Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide

  1. Home
  2. Perempuan dan Anak
  3. Nethy Dharma Somba, 24 Tahun Merawat Profesionalisme
  • Minggu, 15 April 2018 — 05:50
  • 837x views

Nethy Dharma Somba, 24 Tahun Merawat Profesionalisme

“Kini media di dominasi berita online. Tidak seperti media cetak, banyak media online di Papua tidak memiliki filter yang baik, akibatnya batas antara berita dan hoax semakin tipis,” katanya
Koresponden The Jakarta Post, Nethy Dharma Somba – Jubi/dokumenpribadinethy
Angela Flassy
Editor :
LipSus
Features |
Senin, 23 April 2018 | 13:37 WP
Features |
Selasa, 17 April 2018 | 13:24 WP

PERHATIAN!!!

Penggunaan sebagian atau seluruh materi dalam portal berita ini tanpa seijin redaksi tabloidjubi.com akan dilaporkan kepada pihak berwenang sebagai tindakan pelanggaran terhadap Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang HAK CIPTA dan/atau UU RI Nomor 19 Tahun 2016 atas perubahan UU RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE)

Papua No. 1 News Portal | Jubi ,

Pukul 09.00, teras Restoran di Grand Abepura Hotel belum terlalu ramai. Udara Kota Abepura masih sejuk. Beberapa tamu sedang menikmati sarapan, ketika koresponden The Jakarta Post, Nethy Dharma Somba mengawali obrolan dengan Jubi di sana.

“Kini media di dominasi berita online. Tidak seperti media cetak, banyak media online di Papua tidak memiliki filter yang baik, akibatnya batas antara berita dan hoax semakin tipis,” katanya menjawab pertanyaan Jubi soal tantangan perkembangan media di Papua  kini dan masa yang akan datang.

“Jurnalis juga harus banyak membaca dan harus mampu menguji kebenaran sebuah informasi sebelum dijadikan berita. Kalau tidak, Hoax juga akan menjadi berita. Masyarakat akan menjadi korban,” lanjutnya.

Untuk itu Dharma, sapaan akrabnya menilai jurnalis harus memiliki pendidikan dan pengetahuan yang baik soal pekerjaannya.

“Saat ini mungkin hanya Cepos dan Jubi yang memberikan pelatihan bagi jurnalisnya sebelum diturunkan ke lapangan. Sisanya, rekrut langsung turun. Akibatnya sangat mempengaruhi independensi sebuah berita,” katanya.

Perempuan bertubuh kecil itu dikenal oleh narasumber dan rekan seprofesi sebagai pribadi yang independen, pekerja keras, konsisten terhadap pekerjaan dan janji. Demikian Wilpret Paryihutan Siagian mendeskripsikannya.

“Dharma teman yang baik, bisa diajak bertukar pikiran dan berani,” kata Siagian yang mengenal Dharma sejak 1998.

Soal keberanian Dharma, Siagian memiliki banyak pengalaman saat bersama berada di lapangan. “Salah satunya tahun 2004. Kami meliput “perang suku” di Timika. Kami terkurung diantara dua pihak yang bertikai. Sebagai perempuan, saya lihat Dharma bisa tetap tenang hingga kami dapat meloloskan diri,” tuturnya.

Dilahirkan di Buakayu, Bonggakaradeng, Tana Toraja, Sulawesi Selatan, Dharma sudah 24 tahun berkarir sebagai jurnalis di Papua. Mengawali karir sebagai jurnalis Cenderawasih Pos (cepos) pada April 1994, ia lalu pindah ke Timika Pos pada 2001.

“Tahun 2000 paetua (suami) pindah ke Manokwari. Saya ikut pindah. Waktu balik lagi ke Jayapura, saya putuskan tidak bekerja lagi di Cepos. Timika Pos baru buka, saya mendaftar,” tutur Dharma.

Tak lama, 2003 Dharma diterima bekerja sebagai kontributor The Jakarta Post hingga saat ini statusnya sudah menjadi koresponden. “Saya direkomendasikan oleh Almarhum Rubai Kadir. Waktu itu kirim berita masih pakai fax,” kenangnya.

Dharma meliput di Tanah Papua, mulai dari Sorong sampai Port Moresby. Biak sampai Merauke. Pesisir hingga pegunungan. Peliputan di Papua dari masa Presiden Soeharto yang tenang, masa Theys Eluay, hingga masa Otsus sudah dijalaninya.

“Saya selalu ingin menampilkan wajah Papua yang terbaik. Menghilangkan stigma yang selama ini ada. Kalau image Papua itu jahat-jahat. Orang jahat itu ada di mana saja. Papua punya banyak hal baik yang dunia harus tahu,” jelasnya.

Hal itu Dharma buktikan dengan menuliskan banyak profil orang Papua, khususnya perempuan Papua. Yang memiliki prestasi gemilang atau yang sangat humanis. Mulai dari mama Ibo, pembatik motif Papua hingga Profesor perempuan pertama, Yohana Yembise yang saat ini menjadi Menteri. Mulai dari novelis Aprila Wayar hingga ketua pengadilan perempuan Papua pertama, Linda Mayor ia tulis dan bagikan kepada dunia lewat The Jakarta Post, media berbahasa Inggris yang berkantor pusat di Jakarta.

Walaupun banyak tawaran bekerja di media lain maupun lembaga internasional, hingga usia yang ke 51 tahun ini Dharma masih setia bekerja untuk The Jakarta Post. “Saya rasa cocok. Mereka juga sangat menghargai saya,” katanya.

Ibu dari Andrea Christiani Linthin (10 tahun) dan Theo Fidel Linthin (8 tahun) teringat, sebelum dan sesudah melahirkan, The Jakarta Post memberikan ia waktu istirahat yang cukup. “Mereka tetap menggaji, walau saya tidak bekerja. Mereka menghargai saya,” katanya.

Anak kedua dari enam bersaudara ini kehilangan ayahnya yang adalah pekerja gereja di Tana Toraja sejak kelas 3 sekolah dasar. Mamanya bekerja sebagai guru membesarkan mereka.

“Mama membesarkan kami dengan baik, walaupun hidup sangat sederhana. Prinsip mama, kalau hidup sudah sederhana, masa kelakuan mau jelek. Kami harus memiliki kelakuan yang baik agar bisa dihargai,” katanya.

Lulusan Fakultas Sastra Indonesia, jurusan kesusasteraan Universitas Hasanuddin Makassar sangat bersyukur bisa menempuh pendidikan di universitas terbaik di Indonesia Timur.

“Selama kuliah saya tinggal bersama tante di Makassar. Tidak mengikuti kegiatan apapun. Tante tidak melarang, tapi saya cukup tahu diri. Saya harus membantu mereka,” tuturnya.

Dharma kini menjadi salah satu jurnalis dengan karir yang panjang dan konsisten menekuni profesi jurnalis tanpa henti selama 24 tahun.

“Khusus untuk perempuan, dunia jurnalis ini sangat terbuka dan bebas. Dia bisa bertemu siapa saja. Jurnalis perempuan harus mampu menjaga dan melindungi dirinya. Saya selalu mengingatkan diri saya sendiri, saya adalah seorang istri dan ibu. Sehingga saya harus menjaga sikap saya,” katanya.

Bendahara organisasi Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) cabang Papua selama 15 tahun ini berprinsip, tak perlu menjadi orang penting. “Yang penting bisa menjadi orang yang berguna bagi orang lain dan menjadi contoh yang baik buat anak, itu sudah cukup bagi saya,” katanya.

Ketika ditanya siapa yang paling mendukungnya berkarir sebagai jurnalis, Dharma menjawab suaminya, Frans B. Linthin yang adalah ASN di Pemprov Papua.

Sejak menikah pada 1995, suaminya tak pernah melarang atau memintanya berhenti berkarir sebagai jurnalis. Walaupun harus menanti 13 tahun hingga mendapatkan putri pertama mereka, Frans tak pernah mempersoalkan pekerjaannya.

“Kalau tidak mendukung, sudah lama saya lepu (berhenti). Kalau saya bilang saya berhenti kah, paetua khawatir saya stress di rumah. Karena sejak muda saya bekerja. Kadang paetua juga ingatkan kalau terlalu sibuk. Yang penting komunikasi lah,” katanya.

Dharma mengaku belum berencana berhenti. Ia juga belum menetapkan kapan menggantung penanya. Impiannya, pada peringatan “25 tahun berkarir di Tanah Papua”, ia dapat menerbitkan sebuah buku berjudul yang sama.

“Prinsipnya saya mengenal banyak orang penting karena profesi saya. Diluar liputan, saya masyarakat biasa. Saya tetap menjaga batas secara professional,” katanya.

April ini, tepat 24 tahun Dharma berkarir sebagai jurnalis. 12 April ini Dharma juga berulang tahun ke 51. Selamat ulang tahun Nethy Dharma Somba. Terus berkarya.(*)

 

loading...

Sebelumnya

Mamoyao: Saya berharap presiden bantu Papua tagih utang Freeport

Selanjutnya

Muslim Jayawijaya jadikan momentum Isra Miraj menjaga kerukunan

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga

Populer
Lembar Olahraga |— Minggu, 22 April 2018 WP | 8914x views
Berita Papua |— Jumat, 20 April 2018 WP | 3351x views
Pasifik |— Senin, 23 April 2018 WP | 2088x views

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : [email protected]

Copyright © 2013. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe