Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide

  1. Home
  2. Papua
  3. Gangguan internet, Jurnalis Papua: Kami rugi dan tidak percaya kabel optik putus
  • Selasa, 17 April 2018 — 13:53
  • 1064x views

Gangguan internet, Jurnalis Papua: Kami rugi dan tidak percaya kabel optik putus

Jangankan rating di alexa.com, pendapatan kami dari iklan online akhirnya berkurang drastis.
Plasa Telkom Papua - Jubi/Kristianto Galuwo.
Roy Ratumakin
Editor : Edho Sinaga

PERHATIAN!!!

Penggunaan sebagian atau seluruh materi dalam portal berita ini tanpa seijin redaksi tabloidjubi.com akan dilaporkan kepada pihak berwenang sebagai tindakan pelanggaran terhadap Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang HAK CIPTA dan/atau UU RI Nomor 19 Tahun 2016 atas perubahan UU RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE)

Papua No. 1 News Portal | Jubi ,

Jayapura, Jubi - Putusnya kabel optik di perairan Sarmi, Papua beberapa waktu lalu diklaim oleh provaider Telkomsel sebagai penyebab putusnya jaringan internet beberapa waktu lalu. Meski hingga kini, jaringan internet tersebut masih bergerak lamban karena masih dalam proses perbaikan.

Akibat dari ganggun jaringan internet tersebut, sejumlah pemilik media massa khususnya media online meradang. Salah satunya media online wartaplus.com. Vanwi Subiat selaku Pemimpin Redaksi (Pimred) media online ini merasa, kata maaf yang dilontarkan oleh pihak Telkomsel sangat tidak masuk akal.

"Setiap kali jaringan internet gangguan, pihak Telkomsel selalu dengan kata saktinya "maaf". Maaf saja tidak cukup, apalagi dengan gangguan ini kami sebagai media yang selalu mengandalkan kecepatan dalam pemenuhan berita akhirnya mengalami kemunduran," katanya kepada Jubi, Selasa (17/4/2018) di Abepura.

Vanwi menambahkan, akibat gangguan tersebut juga mengakibatkan jumlah berita yang seharusnya bisa di upload (unggah) 50 berita setiap hari akhirnya mengalami kemunduran sekitar 15 hingga 20 berita.

"Berita yang bisa di upload ini juga berkat karyawan kami yang ada di Jakarta. Jadi kami di sini hanya mengedit beritanya, setelah itu kami kirim ke Jakarta untuk di masukkan dalam keranjang berita guna di publish (tayangkan)," ujarnya.

Disinggung tentang pendapatan dari pemasangan iklan di media yang kini dipimpinnya, Vanwi mengatakan bahwa dari segi pendapatan iklan memang tidak berpengaruh secara signifikan namun untuk masa tayangnya akhirnya bertambah.

"Masa tayangnya yang kami perpanjang. Karena masyarakat saja susah mengakses laman kami karena gangguan jaringan. Dengan gangguan jaringan ini juga jumlah orang yang mengakses laman kami jadi berkurang. Ini berpengaruh pada rating (peringkat) kami situs alexa.com," katanya.

 

Mana bukti kabel optik putus

Vanwi Subiat pun menuntut bukti kepada pihak Telkomsel, akan kebenaran kabel optik tersebut putus atau tidak. Karena kejadian putusnya kabel optik tersebut tidak disertakan dengan bukti otentik berupa foto ataupun video aktivitas perbaikan kabel optik tersebut.

"Minimal kalau pihak Telkomsel merilis kerusakan jaringan seharusnya ada bukti berupa foto atau video kerusakan tersebut. Kami ini bukan anak kecil yang kalau menangis diberikan mainan atau permen langsung diam. Kami ini pengguna setia Telkomsel, jadi perlu ada bukti yang otentik," katanya.

Hal senada juga dikatakan, Ricardo Hutahaen yang merupakan kontributor Metro TV di Jayapura. Menurut Ricardo, akibat gangguan jaringan internet membuat pendapatannya berkurang.

"Kalau jaringan bagus atau lancar, saya bisa kirim 30 berita dalam sebulan, namun saat ini saya hanya bisa kirim tiga berita dalam sebulan. Akibatnya pendapatan jadi berkurang," katanya.

Selain itu dirinya mengkritik pihak Telkomsel karena selalu menelepon dirinya kalau terlambat membayar paket internet berupa kartu HALLO maupun indihome.

"Kalau terlambat membayar pihak operator langsung telepon, giliran belum dibayar langsung diputus. Nah, kalau gangguan begitu apa kompensasi dari pihak Telkomsel? Apakah cukup dengan mata maaf," tanya Ricardo.

Dirinya pun meminta pihak Pemerintah daerah untuk terlibat aktif atau paling tidak meminta pertanggungjawaban dari pihak Telkomsel atas gangguan yang terjadi selama ini.

"Saya juga pertanyakan kenapa hanya Telkomsel yang menguasai pasar di Papua, kenapa provaider lain tidak bisa? Kan ada Indosat. Saya juga pernah dengar bahwa provaider lain susah bersaing dengan pihak Telkomsel karena pihak Telkomsel sudah mengancam para penjual pulsa untuk tidak boleh menjual produk provaider lain. Kalau ketahuan maka penjual tersebut tidak mendapat paketan jualan produk dari Telkomsel," ujarnya.

 

Telkomsel wajib beri kompensasi

Hal yang sama dikatakan Pemimpin Perusahaan kabarpapua.co. Cunding Levi meminta kepada pihak Telkomsel untuk memberikan kompensasi kepada seluruh pengguna kartu pra bayar maupun bayar langsung, yang selama ini menggunakan jasa Telkomsel.

"Harus ada kompensasi. Dan saya menilai, pihak Telkomsel tidak pernah belajar dari kesalahan. Tahun lalu sempat terjadi hal yang sama yaitu kabel optik putus, seharusnya kejadian tahun lalu menjadi pelajaran untuk bagaimana pelayanan ditingkatkan dengan memindahkan jalur kabel optik tersebut ke wilayah yang lebih aman," katanya.

Akibat gangguan jaringan tersebut, dirinya mengaku mengalami kerugian yang tidak sedikit. Apalagi kini kabarpapua.co sudah bekerjasama dengan media siber lainnya yang ada di luar Papua.

"Kami bekerjasama dengan beberapa perusahaan media online di luar Papua. Dengan gangguan jaringan ini akhirnya media kerjasama kami terganggu. Mereka (media online di luar Papua) akhirnya tidak bisa mengambil berita di laman kami karena kami tidak bisa mengupload berita. Ini suatu kerugian besar," ujarnya.

Selain itu, dirinya mengaku, akibat gangguan juga berpengaruh pada jumlah pengunjung yang mengunjungi situsnya.

"Produktivitas wartawan juga akhirnya berkurang. Mereka (wartawan) akhirnya malas nyari berita karena dapat berita juga akan susah dinaikkan di laman karena itu tadi, jaringan susah," katanya kesal.

Hal yang sama juga dirasakan tabloidjubi.com. Dengan tagline "Portal Berita Papua No.1", akibat gangguan jaringan internet tersebut, perusahaan dibawa pimpinan Victor Mambor ini mengalami defisit pendapatan dari Google Adsense.

"Jangankan rating di alexa.com, pendapatan kami dari iklan online akhirnya berkurang drastis. Biasanya dalam sehari kami bisa mendapatkan keuntungan dari iklan online sebesar $25 tapi sekarang hanya $2-$5," kata Victor Mambor selaku pemimpin perusahaan tabloidjubi.com dan Koran Jubi.

Kata Mambor, dari pendapatan iklan online saja, pihaknya bisa meraup keuntungan sekitar Rp12-17 juta per bulan. Namun karena gangguan ini, pendapatan sebulan hanya berkisar Rp1-2 juta per bulan. Dan mungkin media online lainnya juga mengalami hal yang sama, bahkan media lainnya dimungkinkan mengalami pendapatan yang hanya berkisar $1 per hari, akibat gangguan internet ini," ujarnya. (*)

loading...

Sebelumnya

Aturan ketat tapi minol masih beredar, Emus: Tujuan mereka ini apa?

Selanjutnya

Gangguan internet, ini kata Kabiro ANTARA Papua

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : [email protected]

Copyright © 2013. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe