Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide

  1. Home
  2. Bali NTT
  3. Masyarakat Lamalera akan tetap menangkap ikan paus
  • Jumat, 04 November 2016 — 14:48
  • 3127x views

Masyarakat Lamalera akan tetap menangkap ikan paus

Kendati menerima berbagai kritik dan larangan, masyarakat Lamalera di Kabupaten Lembata tetap mempertahankan budaya menangkap ikan paus.
Ilustrasi. Penangkapan ikan paus oleh masyarakat Lamalera. –tempo.co
ANTARA
Editor : Lina Nursanty
LipSus
Features |
Sabtu, 18 Agustus 2018 | 15:14 WP
Features |
Sabtu, 18 Agustus 2018 | 15:38 WP
Features |
Sabtu, 18 Agustus 2018 | 09:47 WP

PERHATIAN!!!

Penggunaan sebagian atau seluruh materi dalam portal berita ini tanpa seijin redaksi tabloidjubi.com akan dilaporkan kepada pihak berwenang sebagai tindakan pelanggaran terhadap Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang HAK CIPTA dan/atau UU RI Nomor 19 Tahun 2016 atas perubahan UU RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE)

Jubi | Portal Berita Tanah Papua No. 1,

Kupang, Jubi – Kendati menerima berbagai kritik dan larangan, masyarakat Lamalera di Kabupaten Lembata tetap mempertahankan budaya menangkap ikan paus. Hal itu karena berkaitan erat dengan nilai-nilai kehidupan sosial-religius masyarakat setempat yang sudah diwariskan secara turun-temurun.

"Ini alasan mendasar masyarakat Lamalera, sehingga mereka tetap terus mempertahankan budaya menangkap ikan paus dengan cara-cara yang tradisional pula," kata Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Nusa Tenggara Timur Marius Ardu Jelamu saat ditemui Antara di Kupang, Jumat (4/11/2016).

Dia mengatakan, budaya menangkap ikan paus tersebut tidak terlepas dari unsur kehidupan seperti ritual di rumah adat, paledang (perahu yang digunakan untuk menangkap ikan paus), layar dan orang-orang yang diutus khusus untuk melakukan penangkapan.

Budaya menangkap ikan paus sudah dilarang oleh berbagai negara di dunia melalui moratorium pada tahun 1982 lewat Komisi Penangkapan Paus Internasional. "Namun banyak negara maju seperti Jepang, Amerika Serikat, Kanada, Selandia Baru, misalnya, menangkap ikan paus untuk tujuan bisnis dan perdagangan dengan peralatan modern," ujarnya.

Akibat aksi penangkapan ikan dengan peralatan modern untuk tujuan bisnis tersebut, dikhawatirkan akan mengganggu habitat ikan paus sehingga dilarang melalui moratorium terserbut.

Namun, kata Marius, hal ini beda dengan tradisi menangkap ikan paus yang dilakukan oleh masyarakat Lamalera di selatan Pulau Lembata, Kabupaten Lembata itu. "Masyarakat Lamalera masih tetap menggunakan peralatan tradisonal untuk menangkap ikan paus yang sudah berlangsung ratusan tahun, dan hasil tangkapan tersebut untuk konsumsi lokal masyarakat setempat," katanya.

Selain itu, masyarakat juga tidak menangkap ikan paus kecil, predator, ataupun paus yang sedang dalam keadaan bunting atau yang dilindungi. "Daging ikan paus yang ditangkap kemudian ditukar (barter) dengan hasil pertanian masyarakat dari pegunungan seperti beras, jagung, ubi, sayuran, dan lainnya," katanya. (*)

loading...

Sebelumnya

Lampu laser ganggu penerbangan

Selanjutnya

APINDO minta pemanfaatan tol laut lebih maksimal

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : [email protected]

Copyright © 2013. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe