Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide

  1. Home
  2. Pasifik
  3. Alasan remaja perempuan dilarang rugby
  • Selasa, 10 April 2018 — 16:05
  • 372x views

Alasan remaja perempuan dilarang rugby

Jadi, apakah Fifita akan menentang kebijakan pemerintah? Apakah dia menunjukkan isyarat pembangkangan kepada Perdana Menteri yang telah dengan jelas menyatakan posisi anti-diskriminasi mereka?
Menteri Pendidikan Tonga, Penisimani Fifita, melarang remaja perempuan di sekolah menengah atas Tonga tidak bermain olahraga rugby atau tinju. - Lowy Institute/Vicki Hudson/Flickr.
Elisabeth Giay
Editor : Galuwo
LipSus
Features |
Senin, 23 April 2018 | 13:37 WP
Features |
Selasa, 17 April 2018 | 13:24 WP

PERHATIAN!!!

Penggunaan sebagian atau seluruh materi dalam portal berita ini tanpa seijin redaksi tabloidjubi.com akan dilaporkan kepada pihak berwenang sebagai tindakan pelanggaran terhadap Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang HAK CIPTA dan/atau UU RI Nomor 19 Tahun 2016 atas perubahan UU RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE)

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Oleh Ofa-ki-Levuka (‘Ofa) Guttenbeil-Likiliki

Saya pikir Tonga telah menyelesaikan masalah ini, ketika Kantor Perdana Menteri Tonga mengeluarkan penyataan untuk media Maret lalu, yang menyatakan bahwa semua siswa, baik perempuan maupun laki-laki, wajib memiliki akses terhadap semua olahraga di sekolah-sekolah. Pesan dari pernyataan itu jelas: tidak boleh ada diskriminasi dalam pemberian akses dan partisipasi kegiatan olahraga sama sekali.

Deklarasi itu diumumkan sebagai tanggapan terhadap larangan yang diberlakukan sebelumnya, atas perintah Menteri Pendidikan negara tersebut yang melarang siswa-siswa perempuan di sekolah menengah atas Tonga agar tidak bermain olahraga rugby atau tinju, konon karena alasan budaya dan tradisi.

Menurut saya bahwa pernyataan PM ʻAkilisi Pōhiva telah menanggulangi drama yang memalukan itu dengan cukup baik. Namun, dalam komentar yang diucapkannya baru-baru ini kepada Radio New Zealand, Menteri Pendidikan Tonga, Penisimani Fifita, telah mengembalikan masalah ini ke posisi awal:

Ingat bahwa Anda berbicara dari Selandia Baru. Lingkungan dan budaya di sana berbeda dengan kita di sini di Tonga. Jadi Anda berbicara dari budaya yang satu ke budaya yang berbeda. Ini yang kami percaya. Hanya remaja-remaja perempuan di Sekolah Menengah Atas Tonga yang tidak diizinkan bermain rugby dan juga terlibat dalam tinju di sekolah. Anda tahu bahwa ada beberapa organ tubuh dari perempuan - saya pikir saya tidak perlu melanjutkan penjelasan saya. Itu adalah keputusan kami.“

Jadi, apakah Fifita akan menentang kebijakan pemerintah? Apakah dia menunjukkan isyarat pembangkangan kepada Perdana Menteri yang telah dengan jelas menyatakan posisi anti-diskriminasi mereka?

Komentar Fifita ini secara terang-terangan bertentangan dengan kebijakan nasional Tonga saat ini, tentang gender dan pembangunan (Gender and Development; GAD), yang diimplementasikan oleh Kementerian Dalam Negeri Tonga.

Kebijakan GAD, yang diresmikan pada 2001 oleh Raja Tonga saat ini (yang saat itu menjabat sebagai perdana menteri Tonga), bertujuan mulia untuk mencapai kesetaraan gender dalam semua bidang kehidupan publik dan pribadi di Tonga.

Tonga telah meratifikasi Konvensi PBB tentang Hak-hak Anak (Convention on the Rights of the Child; CRC) pada 1995, dan berkomitmen untuk mendorong dan mendukung pengembangan holistik setiap anak di negara itu, dengan memastikan hak-hak mereka untuk menerima perlindungan, kesehatan, pendidikan, pertumbuhan pribadi, dan hak untuk bermain.

Komitmen itu juga diambil untuk memastikan semua bentuk diskriminasi, termasuk diskriminasi terhadap stereotype gender dan diskriminasi berbasis gender, dihilangkan. Tonga juga berkomitmen untuk mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) 2016–2030, yang mana Tujuan 5 secara spesifik menyerukan kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan.

Undang-undang yang memandu dan mengatur Kementerian Pendidikan Tonga, Undang-Undang Pendidikan Tahun 2013, secara khusus mengatur pengembangan program pembelajaran yang mendukung kesetaraan gender di kalangan semua pelajar.

Pasal yang relevan (s48 [k]) menyatakan bahwa semua program pembelajaran harus bersifat “inklusif untuk semua siswa” dan harus menanggapi kebutuhan pendidikan semua anak, termasuk mereka yang “berkebutuhan khusus, penyandang disabilitas, yang berbakat, dan kedua gender”.

Kebijakan negara dan perundang-undangan dengan jelas mendukung kesetaraan gender di Tonga. Jadi mengapa Fifita membuat pernyataannya yang kontroversial?

Semua ini merujuk kembali kepada sikap pribadinya dan keyakinan sistem yang patriarkal. Walapun Fifita menggunakan argumen budaya dan tradisi, sebagai alasannya untuk melarang remaja-remaja perempuan untuk terlibat dalam olahraga, yang umumnya dimainkan oleh anak laki-laki di sekolah menengah atas negeri setempat, ia merasa itu adalah hak prerogatif maskulinnya untuk melangkah lebih jauh dari itu, dan mengabaikan pernyataan kepala pemerintahannya.

Dia sendiri mengabaikan pernyataan Kantor Perdana Menteri dan tetap melanjutkan larangan tersebut, dan bahwa menyebutkan alasan memalukan yang merujuk kepada organ tubuh wanita, dalam wawancaranya dengan Radio New Zealand untuk membenarkan larangannya.

Untuk menegaskan alasan di balik pemberlakuan larangan tersebut, Fifita juga menyatakan bahwa budaya Tonga berbeda dengan budaya Selandia Baru.

Tidak pernah terdengar keluhan tentang penggunaan sumber daya dan teknologi buatan asing di Tonga - meja, kursi, komputer, ponsel pintar, kabel serat optik yang baru-baru mengalami perbaikan - atau tentang mengenakan pakaian bergaya Barat, membeli makanan Barat, mengendarai kendaraan Barat, berbicara bahasa Inggris, mendengarkan musik asing, atau menonton film asing dan konten media online.

Ini karena kata “budaya” hanya digunakan sebagai alasan ketika terkait dengan persoalan kaum perempuan dan anak-anak perempuan. Ini semua adalah alasan yang sudah sering terdengar dalam perjuangan kita demi kesetaraan gender di Tonga.

Sampai kita sebagai bangsa dapat bergerak dari pemikiran stereotype gender yang kolot seperti ini, pesan yang kita sebarkan kepada anak-anak perempuan adalah bahwa mereka memiliki keterbatasan karena bagian tubuh tertentu, bahwa mereka memiliki keterbatasan meskipun mereka sebenarnya mampu, dan bahwa ‘memecahkan langit-langit kaca’ adalah bertentangan dengan budaya dan tradisi mereka akan terus berlanjut, seolah memberitahukan kepada mereka bahwa gagasan-gagasan seperti itu tidak boleh dipertimbangkan, tidak boleh diimpikan, atau bahkan dipikirkan.

Dengan pesan-pesan seperti ini, fakta bahwa seorang petinju muda perempuan Tonga, Magan Maka, yang terpilih untuk membawa bendera Tonga saat Commonwealth Games di Gold Coast beberapa hari yang lalu, benar-benar hanya simbol.

Namun semoga simbol itu memberi kita secercah harapan. Harapan akan kasih yang menyelamatkan anak-anak perempuan kita di seluruh Kerajaan Tonga. #LiftTheBan (The Interpreter by Lowy Institute)

Ofa-ki-Levuka (‘Ofa) Guttenbeil-Likiliki adalah seorang perempuan pembuat film dan Direktur dari Pusat Krisis Perempuan dan Anak-anak Tonga di Nuku'alofa.

loading...

Sebelumnya

Pascagempa, air sungai di Provinsi Barat PNG diduga terkontaminasi

Selanjutnya

Kepulauan Cook ragu lulus sebagai negara maju

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga

Populer
Lembar Olahraga |— Minggu, 22 April 2018 WP | 8161x views
Berita Papua |— Jumat, 20 April 2018 WP | 3299x views
Pasifik |— Senin, 23 April 2018 WP | 2045x views

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : [email protected]

Copyright © 2013. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe