Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide

  1. Home
  2. Koran Jubi
  3. Pasang surut penjualan noken
  • Senin, 16 April 2018 — 03:11
  • 775x views

Pasang surut penjualan noken

“Terus terang pak, selama ini belum ada bantuan dana yang kami terima dari pemerintah. Kami menggunakan modal sendiri untuk membeli noken, dan menjual kembali, meskipun keuntungannya sangat sedikit,” katanya.
Seorang pembeli sedang memilih noken – Jubi/Frans L Kobun
Ans K
Editor : Angela Flassy
LipSus
Features |
Senin, 23 April 2018 | 13:37 WP
Features |
Selasa, 17 April 2018 | 13:24 WP

PERHATIAN!!!

Penggunaan sebagian atau seluruh materi dalam portal berita ini tanpa seijin redaksi tabloidjubi.com akan dilaporkan kepada pihak berwenang sebagai tindakan pelanggaran terhadap Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang HAK CIPTA dan/atau UU RI Nomor 19 Tahun 2016 atas perubahan UU RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE)

Papua No. 1 News Portal | Jubi ,

SUASANA di tugu perbatasan Republik Indonesia (RI) Papua Nugini (PNG) tampak ramai. Puluhan orang menghabiskan waktunya dengan berfoto bersama di tugu Nol Kilometer Merauke-Sabang maupun di rumah semut serta beberapa tempat menarik lainnya.

Sabtu, 14 April 2018 adalah hari libur. Dengan menggunakan sepeda motor, Jubi menempuh perjalanan dari kota ke Sota, kurang lebih satu stengah jam.

Di sana, Jubi langsung menuju ke salah satu tempat penjualan noken yang berada di pintu masuk menuju ke perbatasan RI-PNG.

Betsina Banggo, satu dari belasan penjual noken, menerima Jubi dengan ramah. Dia pun tidak keberatan jika diwawancarai seputar usaha yang telah digeluti sejak tahun 2016 silam itu.

“Setiap hari saya bersama suami selalu berada disini untuk jualan noken. Tak ada pekerjaan lain yang digeluti,” ujar Betsina memulai percakapan.

Dikatakan, puluhan noken baik berukuran kecil, sedang maupun besar yang dijual, dibeli dari orang Papua Nugini. Mereka datang disini untuk jualan. “Kadang juga kami pesan baru dibawa,” tuturnya.

Noken yang dijual bersama aksesorisnya seperti bulu kasuari dan bulu ayam tersebut, semuanya berasal dari PNG. Tak ada produksi lokal.

Biasanya, menurut Betsina, sekali membeli noken dari PNG berkisar antara 10-15 lembar. Harganya juga bervariasi. Ukuran kecil dibeli Rp 30.000, sedang Rp 50.000 dan paling besar Rp 75.000.

“Nantinya kami jual kembali dengan harga 50.000 untuk noken kecil. Sedangkan sedang Rp 75.000-Rp 100.000. Sedangkan ukuran besar Rp 150.000,” ujarnya.

Untuk pendapatan, katanya, tidak menentu. “Kalau datang ramai pengunjung, noken yang dibeli bisa mencapai 4-5 lembar. Kalau sepi, paling satu bahkan sama sekali tak ada,” ujarnya.

Pendapatan yang diperoleh, tergantung banyaknya pengunjung saat datang di Sota. “Ya, di sini juga yang menjual noken, tidak hanya satu atau dua orang. Tetapi jumlahnya mencapai belasan. Sehingga pendapatan yang diperoleh pun tak menentu,” tuturnya.

Namun demikian, ia tetap mensyukuri atas usaha yang dirintisnya.  “Meskipun pendapatan tak menentu, tetapi usaha tetap digeluti secara terus menerus. Karena pasti saja ada pemasukan didapatkan,” katanya.

Hal serupa disampaikan suaminya, Sofyan Hidayat. “Istri saya orang asli Sota. Sedangkan saya dari Jawa Tengah. Kami telah memiliki dua anak. Dari hasil penjualan noken bisa menghidupi keluarga,” katanya.

Bahkan hasil penjualan noken, sedikit demi sedikit disisihkan untuk membiayai sekolah anak pertama yang sudah duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP).

Dia mengaku, tak ada pekerjaan lain digeluti. Hanya berjualan noken bersama istri. “Kami bergantian jualan dari pagi hingga sore. Malam hari ditutup, karena tak ada pengunjung,” tuturnya.

Biasanya noken diambil dari warga PNG dibeli kontan. Tak boleh ada utang-mengutang. Karena nantinya dari uang itu, mereka menggunakan membeli beberapa kebutuhan seperti beras, gula pasir dan lain-lain untuk dibawa kembali ke negaranya.

“Kami mengambil noken menyesuaikan dengan modal. Kalau modalnya mencukupi, diambil dalam jumlah banyak. Tetapi kalau sedikit, hanya beberapa lembar saja,” tuturnya.

Diapun berharap ada perhatian dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Merauke dengan memberikan dukungan modal usaha. Sehingga membeli noken dalam jumlah lebih banyak.

“Terus terang pak, selama ini belum ada bantuan dana yang kami terima dari pemerintah. Kami menggunakan modal sendiri untuk membeli noken, dan menjual kembali, meskipun keuntungannya sangat sedikit,” katanya.

“Ya, meski sedikit berkat kami dapatkan, tetapi tetap disyukuri,” ungkap dia.

Seorang pembeli noken, Anita Natan mengaku sudah beberapa kali datang ke Sota dan membeli noken dari beberapa ukuran.

“Saya senang dengan noken yang dijual di sini, karena ada aksesorisnya seperti bulu kasuari serta bulu ayam. Apalagi bahan noken juga sangat bagus, kuat dan bertahan lama,” katanya.

Natan mengaku, noken yang dibelinya, selain untuk koleksi pribadi, juga permintaan dari keluarganya di Nusa Tenggara Timur (NTT).

“Sudah beberapa kali saya kirim ke kampung halaman, karena ada beberapa teman yang minta. Mereka senang dengan noken dari PNG,” ujarnya. (*)

loading...

Sebelumnya

Pro-kontra lelang jabatan kepala sekolah di Merauke

Selanjutnya

Lembaga adat mengurus manusia, bukan tanah

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga

Populer

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : [email protected]

Copyright © 2013. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe