastruktur dasar seperti air bersih dan sanitasi, listrik, kesehatan, dan pendidikan. Mereka lebih rentan terhadap risiko kekerasan dalam rumah tangga dan kehamilan tidak direncanakan dibandingkan dengan perempuan sejawat mereka di daerah perkotaan. Rural women juga lebih rentan dan berpeluang lebih tinggi dalam menerima paparan langsung dampak perubahan iklim seperti siklon dan badai tropis serta kekeringan.

Dalam meningkatkan momentum untuk Hari Perempuan Internasional tahun 2018, SPC ingin menekankan kembali komitmen mereka dalam bekerja-sama dengan semua pemerintah di kawasan Pasifik, untuk meningkatkan kehidupan dan penghidupan dari tulang punggung kita, rural women, di sepanjang Pasifik.

“The Pacific Community turut bekerja dalam lebih dari 20 sektor dan telah mengemban prestasi dalam menyediakan pengetahuan dan inovasi di berbagai macam bidang seperti ilmu perikanan, pengawasan kesehatan masyarakat, ilmu bumi, konservasi sumber daya genetik tanaman untuk keperluan ketahanan pangan, serta masih banyak hal lagi. Tanpa disengaja program-program kami akan mempengaruhi rural women, baik melalui pernyusunan kebijakan tertentu atau mengembangkan kapasitas di lapangan. Sejak awal kami mulai bekerja di lapangan dalam bidang pengarusutamaan gender dan pemberdayaan perempuan kami menyadari dan mengakui bahwa kebutuhan, kekhawatiran, dan pengetahuan dari rural women komunitas Pasifik sangat kritis dalam mencapai tujuan-tujuan pembangunan regional. Walaupun kami ingin menyediakan bantuan teknis yang membawa dampak berarti di lapangan, kami juga ingin memberdayakan dan melibatkan jaringan-jaringan dan organisasi-organisasi rural women karena mereka sering kali sangat terorganisir dan dapat dengan mudah memobilisasi dan mencari solusi terhadap isu-isu penting yang kita hadapi sekarang seperti perubahan iklim dan bencana-bencana alam,” kata Dr Tukuitonga.

Sebuah studi yang dilakukan oleh SPC di Fiji, setelah Siklon Winston menunjukkan bahwa kaum perempuan semakin sering mengambil alih peran laki-laki di kampung-kampung, karena laki-laki harus pindah ke kota agar bisa menemukan pekerjaan. Pada saat-saat terburuk menyusul badai Winston, petugas kesehatan masyarakat yang kebanyakan adalah perempuan, di semua desa yang terkena dampak topan itu merasa putus asa saat orang-orang yang terluka mendatangi mereka, untuk mendapat perawatan medis karena jalan dan jembatan ke pusat kesehatan terdekat diblokir oleh pohon-pohon atau tiang listrik yang tumbang.

Meskipun hal-hal seperti itu kerap terjadi, rural women di Pasifik menunjukkan keuletan dan ketangguhan mereka, terutama yang terkait dengan hidup dan bekerja di lingkungan mereka. Rural women Pasifik berjalan sejauh bermil-mil ke kebun-kebun yang mereka buat untuk menanam makanan bagi keluarga mereka dan mereka juga bekerja berjam-jam mengumpulkan produk hasil laut untuk dijual di pasar agar bisa mendapatkan penghasilan bagi keluarga mereka.

Walaupun demikian, rural women di daerah Pasifik menghadapi beberapa tantangan pembangunan paling berat. Menurut data yang ada rata-rata di wilayah Pasifik ini, 50% rural women yang pernah memiliki pasangan hidup pernah mengalami kekerasan fisik dan/atau seksual. Di Di Fiji, 60% rural women dibandingkan dengan 27% perempuan di perkotaan terlibat dalam pekerjaan yang rentan. Penyebaran pendidikan yang intensif tentang informasi dan layanan kesehatan seksual dan reproduksi remaja dibutuhkan untuk kaum muda di Pasifik secara umum dan khususnya untuk perempuan muda di daerah terpencil. Meskipun telah terjadi penurunan kehamilan remaja di seluruh Pasifik, tingkat kesuburan di antara perempuan berusia 15-19 tahun cenderung jauh lebih tinggi di daerah perkampungan daripada di daerah perkotaan.

“Hari Perempuan Internasional adalah momen yang tepat untuk merenungkan keragaman perempuan di Pasifik dan pengalaman individu dan kolektif mereka, serta berbagai cara yang dapat ditempuh agar organisasi-organisasi pembangunan seperti SPC dapat memberikan kontribusi yang berarti dan berkelanjutan bagi kehidupan mereka,” tegas Dr Tukuitonga.

Pemberdayaan perempuan dan anak-anak perempuan di daerah perkampungan akan menjadi tema prioritas pada pertemuan Commission on the Status of Women (CSW) ke-62 di Markas Besar PBB di New York dari tanggal 12 sampai 23 Maret mendatang.

SPC akan mendukung delegasi Kepulauan Pasifik untuk meningkatkan kesadaran masyarakat global akan prioritas perempuan Pasifik, dan untuk berbagi pengalaman dan keprihatinan mereka dalam membangun komunitas yang tangguh.

Upaya peningkatan kesadaran ini akan dilakukan melalui partisipasi mereka dalam acara itu dan diskusi panel. SPC juga akan mendukung negara-negara Kepulauan Pasifik dalam menegosiasikan kesimpulan yang telah disepakati, terutama dalam mengurai prioritas di tingkat global untuk memberdayakan perempuan dan anak-anak perempuan di daerah terpencil. (*)

Dilansir dari The Pacific Community SPC (8/3/2018)

loading...

Sebelumnya

Kiribati tekankan pentingnya hiu bagi penghidupan

Selanjutnya

West Papua gelar 1000 lilin untuk korban gempa PNG

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga

Populer
Polhukam |— Jumat, 18 Mei 2018 WP | 2736x views
Domberai |— Sabtu, 12 Mei 2018 WP | 2558x views
Koran Jubi |— Sabtu, 12 Mei 2018 WP | 1475x views
Koran Jubi |— Sabtu, 12 Mei 2018 WP | 1265x views

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : [email protected]

Copyright © 2013. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe