Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide

  1. Home
  2. Koran Jubi
  3. Masyarakat di Selatan Papua dekat dengan alam (3)
  • Rabu, 11 April 2018 — 01:55
  • 1405x views

Masyarakat di Selatan Papua dekat dengan alam (3)

“Mau tidak mau, suka tidak suka, hutan harus tetap dijaga dan diselamatkan. Tidak boleh ada kegiatan investasi perkebunan kelapa sawit dalam skala luas,” tegasnya.
Dua kru Kapal Greenpeace Rainbow Warrior yang mengenakan atribut adat saat diterima masyarakat di Kampung Isiaman, Kabupaten Mappi – Jubi/Frans L Kobun
Ans K
Editor : Angela Flassy
LipSus
Features |
Kamis, 20 September 2018 | 09:41 WP
Features |
Rabu, 19 September 2018 | 16:08 WP
Features |
Selasa, 18 September 2018 | 07:24 WP
Features |
Senin, 17 September 2018 | 19:13 WP

PERHATIAN!!!

Penggunaan sebagian atau seluruh materi dalam portal berita ini tanpa seijin redaksi tabloidjubi.com akan dilaporkan kepada pihak berwenang sebagai tindakan pelanggaran terhadap Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang HAK CIPTA dan/atau UU RI Nomor 19 Tahun 2016 atas perubahan UU RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE)

Papua No. 1 News Portal | Jubi ,

KEDATANGAN Kapal Greenpeace Rainbow Warrior di di Kampung Isiaman, Distrik Edera, Kabupaten Mappi mengusung tema “Jelajah Harmoni Nusantara.”

Dalam perjalanan pelayaran tersebut, misi lain yang digaungkan yakni aksi nyata penyelamatan lingkungan oleh masyarakat untuk mengembalikan keseimbangan di alam Nusantara.

Beberapa dekade terakhir, hutan-hutan d Papua mulai ditebang untuk perkebunan kelapa sawit, serupa seperti yang terjadi di Sumatera dan Kalimantan.

Banyak izin penebangan dan perkebunan dikeluarkan tanpa persetujuan masyarakat adat. Masyarakat yang ingin melindungi hutan dan hak adat mereka, telah menolak kehadiran industri besar, karena tak mengindahkan konsep berkelanjutan.

“Kita dari Greenpeace ingin menunjukkan pengelolaan hutan secara berkelanjutan. Selain kampanye, juga strategi untuk pemetaan hutan adat milik masyarakat,” ujar Juru Kampanye Hutan Papua Greenpeace Indonesia, Charles Tawaru.

Tawaru mengaku, khusus di Provinsi Papua Barat, sekira 370 ribu hektar lahan sedang dilakukan pemetaan dan disiapkan agar didorong dalam skema perhutanan sosial.

“Mudah-mudahan apa yang kami lakukan di Papua Barat, juga mendapat respon kawan-kawan lain di Provinsi Papua,” harapnya.

Lhusus di wilayah Selatan Papua, terutama Kabupaten Merauke, telah pembukaan lahan dalam skala luas untuk perkebunan kelapa sawit. “Kenapa  Merauke dilirik, karena memiliki dataran sangat luas,” katanya.

Dia juga mengaku, lahan gambut paling luas di Papua adalah di wilayah Selatan.  Karena memiliki hamparan savanna, kemudian banyak habitat hidup dan sangat unik. Olehnya, hutan yang masih terpelihara baik seperti Mappi, Asmat dan sebagian besar Merauke serta Boven Digoel, harus  tetap dijaga.

“Saya berterimakasih kepada Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Mampi, karena berkomitmen kuat tetap menjaga dan memelihara hutan,” katanya.

Lanjut Tawaru, kawasan hutan di Selatan Papua harus dipertahankan. “Saya kira masyarakat di Selatan Papua yang mencakup empat kabupaten, karakteristik warganya masih bergantung kepada alam. Dimana, hutan  menjadi tempat mencari makan,” katanya.

“Mau tidak mau, suka tidak suka, hutan harus tetap dijaga dan diselamatkan. Tidak boleh ada kegiatan investasi perkebunan kelapa sawit dalam skala luas,” tegasnya.

Ditambahkan, dengan perjalanan Kapal Rainbow Warrior ini, diharapkan pemerintah terus membangun komunikasi bersama Greenpeace, agar mendorong membangun perhutanan sosial serta mendukung ekonomi kreatif masyarakat.

Deputy Head Forest Indonesian Campaign, Achmad Saleh Suhada mengaku, kampanye yang dilakukan selama ini oleh Greepeace untuk mengubah perilaku orang, terutama kalangan investor yang membuka perkebunan kelapa sawit dalam skala luas.

“Deforestasi di Indonesia tak boleh terjadi, karena menjadi penyebab perubahan iklim,” ujarnya.

Achmad mengaku, sejak tahun 2008 silam, Greenpeace hadir di Papua mengampanyekan perlindungan hutan adat masyarakat. “Kita berkampanye agar metode perilaku perusahaan besar seperti Sinar Mas Grup dapat diubah,” katanya.

Wakil Bupati Mappi, Jaya Ibnu Su’ud mengatakan, masyarakat dan pemerintah setempat, telah berkomitmen tetap menjaga dan melindungi hutan. “Kami tidak membuka dan memberikan ruang kepada investor yang berkecimpung dalam perkebunan kelapa sawit,” ujarnya.

Selama ini, menurut Wabup Jaya, hutan milik masyarakat masih terjaga baik. Pemerintah juga berharap kepada Greenpeace agar terus berkoordinasi dan berkerjasama secara terus menerus di waktu mendatang.

“Pak Bupati Mappi, Christosimus Agawemu juga  berkomitmen tak membuka ruang untuk kegiatan investasi, apalagi menyangkut kelapa sawit. Karena dampaknya sangat besar terhadap kelestarian lingkungan maupun ekosistem lain di dalam,” katanya. (Tamat*)

loading...

Sebelumnya

Dispensasi buat kredit guru

Selanjutnya

Karut marut pengelolaan dana desa di Merauke

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga

Terkini

Populer
Polhukam |— Jumat, 21 September 2018 WP | 6139x views
Koran Jubi |— Senin, 17 September 2018 WP | 5732x views
Polhukam |— Kamis, 20 September 2018 WP | 3841x views

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : [email protected]

Copyright © 2013. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe