Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide

  1. Home
  2. Jayapura Membangun
  3. Sagu, dari sumber pangan menjadi sumber ekonomi
  • Senin, 16 April 2018 — 22:37
  • 822x views

Sagu, dari sumber pangan menjadi sumber ekonomi

Penebangan pohon sagu yang dilakukan masyarakat di Kabupaten Jayapura, bukan lagi hanya sebagai sumber pangan keluarga tetapi juga untuk menjawab kebutuhan ekonomi. Dampaknya, populasi pohon sagu turun drastis akibat penebangan yang masif tanpa dibarengi penanaman baru.
Hutan sagu milik masyarakat di pinggiran danau Sentani - Jubi/Engel Wally
Engelbert Wally
Editor : Dewi Wulandari

PERHATIAN!!!

Penggunaan sebagian atau seluruh materi dalam portal berita ini tanpa seijin redaksi tabloidjubi.com akan dilaporkan kepada pihak berwenang sebagai tindakan pelanggaran terhadap Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang HAK CIPTA dan/atau UU RI Nomor 19 Tahun 2016 atas perubahan UU RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE)

Papua No. 1 News Portal | Jubi ,

Sentani, Jubi – Penebangan pohon sagu yang dilakukan masyarakat di Kabupaten Jayapura, bukan lagi hanya sebagai sumber pangan keluarga tetapi juga untuk menjawab kebutuhan ekonomi. Dampaknya, populasi pohon sagu turun drastis akibat penebangan yang masif tanpa dibarengi penanaman baru.

“Karena sekarang lebih banyak yang menggunakan alat mesin parut sagu dibanding tokok sagu, maka harus lebih banyak pohon sagu yang ditebang. Sekali tebang minimal empat sampai lima pohon. Kalo dengan tokok sagu cukup satu atau dua pohon saja,” ujar Yeni, seorang ibu penjual sagu di eks pasar lama Sentani, Senin (16/4/2018). 

Yeni juga mengaku kebiasaan yang selama ini dilakukan sangat rentan dengan berkurangnya habitat pohon sagu di hutan mereka.

Lebih lanjut dijelaskannya, kebutuhan ekonomi sangat mendesak dalam keluarga sehingga cara ini dilakukan.

“Dulu, kalau tebang hanya untuk makan, paling hanya satu pohon saja. Itupun tidak sekaligus ditokok langsung habis. Pasti dikerjakan dalam dua hingga tiga hari sesuai kebutuhan. Hal ini berbeda dengan sekarang yang terdesak dengan kebutuhan ekonomi keluarga sehingga harus menebang banyak untuk dijual,” ungkapnya.

Anggota DPR Kabupaten Jayapura, Yohanis Hikoyabi, mengatakan sagu yang dikelola dengan menggunakan mesin parut sesungguhnya ada banyak dampak negatif dari sisi pengelolaannya.

“Papeda yang dimakan pernah ada rasa bensin. Saya juga turut menyaksikan cara kerja mengolah sagu dengan menggunakan mesin parut. Ada banyak perubahan yang terjadi ketika diambil sari pati sagu tersebut. Rasanya beda dengan hasil yang ditokok. Lalu dari sisi pembiayaan untuk kerja cukup boros karena yang punya sagu harus mengeluarkan anggaran yang cukup besar dan belum tentu akan kembali ketika hasil sagu tersebut di jual ke pasar,” katanya. (*)

loading...

Sebelumnya

BPS akan lakukan pendataan ekonomi, pertanian, dan potensi desa

Selanjutnya

Adat harus ‘menjemput’ program nasional penerbitan sertifikat tanah 

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : [email protected]

Copyright © 2013. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe