Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide

  1. Home
  2. Koran Jubi
  3. Berjuang tanpa honor di Weasi
  • Selasa, 10 April 2018 — 11:02
  • 735x views

Berjuang tanpa honor di Weasi

Selama sembilan tahun Geradus bekerja sebagai kader kesehatan di Desa Weasi, Kabupaten Yahukimo. Meski tidak mendapat honor, ia melayani pengobatan masyarakat sekuat tenaga di tengah berbagai penyakit yang diderita warga.
Geradus Husage memperlihatkan obat yang sudah kedaluwarsa – Jubi/ Piter Lokon
Piter Lokon
Editor : Syofiardi
LipSus
Features |
Senin, 23 April 2018 | 13:37 WP
Features |
Selasa, 17 April 2018 | 13:24 WP

PERHATIAN!!!

Penggunaan sebagian atau seluruh materi dalam portal berita ini tanpa seijin redaksi tabloidjubi.com akan dilaporkan kepada pihak berwenang sebagai tindakan pelanggaran terhadap Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang HAK CIPTA dan/atau UU RI Nomor 19 Tahun 2016 atas perubahan UU RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE)

Papua No. 1 News Portal | Jubi ,

MELIHAT kondisi kesehatan warga di Desa Weasi sungguh menyedihkan. Terlebih desa di Kabupaten Yahukimo ini jauh dari jangkauan transportasi. Satu-satunya jalan untuk menuju Weasi adalah dengan menumpang aniwu, istilah pesawat oleh suku Hubla.

Weasi salah satu kampung kecil di wilayah Husagama, sebutan orang-orang tua yang diberikan saat daerah ini masih bagian dari Kabupaten Jayawijaya di bawah Distrik Kurima.

Kabupaten Yahukimo dimekarkan pada 2003. Sejak itu Husagama dijadikan Distrik Werima. Distrik ini terdiri dari 14 desa, termasuk Desa Weasi. Di desa ini terdapat 11 kampung dan ada tiga gereja. Ketiga gereja adalah dua gereja GKI dan satu gereja Kingmi Papua.

Kesebelas kampung adalah Mike, Wimpalekma, Pisaima, Mulugisimo, Wimsilimo, Huguwie, Sawenekama, Wurua, Woroma, Satuagama, dan Weasi.

Menuju ke Werima dari kota Dekai, Yahukimo tidak efektif melalui jalan darat, karena satu minggu dalam perjalanan. Satu-satunya pilihan masuk akal masyarakat di sana adalah menumpang pesawat perintis (berbadan kecil) yang disubsidi pemerintah, seperti MAF, AMA, Ama Dojo, Susi Air, dan Demonim Air yang beroperasi ke lapangan perintis pegunungan Yahukimo di distrik-distrik.

Warga Werima di Desa Weasi yang ingin ke kampungnya dari Dekai naik pesawat Demonim Air dan turun di Pasema, distrik tetangga. Kemudian berjalan kaki ke Werima.

“Dekat di hati jauh di mata”, itulah istilah yang tepat untuk tiba ke sana. Orang harus berjalan kaki dengan turun-naik gunung, menyebarang kali Baliem, naik gunung, dan menyeberang sungai.

Becek pun membuat sepatu berlumpur hingga lutut. Hujan gerimis pun tak dihiraukan, tak ada tempat untuk berteduh di perjalanan.

Ketika Jubi sampai di Kampung Weasi, ada anak-anak sedang melakukan permainan. Rasa dingin pun dirasakan karena Weasi ada di tengah-tengah daerah endemis panas dan dingin. Di Weasi Jubi bertemu ‘Hamba Tuhan’ bernama Oktovianus Matuan dari gereja GKI. Kemudian melanjutkan perjalanan ke Pisaima satu malam satu hari dan keesokan harinya ke Kampung Weasi untuk ibadah.

Geradus Husage, 27 tahun, juga bertindak sebagai kader kesehatan di Desa Weasi. Meski di sana ia satu-satunya yang dikenal sebagai orang yang bertugas melayani kesehatan, namun ia bekerja tanpa dihonor.

“Ketika saya melihat banyak masyarakat saya sakit, maka saya dengan sukarela bekerja untuk masyarakat saya di Distrik Werima,” kata Husage kepada Jubi.

Ia menambahkan karena tidak adanya obat membuat banyak masyarakat di sana sakit dan meninggal.

“Pemerintah tidak jamin obat sehingga masyarakat saya korban lebih,” katanya.

Ia mengaku menjadi kader di Weasi selama sembilan tahun sejak 2010. Husage memperlihatkan obat yang habis masa berlakunya (expired). Karena mendapatkan obat yang habis masa berlakunya ia tidak memberikan obat tersebut.

Untuk memberikan pengobatan kepada masyarakat ia mengaku membeli obat di Puskesmas Pembantu (Pustu) lain di distrik tetangga dengan uang pribadi Rp 300 ribu hingga Rp 500 ribu.

“Saya mau minta obat kemana? Terpaksa saya pergi ke Distrik Ukha membeli obat di sana, minta sebanyak tiga kali dan obat tersebut sudah saya berikan kepada warga yang sakit,” katanya.

Ia sudah membeli obat tiga kali dan sudah diberikan kepada warga yang sakit hampir di seluruh kampung di Distrik Werima, seperti Desa Wesagalep, Weasi, Hesem, sampai Desa Pukam.

“Walapun ada kader juga di sana, tetapi masyarakat lebih suka minta pelayanan dari saya. Jadi saya bawa obat itu dan sudah jamin banyak orang. Jadi obat juga sudah habis,” kata Husage di Desa Weasi, Minggu, 18 Maret 2018.

Geradus berharap pemerintah bisa memperhatikan nasibnya sebagai honorer dengan memberinya penghasilan gaji. Ia lebih memilih tinggal dan bertahap di kampung karena dengan dia menetap di sana bisa memberikan pengobatan.

“Bapak saya bekerja tanpa honor maka saya harap pemerintah bisa perhatikan nasib saya ke depan dengan menerima saya sebagai kader honorer tetap di Werima dan kalau bisa kami di sini juga bisa kasih Pos Pembantu (Postu) kesehatan satu di Desa Weasi supaya kami juga punya obat dan saya bisa punya obat sendiri dan tidak beli-beli obat lagi seperti sekarang, maka saya harap pemerintah dengar aspirasi saya ini,” katanya.

Geradus mengatakan akhir-akhir ini jumlah orang yang meninggal di lima desa tersebut sebanyak 53 orang di antaranya di Wesagalep 21 orang, Lokon 7 orang, Hipia 8 orang, Liwuk 7 orang, dan Kampung Weasi 10 orang.

Kepala SD Inpres Pilo-pilo, Welpianus Elopore, berharap adanya bantuan obat dan tenaga medis yang ditugaskan di Weasi agar masyarakat yang sakit bisa mendapatkan pelayanan kesehatan.

“Kami sangat mengalami kesulitan obat, memang ada kader yang sementara ini menjadi sukarelawan, Geradus Husage, yang bekerja tanpa digaji, tetapi kasihan obat juga tidak ada,” katanya. (*)

loading...

Sebelumnya

Selatan Papua jadi misi berlayar Rainbow Warrior (2)

Selanjutnya

Dispensasi buat kredit guru

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga

Populer
Lembar Olahraga |— Minggu, 22 April 2018 WP | 8160x views
Berita Papua |— Jumat, 20 April 2018 WP | 3299x views
Pasifik |— Senin, 23 April 2018 WP | 2045x views

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : [email protected]

Copyright © 2013. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe