Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide

  1. Home
  2. Perempuan dan Anak
  3. Bocah pecandu Aibon yang menanti perhatian orang tua
  • Rabu, 14 Maret 2018 — 07:41
  • 977x views

Bocah pecandu Aibon yang menanti perhatian orang tua

“Saya begini dari waktu (sejak) mama meninggal tahun 2013. Kalau sa pu(nya) bapa bos (pejabat) di Dogiyai, tapi dia tidak tinggal di rumah. Biasanya dia (bapa) naik turun ke Nabire saja,” kata Ria.
Banyak anak-anak yang minim perhatian orang tua putus sekolah dan menjadi candu lem aibon di Dogiyai. Foto, anak-anak pecandu lem aibon di salah satu para-para pinang yang tidak digunakan lagi.-Jubi/Abeth You
Abeth You
Editor : Yuliana Lantipo
LipSus
Features |
Kamis, 20 September 2018 | 09:41 WP
Features |
Rabu, 19 September 2018 | 16:08 WP
Features |
Selasa, 18 September 2018 | 07:24 WP
Features |
Senin, 17 September 2018 | 19:13 WP

PERHATIAN!!!

Penggunaan sebagian atau seluruh materi dalam portal berita ini tanpa seijin redaksi tabloidjubi.com akan dilaporkan kepada pihak berwenang sebagai tindakan pelanggaran terhadap Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang HAK CIPTA dan/atau UU RI Nomor 19 Tahun 2016 atas perubahan UU RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE)

Papua No. 1 News Portal | Jubi ,

KELIMA ANAK itu sedang duduk bersila di atas para-para beratapkan seng, di depan sebuah rumah warga di pinggir kali Tukaa, sekitar pukul 10 lebih saat Jubi menyambangi mereka. Dua diantaranya terdapat anak perempuan.

Tangan anak-anak yang tak berseragam pada jam sekolah hari Kamis itu, memegang botol air mineral tapi bukan berisi air putih. Isinya berwarna kuning kental. Mereka bilang, itu lem aibon. Saat didekati, dengan lincah tangan yang memegang botol berisi lem tersebut disembunyikan di balik baju. Ada pula yang menjepit di bawah ketek.

“Kenapa tidak ke sekolah?” tanya Jubi, Kamis, 1 Maret 2018.

“Saya tidak sekolah dari kecil. Kalau saya punya orang tua, saya mau sekolah. Saya mau jadi dokter,” jawab Yubelian Anouw.

“Saya tinggal pindah-pindah dengan teman-teman,” sambil menunduk, “yang penting bisa makan minum dan senang dengan teman-teman,” lanjut gadis yang sekiranya berusia anak SMP itu.

Suasana berubah hening. Setelah saling bertatap yakin, Ria—anak perempuan lain dalam kelompok itu, mendapatkan kepercayaan diri untuk bercerita tentang apa yang melatarbelakanginya sehingga ia terjerumus ke jalan yang membuatnya menjadi candu pada lem aibon.

Sa punya orang tua tidak pernah menetap di rumah. Lebih banyak naik turun kota (Dogiyai-Nabire), jadi saya bisa senang-senang main dengan teman-teman di sini,” ujar siswi kelas 2 pada sebuah SMP di kota Moanemani ini.

Gadis yang sudah memasuki usia 12 tahun ini sudah kehilangan sosok ibu sejak duduk di kelas 4 SD. Sementara itu, Ria masih memiliki sosok bapak namun jarang meluangkan waktu bersamanya.

“Saya begini dari waktu (sejak) mama meninggal tahun 2013. Kalau sa pu(nya) bapa bos (pejabat) di Dogiyai, tapi dia tidak tinggal di rumah. Biasanya dia (bapa) naik turun ke Nabire saja,” kata Ria.

Begabung bersama kelompok penyuka ‘lem kaleng kuning’ itu rupanya menjadi hiburan tersendiri bagi Ria. “Ini sudah jalan tiga tahun. Tapi kalau cium aibon itu jarang-jarang saja, tidak terlalu sering,” ucapnya.

Yubelian dan Ria, hanya dua anak perempuan di kabupaten Dogiyai yang berani bercerita tentang drama hidup yang diperankannya di dunia ini tanpa bimbingan orang tua untuk memilih jalur yang baik bagi masa depannya.

Ria kembali berujar, “Sebenarnya saya mau melanjutkan sekolah dengan baik asal ada perhatian dari orang tua (bapa). Dia juga tidak biasa tanya tentang sa punya sekolah. Jadi, kalau ingat teman-teman di sini, saya langsung lupa sekolah. Sa lebih senang gabung dengan mereka,” ujar Ria yang mengaku, “kalau hari minggu, saya rajin ke gereja.”

Percakapan Jubi bersama anak-anak yang dimulai dalam suasana agak tegang itu, berlarut menjadi lebih cair. Satu per satu anak-anak bercerita meski keberatan dituliskan namanya. Kaleng kuning bertuliskan lem aibon pun dengan terang-terangan dikeluarkan dari balik baju dan ketek mereka.

Dibalik wajah keras tiga bocah laki lainnya, masing-masing hanya berkata singkat bahwa masih memiliki orang tua lengkap namun ia (seperti) dibebaskan untuk menjalani hari-harinya dan jarang mendapat perhatian. Adapula yang hanya memiliki salah satu orang tua dan ada pula yang bernasib sama dengan Yubelian—yatim piatu.

“Saya tidak tahu,” jawab seorang bocah sambil memandang ke tanah, menjawab tanya Jubi tentang cita-citanya kelak.

Tak terasa terik matahari menyilaukan pandangan kami. Sebelum meninggalkan sekelompok bocah ini, Jubi pun mengeluarkan kamera sambil meminta izin untuk memotret aktifitasnya dari kejauhan.

Permintaan itu pun ditanggapi dengan perlawanan, seolah ada trauma.

“Itu polisi yang foto, ayo bubar,” ketus salah satu bocah sembari memasukan kaleng lem aibon ke dalam noken kecil, diikuti kawannya.

“Adik, saya bukan polisi. Saya hanya wartawan,” Jubi menjelaskan tujuan memotret dan menulis sepenggal kisah anak-anak yang candu terhadap lem aibon tersebut.

Mereka saling mengangguk, tanda setuju.

Hingga tulisan ini diterbitkan, Jubi belum berhasil mewawancarai salah satu orang tua maupun wali anak-anak pecandu lem aibon tersebut.

Orang tua harus serius

Dalam pekan kedua Maret 2018, Jubi berkesempatan bertemu Benediktus Goo. Ia adalah guru Bimbingan Konseling di SMA Negeri 2 Dogiyai.

Selain Ria, Yubelian, dan tiga temannya, Benediktus telah menerima keluhan yang mirip seperti kisah mereka berlima, dari para siswa-siswa di sekolahnya.

“Intinya, anak-anak mengeluhkan butuh perhatian orang tua mereka. Anak-anak itu sedang mencari orang tuanya,” kata Benediktus.

Menurut Benediktus, pola hidup sebagian anak-anak tidak teratur. Sebut saja waktu makan. Ia mengaku, kerap mendapati siswanya yang mengaku lapar saat jam sekolah.

“Ketika orang tua pergi pagi dan pulang malam, di rumah tidak ada orang tua. Tidak ada makanan, minuman. Terpaksa anak harus mencari teman-teman untuk mencium lem aibon itu.

“Setelah saya telusuri, tujuan dari isap aibon itu untuk mencuri bahan makanan di kios karena mereka lapar,” kata Benediktus dengan nada meninggi.

Ia meminta para orang tua dan wali murid lebih meluangkan banyak waktu bersama anak-anaknya dan mencegah mereka lebih jauh menjadi candu terhadap lem aibon tersebut. (*)

 

loading...

Sebelumnya

Permudah pajak, Pemkot Jayapura bangun kerjasama dengan DJP dan Bank Papua

Selanjutnya

Cara pejabat gubernur Soedarmo membudayakan minum kopi Papua

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga

Populer

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : [email protected]

Copyright © 2013. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe