Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide

  1. Home
  2. Koran Jubi
  3. Pembeli belum menjadi raja di Pasar Mama-Mama
  • Kamis, 12 April 2018 — 06:59
  • 1281x views

Pembeli belum menjadi raja di Pasar Mama-Mama

Di Pasar Mama-Mama Papua tidak hanya 471 penjualnya adalah pedagang asli Papua, tetapi juga memiliki keunikan cara berdagang dan bertingkah khas Papua.
Aktivitas jual beli di Pasar Mama-Mama Papua suatu sore - Jubi/Agus Pabika
Agus Pabika
Editor : Syofiardi
LipSus
Features |
Kamis, 20 September 2018 | 09:41 WP
Features |
Rabu, 19 September 2018 | 16:08 WP
Features |
Selasa, 18 September 2018 | 07:24 WP
Features |
Senin, 17 September 2018 | 19:13 WP

PERHATIAN!!!

Penggunaan sebagian atau seluruh materi dalam portal berita ini tanpa seijin redaksi tabloidjubi.com akan dilaporkan kepada pihak berwenang sebagai tindakan pelanggaran terhadap Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang HAK CIPTA dan/atau UU RI Nomor 19 Tahun 2016 atas perubahan UU RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE)

Papua No. 1 News Portal | Jubi ,

PASAR adalah tempat bertemunya penjual dan pembeli. Pasar tempat penjual berlomba untuk menarik perhatian pembeli, sehingga muncul ungkapan ‘pembeli adalah raja’.

Karena itu dalam proses tawar-menawar seorang penjual harus memberikan pelayanan maksimal, baik senyum, komunikasi yang baik, menawarkan jualan, maupun ketika pembeli meninggalkan tempat jualan.

Namun hal ini berbeda di Pasar Mama-Mamam Papua di Kota Jayapura. Pasar yang diresmikan 7 Maret 2018 ini menampung 471 pedagang mama-mama Papua dari berbagai daerah di wilayah Papua, baik pegunungan maupun wilayah pesisir.

Pasar ini tampak unik dengan rasa kepapuaan yang tinggi. Dengan pedagang asli Papua, maka tentu cara berjualannya juga sangat berbeda.

Jubi yang melihat lebih dekat proses jual-beli yang berlangsung terasa ada perbedaan. Cara berjualan pedagang sedikit agak cuek kepada pembeli ketika terjadi tawar-menawar. Mereka kadang menegur langsung pembeli yang hanya memegang jualan tanpa langsung membeli.

Kondisi seperti ini juga diakui Ketua Solidatitas Pasar Mama-Mama Papua (Solpap) Frengky Warer. Ia mengatakan karena pasar ini merupakan pasar mama Papua dari berbagai daerah dengan berbagai budaya yang beda di Papua, tentu sangat mewarnai pasar dalam proses jual-beli.

“Ada pembeli yang bilang mama-mama ini emosional, misalnya ada seorang pembeli menanyakan satu mama dan pembeli rasa mahal dia pindah ke sebelah, penjual pertama marah sehinga terkesan agak kasar, hal ini berbeda dari pasar lain,” katanya.

Menurutnya kebiasaan ini sudah merupakan karakter mama-mama. Tetapi sebenarnya mereka tidak membenci para pembeli. Karena itu hal ini harus dipahami masyarakat Jayapura yang mungkin notabene sering dilayani dengan baik di pasar lain.

"Jadi ada kata, kalau pembeli sebagai raja, di Pasar Mama-Mama Papua mungkin kata itu tidak begitu berlaku, karena mama-mama Papua berjualan dengan karakter mereka yang agak keras dengan suara yang agak lantang," ujarnya.

Hal ini juga diakui Marikhe, seorang pembeli. Ketika ia membeli barang jualan dan mengambil jualan untuk memilih, kadang mama-mama langsung menegur, "Kalau mau beli langsung saja dibeli jangan pegang-pegang lagi” katanya menirukan ucapan penjual. Itu disampaikan secara spontan. Tetapi bagi dirinya hal itu sudah menjadi biasa, sehingga tidak terlalu dihiraukan.

Namun terkait sikap dari mama-mama ini, Frengky mengaku secara otomatis juga berpengaruh kepada jumlah pembeli yang datang, karena selama ini pembeli bukan saja dari Kota Jayapura, tetapi juga dari luar yang belum memahami karakter orang Papua.

"Jadi ketika mereka dari luar datang berbelanja, mereka merasa lain dengan sikap mama-mama Papua, karena cara mama-mama menjual agak kasar, tetapi bagi mereka yang sudah terbiasa di Papua bisa memahami itu," ujarnya.

Meski begitu ia berharap para pembeli dapat memahami hal tersebut, bahwa kasarnya mama Papua dan cara mereka menyapa bukanlah sebuah amarah, tetapi itulah karakter mereka. Di balik itu sebenarnya mereka memiliki niat baik dalam berjualan.

Frengky berharap hal seperti ini tidak boleh dibiarkan terus berlangsung, karena pasar ini juga dikunjungi pembeli dari luar Papua. Karena itu perlu ada sosialisasi bagaimana cara terbaik melayani pembeli.

"Jadi kita bukan mengubah kebiasaan mama-mama, tetapi mengajaknya beradaptasi dengan pembeli yang datang, karena itu akan ada pelatihan bagi mama-mama,” ujarnya.

Meski begitu, katanya, yang menjadi keunggulan pasar yang berdiri berkat perjuangan almarhum Robert Jitmau (Rojit) ini adalah kejujuran mama-mama ketika berjualan.

Mereka tidak akan menjual sayur dan jualan lain yang sudah lewat satu-dua hari. Mereka biasanya jujur menyampaikan kepada pembeli kondisi dagangan mereka, sehingga pembeli senang dengan sikap seperti itu.

"Yang menjadi kelebihan dan keunikan di pasar mama-mama, mereka benar-benar menjaga kualitas barang dagangan mereka dan jujur kepada pembeli,” katanya.

Seorang warga negara asing berkembangsaan Perancis, Priscilla yang ditemui Jubi berbelanja di Pasar Mama-Mama menilai pasar tersebut sangat bagus dan ia bisa mendapatkan produk-produk lokal.

"Bagus karena mama-mama punya jualan dari hasil mereka dan punya pasar sendiri untuk berjualan, jadi saya senang karena mereka punya tempat berjualan sehingga mereka tidak harus berjualan di luar, tetapi ada tempat bagi mereka yang layak," katanya.

Kejujuran dan segarnya jualan dirasakan juga pembeli, Anni yang mengaku sayur dan buah yang dijual di pasar mama-mama berbeda dari pasar lain. Di sini mereka tidak biasa mengawetkan barang yang sudah tidak layak makan.

“Senangnya saya belanja di sini semua sayurnya segar-segar, juga buahnya," ujarnya.

Ia mengusulkan agar pemerintah menata tempat berjualan karena terlalu tinggi sehingga penjual tidak bisa melihat pembeli yang datang ketika sedang duduk. (*)

loading...

Sebelumnya

Karut marut pengelolaan dana desa di Merauke

Selanjutnya

Bahasa Jepang di sekolah Papua

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga

Terkini

Populer
Polhukam |— Jumat, 21 September 2018 WP | 6139x views
Koran Jubi |— Senin, 17 September 2018 WP | 5732x views
Polhukam |— Kamis, 20 September 2018 WP | 3841x views

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : [email protected]

Copyright © 2013. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe