Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide

  1. Home
  2. Domberai
  3. Perdasus budaya pinang: Selain OAP tak boleh jual
  • Kamis, 22 Maret 2018 — 22:50
  • 1301x views

Perdasus budaya pinang: Selain OAP tak boleh jual

"Saatnya mama-mama Papua kuasai bisnis komoditi buah Pinang. Dalam perdasus ini akan mengatur demikian agar selain OAP dilarang menjual buah Pinang. Silahkan dagangkan apa saja, tapi berikan kesempatan buah pinang khusus bagi OAP," ujar Yoteni menambahkan. 
Kelyopas Krey, Ketua tim penyusun raperdasus budaya pinang (kiri) bersama Yan Yoteni Ketua Fraksi Otsus DPR Papua Barat (kanan) - Jubi/Hans Arnold.
Admin Jubi
Editor : Edho Sinaga
LipSus
Features |
Senin, 23 April 2018 | 13:37 WP
Features |
Selasa, 17 April 2018 | 13:24 WP

PERHATIAN!!!

Penggunaan sebagian atau seluruh materi dalam portal berita ini tanpa seijin redaksi tabloidjubi.com akan dilaporkan kepada pihak berwenang sebagai tindakan pelanggaran terhadap Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang HAK CIPTA dan/atau UU RI Nomor 19 Tahun 2016 atas perubahan UU RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE)

Papua No. 1 News Portal | Jubi ,

Manokwari, Jubi - Draf peraturan daerah khusus (perdasus) tentang budaya Pinang (buah pinang) di Provinsi Papua Barat segera dibahas dan disahkan oleh Fraksi Otonomi Khusus DPR Papua Barat. 

Perdasus budaya pinang tersebut, garis besarnya mengakomodir hak-hak dasar Orang Asli Papua (OAP) yang melekat erat dengan budaya konsumsi Pinang dan memberikan ruang khusus bagi OAP berpenghasilan melalui pengembangan komoditi buah Pinang. 

Perdasus nomor 30 Tahun 2018 ini  sementara dibahas oleh Tim Perdasus Fraksi Otsus DPR Papua Barat, dan dalam waktu dekat segara disahkan. 

"Draf perdasusnya sudah kami terima, sekarang masih dibahas oleh tim Perdasus.  Paling cepat tanggal 27 Maret 2018 sudah bisa disahkan," ujar Yan Yoteni Ketua Fraksi Otsus DPR Papua Barat, Kamis (22/3/2018). 

Dikatakan Yoteni, fungsi legislasi Otsus pada fraksi Otsus DPR Papua Barat harus dimanfaatkan untuk memproteksi bagian yang menjadi simbol jati diri OAP. Salah satunya budaya konsumsi buah pinang. Disamping itu kata Yoteni, sudah saatnya mama-mama Papua menguasai bisnis komoditi buah pinang karena terikat erat dengan budaya. 

Hal ini kata dia, mengingat saat ini komoditi buah pinang di pasar rakyat tidak saja dikuasai oleh OAP tapi sudah menjadi bagian bisnis warga nusantara yang latar belakang budaya mereka tidak berkaitan erat dengan budaya konsumsi buah Pinang. 

"Saatnya mama-mama Papua kuasai bisnis komoditi buah Pinang. Dalam perdasus ini akan mengatur demikian agar selain OAP dilarang menjual buah Pinang. Silahkan dagangkan apa saja, tapi berikan kesempatan buah pinang khusus bagi OAP," ujar Yoteni menambahkan. 

Sementara itu, Kelyopas Krey, Ketua tim penyusun draf rancangan peraturan daerah khusus (raperdasus) budaya pinang mengatakan, buah pinang (Areca catechu) di tanah Papua sudah menjadi budaya turun temurun oleh orang asli Papua. Selain membudaya, pinang juga sebagai perekat sosial sesama OAP. Sampai pada urusan sidang adat sekalipun, pinang sebagai media perdamaian.

"Latar belakang budaya konsumsi pinang di tanah Papua cukup tinggi, sehingga dari sisi ekonomi menjadi salah satu mata pencaharian sebagian besar OAP yang bergelut sebagai penjual pinang di pasar, emperan jalan, bahkan di halaman rumah,” ujar Krey.

Dikatakan Krey, tujuan dari perdasus budaya pinang tersebut memiliki pertimbangan aspek budaya (kearifan lokal) dan pinang juga menjadi salah satu potensi Daerah yang selama ini memberikan kontribusi nyata dalam peningkatan ekonomi rumah tangga OAP. 

"Diketahui bahwa sebagian besar OAP jual pinang menjadi sumber pendapatan sehari-hari. Bisa dari malam sampai pagi, makanya kita bisa katakan bahwa buah pinang sebagai tulang punggung ketika OAP tidak punya sumber pendapatan lain.

Jadi, dalam perdasus ini juga budidaya pohon Pinang harus dilindungi," ujarnya.  

Perdasus ini, lanjut Krey, mengatur bahwa kekhususan yang dimiliki OAP itu menjadi dasar pemberdayaan ekonomi. Bahwa hanya OAP yang boleh menjual pinang sebagai satu bentuk perlindungan budaya, dan itu merupakan hak OAP dalam UU nomor 21 tahun 2001 tentang Otsus. 

Dalam perdasus ini juga, melarang warga non Papua untuk menjual komoditi pinang. Sehingga tidak mengganggu hak dasar OAP secara khusus. 

"Pinang sudah masuk budaya turun temurun, pinang jadi perekat dalam proses mediasi masalah antara sesama OAP. Sehingga pinang akan menjadi aset sumber daya hayati di Tanah Papua," ujar Krey menjelaskan.(*/Hans Arnold) 

loading...

Sebelumnya

STIH Manokwari dokumentasikan sidang korupsi di Papua Barat

Selanjutnya

Diduga selewengkan dana desa, empat kepala kampung di Manokwari jadi target polisi

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga

Populer
Lembar Olahraga |— Minggu, 22 April 2018 WP | 8909x views
Berita Papua |— Jumat, 20 April 2018 WP | 3351x views
Pasifik |— Senin, 23 April 2018 WP | 2087x views

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : [email protected]

Copyright © 2013. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe