close
Iklan Kominfo
Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide

  1. Home
  2. Pasifik
  3. Pengobatan ODHA di PNG terancam berhenti
  • Selasa, 24 April 2018 — 19:46
  • 974x views

Pengobatan ODHA di PNG terancam berhenti

“Semua orang yang sedang menjalani perawatan ART akan terkena dampak kelangkaan obat ini,” tutur pasien HIV Maura Elaripe, yang juga anggota kelompok advokasi Igat Hope.
Seorang perawat saat memindahkan pasien penderita HIV/AIDS di Port Moresby - ABC/Reuters/David Gray
Elisabeth Giay
Editor : Galuwo

PERHATIAN!!!

Penggunaan sebagian atau seluruh materi dalam portal berita ini tanpa seijin redaksi tabloidjubi.com akan dilaporkan kepada pihak berwenang sebagai tindakan pelanggaran terhadap Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang HAK CIPTA dan/atau UU RI Nomor 19 Tahun 2016 atas perubahan UU RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE)

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Port Moresby, Jubi - Masyarakat PNG yang terinfeksi HIV dapat meninggal dunia, jika pasokan obat anti-retroviral (ART) yang digunakan untuk mengobati infeksi akibat virus itu tidak segera didatangkan, kata seorang anggota badan advokasi HIV lokal.

Jumlah obat yang tersedia nyaris habis, dan berbagai fasilitas medis negara itu pun mulai menggunakan apa yang dikenal sebagai sistem penyangga atau buffer stock-nya (pasokan cadangan yang disimpan untuk menjaga kestabilan harga komoditi tertentu).

“Semua orang yang sedang menjalani perawatan ART akan terkena dampak kelangkaan obat ini,” tutur pasien HIV Maura Elaripe, yang juga anggota kelompok advokasi Igat Hope.

Elaripe adalah satu dari sekitar 44.000 orang yang diperkirakan terinfeksi HIV di PNG, dan dia bergabung sebagai anggota dewan direktur Global Fund, organisasi yang mengatur pembiayaan donor untuk mengobati HIV/AIDS dan Tuberkulosis di PNG. Dia didiagnosis dengan HIV pada tahun 1997.

Perawatan medis untuk ODHA dikenal secara luas sebagai Anti-Retroviral Therapy atau ART, dan bekerja dengan cara menekan “viral load” HIV di dalam tubuh pasien, menghentikan penularan dari orang ke orang, dan mencegah virus itu untuk berkembang menjadi penyakit AIDS.

“Kita berbicara tentang situasi yang sangat serius, kita sudah mulai menggunakan buffer stock obat ART untuk sekitar tiga sampai enam bulan,” kata David Bridger, kepala Program UNAIDS PBB di PNG.

Sekretaris Kementrian Kesehatan PNG Pascoe Kase mengatakan dalam sebuah pernyataan yang dirilis kepada media lokal, stok ART di seluruh negara itu memang terbatas.

Anggaran Tahunan Nasional PNG 2018, yang diresmikan pada November kemarin, hanya mengalokasikan 3,6 juta kina untuk obat-obatan pengobatan HIV/ AIDS, turun dari 8 juta kina pada anggaran 2017.

PNG memiliki tingkat prevalensi infeksi HIV yang paling tinggi di wilayah Pasifik, dengan sekitar 95 persen dari seluruh kasus HIV di Pasifik dilaporkan dari negara itu. (Australian Broadcasting Corporation)

loading...

Sebelumnya

Asosiasi Jurnalis Samoa adakan forum Hari Kebebasan Pers Sedunia

Selanjutnya

Menteri Selandia Baru kecam Konsulat Tiongkok di Tahiti

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga

Populer
Dunia |— Minggu, 14 Oktober 2018 WP | 4952x views
Polhukam |— Minggu, 14 Oktober 2018 WP | 4345x views
Domberai |— Minggu, 21 Oktober 2018 WP | 4102x views
Otonomi |— Rabu, 17 Oktober 2018 WP | 2549x views

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : [email protected]

Copyright © 2013. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe