Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide

  1. Home
  2. Koran Jubi
  3. Katile dan Katilol model konservasi tradisional masyarakat Fafanlap
  • Minggu, 11 Maret 2018 — 23:35
  • 839x views

Katile dan Katilol model konservasi tradisional masyarakat Fafanlap

Penerapan model konservasi tradisional ini berkaitan erat dengan sasi laut dan sasi darat. Ini semua tak lepas dari peran para pemimpin adat atau raja dalam wilayah kekuasaannya di Pulau Misool khususnya Kampung Fafanlap.
Kampung Fafanlaf Pulau Misool, Raja Ampat, Papua Barat – Jubi/Dok.
Dominggus Mampioper
Editor : Edho Sinaga
LipSus
Features |
Sabtu, 18 Agustus 2018 | 15:14 WP
Features |
Sabtu, 18 Agustus 2018 | 15:38 WP
Features |
Sabtu, 18 Agustus 2018 | 09:47 WP

PERHATIAN!!!

Penggunaan sebagian atau seluruh materi dalam portal berita ini tanpa seijin redaksi tabloidjubi.com akan dilaporkan kepada pihak berwenang sebagai tindakan pelanggaran terhadap Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang HAK CIPTA dan/atau UU RI Nomor 19 Tahun 2016 atas perubahan UU RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE)

Papua No. 1 News Portal | Jubi ,

Jayapura, Jubi – Sejumlah larangan bagi masyarakat di Papua, banyak dikenal untuk melindungi sumber daya laut mereka, dari ancaman kerusakan maupun membiarkan alam mengelola kembali lingkungannya. Sebutan samson bagi etnis Matbat di Pulau Misool, sasisen bagi orang Biak dan rajaha bagi orang Maya di Pulau Salawati, dan masyarakat suku Tepera di Kampung Tablanusu menyebutnya tiaitiki, menjadi banyak dari sebutan larangan-larangan itu.

Walau istilah dalam penyebutannya berbeda, tetapi mengandung makna dan arti yang sama yaitu larangan untuk memanfaatkan sumber daya alam dalam jangka waktu tertentu dan kesempatan kepada flora dan fauna tertentu untuk memperbaharui dirinya dalam berkembang biak, memelihara dan memperbanyak populasi sumber daya alam di sekitarnya.

Kampung Fafanlap di Pulau Misool Raja Ampat juga mengenal sasi atau dalam bahasa setempat disebut katilol. Penerapan model konservasi tradisional ini berkaitan erat dengan sasi laut dan sasi darat. Ini semua tak lepas dari peran para pemimpin adat atau raja dalam wilayah kekuasaannya di Pulau Misool khususnya Kampung Fafanlap.

Sasi atau Katilol menurut pandangan mereka sebagaimana dikutip Jubi dari buku  Sasi Katilol Masyarakat Kampung Fafanlap Distrik Misool Selatan, yang ditulis Windy Hapsari dan kawan-kawan  dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Balai Pelestarian Nilai Budaya Papua menyebutkan bahwa, pertama sasi dipandang sebagai tradisi masyarakat, kedua sasi dipandang sebagai hukum adat serta ketiga sasi dipandang sebagai perintah atau larangan yang dikeluarkan  oleh seorang tokoh masyarakat atau seorang raja.

Areal yang menjadi kawasan pelarangan atau Katilol telah lama diterapkan sejak nenek moyang mereka khususnya di Kampung Fafanlap, suku Matbat. Tak heran kalau generasi sekarang masih terus mempertahankannya sehingga lingkungan sekitar mereka tetapi lestari dan asri.

Masyarakat Kampung Fafanlap sebagian besar suku Matbat, telah lama menjalankan proses pelarangan ini baik di laut maupun di daratan antara lain terbagi menjadi dua bagian. Bagian pertama disebut  sasi darat atau dalam bahasa Matbat disebut katile sedangkan sasi laut namanya katilol.

Waktu untuk menentukan sasi biasanya sengaja diatur dan kedua tak disengaja. Sasi yang disengaja biasanya ditentukan karena kebutuhan dan memperhatikan kondisi laut maupun hasil pertanian yang berkurang sehingga ada larangan untuk mengembalikan kualitas lingkungannya.

Sedangkan sasi yang tidak disengaja, bisa terjadi karena faktor iklim atau kalender musiman masyarakat di kampung. Kalau musim angin timur (sawi) biasanya membawa gelombang besar (ombak) dan angin sehingga nelayan tak berani melaut. Biasanya mereka menunggu sampai cuaca atau iklim bersahabat dengan mereka baru turun melaut.

Musim ini terjadi hampir selama enam bulan, silih berganti antara angin barat (moropat) dan musim angin timur (sawi). Ada beberapa kampung terdapat pula musim dan angin yang berbeda, tergantung dengan letak georafis masing-masing wilayah kampung.

Sasi juga termasuk bagian dari kalender musiman masyarakat di kampung Fafanlap, melihat dengan adanya tanda tanda alam terutama berkaitan dengan sasi laut atau katilol  terlihat dari tanda pergantian antar air surut atau meti dan air pasang atau pengakuan batas daerah  dalam mencari (mos).

Adapun sasi terdiri dari beberapa jenis, antara lain sasi agama dan sasi adat. Sasi agama biasanya kebutuhannya untuk keperluan keagamaan. Misalnya sasi terhadap pohon kelapa, larangan ini berlaku kepada warga untuk tidak boleh memanen buah kelapa. Saat sasi kelapa dibuka, hasilnya untuk kepentingan keagamaan baik ibadah maupun pembangunan gedung ibadah.

Sedangkan sasi adat sudah jarang dilaksanakan lagi sejak 2001, namun setiap klen atau keret masih memberlakukannya sesuai dengan wilayah adat masing-masing. Faktor yang menjadi penyebab menurunnya pelaksanaan sasi laut karena berkurangnya peran pemerintahan adat termasuk perselisihan antara mereka sendiri.

Walau demikian pelaksanaan sasi laut masih tetap berlaku khususnya di Kampung Fafanlap yang dipimpin oleh seorang kapitla yang merupakan singkatan dari kapitan laut. Kapitla di kampung Fafanlap berasal dari marga Soltif. Sebagai pemimpin adat Soltif dibantu oleh Sangaji, Marin dan Sawo.

Marin adalah pesuruh yang bertugas menyampaikan perintah dari Kapitla di Kampung Fafanlap dari marga Soltif. Seorang marin berasal kampung Fafanlap adalah marga Wainsaf.(*)
 

loading...

Sebelumnya

Suku Momuna: Berburu, meramu dan kepercayaan

Selanjutnya

Bayar “kepala” tak menyelesaikan konflik

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga

Terkini

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : [email protected]

Copyright © 2013. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe