Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide

  1. Home
  2. Pilkada Papua
  3. Tiga faktor penyebab konflik Pilkada
  • Senin, 12 Maret 2018 — 18:38
  • 954x views

Tiga faktor penyebab konflik Pilkada

"Ini yang harus kita hindari. Jadilah tim sukses yang terhormat dan bermartabat. Boleh-boleh saja mendukung paslonnya namun jangan sampai menjatuhkan paslon lainnya," katanya.
Proses deklarasi Pilkada damai yang berlangsung di halaman kantor Gubernur - Jubi/Roy Ratumakin.
Roy Ratumakin
Editor : Edho Sinaga

PERHATIAN!!!

Penggunaan sebagian atau seluruh materi dalam portal berita ini tanpa seijin redaksi tabloidjubi.com akan dilaporkan kepada pihak berwenang sebagai tindakan pelanggaran terhadap Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang HAK CIPTA dan/atau UU RI Nomor 19 Tahun 2016 atas perubahan UU RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE)

Papua No. 1 News Portal | Jubi ,

Jayapura, Jubi - Komisioner Komisi Pemilihan Umum (KPU) Papua, Isak Hikoyabi mengatakan, ada tiga faktor utama penyebab konflik horizontal dalam penyelenggaraan pemilihan kepala daerah (Pilkada) di Indonesia khususnya di Papua.

Yang pertama menurutnya ada di penyelenggara, baik dari KPU, Bawaslu, hingga petugas yang berada di daerah-daerah. 

"Tidak tegasnya pihak penyelenggara, yang membuat konflik itu terjadi. Dimana ada pelanggaran, namun tidak diberikan tindakan oleh pihak penyelenggara sehingga terjadilah konflik antar masyarakat pendukung Paslon," kata Hikoyabi saat menghadiri acara doa bersama yang diadakan oleh Bawaslu Papua, Senin (12/3/2018)malam.

Dikatakan, untuk faktor kedua adalah, pasangan calon. Kenapa pasangan calon (Paslon)? Paslon sering melakukan pelanggaran yang sebenarnya diketahuinya.

"Misalnya jangan melakukan kampanye di luar jadwal yang ditentukan oleh pihak penyelenggara dan sebagainya," ujarnya.

Potensi konflik yang ketiga disebabkan oleh para tim sukses dari pasangan calon tersebut. Konflik seakan dipicu dari status di sosial media, yang di unggah oleh tim pemenangan, atau simpatisan pasangan calon tertentu yang menyerang pasangan calon lain.

"Ini yang harus kita hindari. Jadilah tim sukses yang terhormat dan bermartabat. Boleh-boleh saja mendukung paslonnya namun jangan sampai menjatuhkan paslon lainnya," katanya.

Hikoyabi mengatakan, konflik horizontal yang sering terjadi di Papua adalah karena perebutan tanah, ataupun mencuri ternak milik orang lain. Namun kini, konflik tersebut berkembang pesat dengan disusupi oleh kepentingan politik calon-calon tertentu yang ingin maju pada Pilkada.

"Kita jangan mengorbankan masyarakat. Seharusnya pilkada di Papua aman, dan ini yang kita harapkan bersama. Untuk itu, mari kita sama-sama menjaganya. Dan untuk pihak penyelenggara, paslon dan juga tim kampanye untuk bergandengan tangan agar pilakada 2018 ini berjalan aman dan lancar," harap Hikoyabi.

Ditempat yang sama, Ketua Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Papua, Fegie Y Wattimena mengatakan, pihaknya akan terus melakukan pengawasan pada Pilkada 2018 sehingga bisa berjalan dengan aman dan lancar.

"Kadang kami di tolak di TPS-TPS, ada yang bilang tidak butuh pengawas. Tapi kami jalan saja sesuai dengan tugas kami. Karena ujung-ujungnya juga ketika berkonflik pasti kami dibutuhkan," katanya.

Dikatakan, ketika salah satu Paslon dirugikan pada proses Pilkada, maka Paslon tersebut akan datang ke pihaknya.

"Tidak mungkin kan sengketa Pilkada dilaporkan ke pihak kepolisian atau TNI. Pastinya larinya ke kami. Untuk itu, jangan alergi dengan kehadiran kami," pinta Wattimena. (*)

loading...

Sebelumnya

Saling lapor, Bawaslu Papua: JOSUA dan LUKMEN tak cukup bukti

Selanjutnya

Panwas: Kampanye Lukmen di Nabire tidak menyalahi aturan

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga

Populer

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : [email protected]

Copyright © 2013. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe