Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide

  1. Home
  2. Pasifik
  3. Kegigihan negara Pasifik, IMO setuju pangkas emisi industri pengapalan
  • Minggu, 15 April 2018 — 17:47
  • 491x views

Kegigihan negara Pasifik, IMO setuju pangkas emisi industri pengapalan

Perjanjian hari Jumat kemarin itu menyerukan agar emisi dari industri pengapalan global, dikurangi paling tidak 50 persen dari emisi tahun 2008, selambat-lambatnya pada tahun 2050.
Pelabuhan Laut Suva di Fiji -RNZI/ Jamie Tahana
Elisabeth Giay
Editor : Galuwo

PERHATIAN!!!

Penggunaan sebagian atau seluruh materi dalam portal berita ini tanpa seijin redaksi tabloidjubi.com akan dilaporkan kepada pihak berwenang sebagai tindakan pelanggaran terhadap Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang HAK CIPTA dan/atau UU RI Nomor 19 Tahun 2016 atas perubahan UU RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE)

Papua No. 1 News Portal | Jubi

London, Jubi - Industri pengapalan global telah menyetujui sebuah rencana untuk memangkas emisi gas rumah kaca, untuk pertama kalinya Jumat lalu (13/04/2018), dalam sebuah kesepakatan yang didorong penuh oleh negara-negara kecil di Kepulauan Pasifik.

Kesepakatan itu diresmikan pada akhir pertemuan selama satu pekan dari Organisasi Maritim Internasional (IMO), sebuah badan PBB di London.

Perjanjian hari Jumat kemarin itu menyerukan agar emisi dari industri pengapalan global, dikurangi paling tidak 50 persen dari emisi tahun 2008, selambat-lambatnya pada tahun 2050.

Sekretaris Jenderal IMO, Kitack Lim, memuji perjanjian itu sebagai ilustrasi dari semangat kerja sama antarnegara, sementara para pemimpin Pasifik menyebutnya sebagai momen bersejarah.

Sementara itu Presiden Kepulauan Marshall, Hilde Heine, dalam sebuah pernyataan, mengatakan meskipun hasil negosiasi ini mungkin tidak cukup untuk memberikan kepastian kepada negaranya, ini memperjelas upaya dan target.

“Bahwa industri pengapalan internasional sekarang, akan berusaha untuk mengurangi emisi dan memainkan perannya dalam menjamin keselamatan negara saya dan kami dapat bertahan hidup.”

Pada tahun 2015, Menteri Luar Negeri Kepulauan Marshall saat itu, Tony de Brum, menyebut mantan Sekretaris Jenderal IMO, Koji Sekimizu, “berbahaya bagi planet ini” setelah Sekimizu menentang diberlakukannya pengaturan mengenai emisi industri tersebut. Tahun lalu, Perdana Menteri Tuvalu Enele Sopoaga meminta pertanggungjawaban yang lebih besar atas emisi industri pengapalan. (RNZI)

loading...

Sebelumnya

Krisis finansial, amunisi PNG untuk APEC tertahan di Australia

Selanjutnya

Pemimpin Ambae minta masyarakatnya dievakuasi

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : [email protected]

Copyright © 2013. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe