Object moved to here.

Selamat jalan, kawan Heni Lani | BERITA PAPUA
Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide

  1. Home
  2. Berita Papua
  3. Selamat jalan, kawan Heni Lani
  • Rabu, 25 April 2018 — 16:10
  • 5028x views

Selamat jalan, kawan Heni Lani

Di dua pertemuan itu, terdengar samar-samar dari panitia bahwa Heni masih jadi target aparat keamanan Indonesia.
Heni Lani - Istimewa
Admin Jubi
Editor : Kyoshi Rasiey

PERHATIAN!!!

Penggunaan sebagian atau seluruh materi dalam portal berita ini tanpa seijin redaksi tabloidjubi.com akan dilaporkan kepada pihak berwenang sebagai tindakan pelanggaran terhadap Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang HAK CIPTA dan/atau UU RI Nomor 19 Tahun 2016 atas perubahan UU RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE)

Papua No. 1 News Portal | Jubi ,

Oleh : Nanang Kosim

KABAR duka itu terdengar Minggu sore, 15 April 2018. Saya dan Jon sedang membicarakan salah satu aktivis perempuan maju dari Papua, Heni Lusia Lani. Seorang kawan yang bukan lawan bicara saya, Atang, tiba-tiba nyaut dari belakang, “Heni udah meninggal.”

Saya tak percaya lalu menyanggahnya. Tapi Atang menegaskan, “Udah tadi. Ini ada beritanya di Facebook.”

Saya masih ragu. Sulit kroscek saat itu juga. Ponsel saya tertinggal di suatu tempat dan dalam keadaan nonaktif sejak dua hari sebelumnya. Saya baru percaya setelah saya membaca dengan mata saya sendiri status Facebook kawan-kawan Papua, beberapa jam kemudian.

Di Facebook, beberapa kawan—terutama yang seperjuangan dan kenal dengan Heni—menulis status-status duka dan doa. Ada pula yang statusnya mengekspresikan penyesalan. Bagi saya pribadi, kepergian Heni memang layak disesalkan. Ia pergi terlalu dini di usia yang masih 33 tahun dan ketika—menurut kabar terakhir yang saya dapat—Heni tengah terlibat pengorganisasian masyarakat adat.

“Adik Heni Lani jam dua subuh pagi ini telah menghadap penciptanya di RS Sele Be Solu, Kota Sorong,” begitu isi pesan yang saya baca di sebuah grup WhatsApp, setelah ponsel kembali nyala. Pesan itu disusul deretan komentar dan emoji haru dari kawan-kawan.

“Sioo, sa pu saudara perempuan. Berduka sekali. Kami akan lanjutkan konsep-konsep perjuanganmu,” tulis Sam Awom. “Kita kehilangan satu putri lagi aset bangsa Papua,” demikian kata Markus Haluk. Sam dan Markus adalah aktivis United Liberation Movement for West Papua (ULMWP).

Dari rumah duka Fredik Sedik, kabarnya jenazah Heni dibawa ke misa pelepasan dan pemakaman pada 17 April 2018.

***

Sebagai newbie, saya belum lama kenal Heni. Bisa dipastikan, baru tiga kali kami bertemu dan berada dalam kegiatan yang sama. Pertama kali saya berjumpa dengannya di konferensi pembentukan Front Rakyat Indonesia untuk West Papua (FRI-WP), satu setengah tahun yang lalu. Kami bertemu lagi sekitar sembilan bulan kemudian di rapat Presidium FRI-WP.

Di dua pertemuan itu, terdengar samar-samar dari panitia bahwa Heni masih jadi target aparat keamanan Indonesia. Muasalnya adalah Tragedi Universitas Cendrawasih (Uncen), Maret 2006, yang menewaskan empat polisi dan satu intel Angkatan Udara. Walau tak terlibat aksi kekerasan, ia diburu aparat karena kala itu Heni dikenal sebagai jubir Parlemen Jalanan dan Pepera PB, gerakan mahasiswa yang memotori demonstrasi besar-besaran di Uncen.

Pertemuan kami yang terakhir bertempat di Jayapura. Di sana kami sama-sama jadi peserta sebuah lokakarya. Rambut gimbal yang telah ia rawat selama sepuluh tahun masih sama, panjang menjuntai melampaui bokongnya. Tapi tubuhnya tampak lebih kurus, pipinya pun terlihat tirus.

Ternyata Heni memang sedang sakit. Lambungnya bermasalah, pantas saja porsi makannya lebih sedikit ketimbang peserta yang lain. Karena harus istirahat, ia absen di beberapa sesi lokakarya yang digelar selama seminggu itu.

Saya masih ingat, di lokakarya itu Heni berperan menjadi “polisi penjaga telur”. Ceritanya, di lokakarya tentang membangun persatuan dan memajukan metode tanpa kekerasan dalam upaya penentuan nasib sendiri tersebut, telur menjadi alat peraga atau semacam simbol persatuan. Para peserta yang sudah dibagi menjadi empat kelompok (mambruk, maleo, merpati, kasuari) mendapat satu telur untuk setiap kelompok. Telur itu harus dijaga, jangan sampai hilang atau pecah, dan harus dibawa ke ruangan saat kegiatan berjalan.

Setiap kelompok diberi kebebasan menentukan strategi dan taktik untuk menjaga telur. Orang yang membawa dan menjaga telur itu pun tidak boleh orang yang itu-itu saja, setiap hari harus berbeda orang. Setiap pagi, Heni akan membuat ritual pengecekan dan mengawasi serah-terima telur.

Pernah ada satu kelompok yang kehilangan telurnya. Kelompok lain menertawakan dan menelurkan lelucon untuk kelompok itu. Tapi Heni tegas mengingatkan kelompok yang kehilangan telur. Kurang lebih begini, “Jika hal kecil saja, telur sebagai simbol persatuan, kalian tidak bisa kerja sama menjaganya, bagaimana kalian bisa kerja sama menjaga wadah persatuan rakyat Papua yang sebenarnya?”

Dari situ saya jadi mengerti tujuan “permainan telur” yang dimaksud fasilitator lokakarya.

Lokakarya itu ternyata jadi momen yang untuk pertama kalinya mempertemukan Heni dengan Dorlince, perempuan yang baru saja terpilih sebagai Sekjen Aliansi Mahasiswa Papua (AMP). Momen itu tidak disia-siakan Dolly, sapaan akrab Dorlince. Mereka saling update perkembangan, peta politik, dan jalan perjuangan pembebasan perempuan itu sendiri.

“Meskipun dia dalam keadaan sakit, tapi satu yang tidak pernah pudar adalah semangat militansinya, hingga dia menjadi panutan yang tidak akan pernah pudar dimakan waktu,” kenang Dolly, yang sebelumnya hanya mengenal Heni lewat tulisan-tulisan Heni, media sosial, dan kawan-kawan seperjuangannya yang dekat dengan Heni.

“Heni,” lanjut Dolly, “bagi saya adalah tokoh perempuan progresif dan militan yang pernah saya kenal semasa hidup. Selain itu dia perempuan yang paling tegas dan tidak pernah kenal kompromi pada penjajahan dan pengisapan yang ditopang militerisme.”

Kendati sesekali menyumbang mob untuk mencairkan suasana, Heni selalu terlihat serius dan fokus mengikuti jalannya kegiatan. Ia menyimak dan mencatat dengan tekun. Tidak banyak kata-kata yang mubazir keluar dari mulutnya.

Sekalinya mengutarakan gagasan, kata-katanya lugas, tegas, dan jernih. Apalagi jika topiknya berkenaan dengan tembok budaya patriarki—entah itu di tatanan sosial masyarakat Papua, maupun di lingkaran aktivis kemerdekaan itu sendiri. Atau ketika ia bicara tentang masyarakat adat dan peran kaum perempuan dalam perjuangan kemerdekaan Papua. Siapa pun itu, mau elit, pimpinan organisasi, atau aktivis pria, tanpa tedeng aling-aling akan Heni kritik jika dianggapnya bertentangan dengan prinsip kesetaraan atau melenceng dari perjuangan utama rakyat West Papua, melawan kapitalisme dan turunannya (kolonialisme serta militerisme).

Rupanya bukan cuma saya yang terkesima pada sosok, gagasan, dan cara Heni mengemukakan gagasan. Dalam obrolan ringan di sela-sela sesi istirahat rapat presidium FRI-WP, Edtitik dan Buli Ju kerap—atau setidaknya sempat—mengekspresikan kekaguman mereka pada Heni. “Anjir, ngeri banget, ya, Heni itu,” sela Edtitik. Buli Ju bilang bahwa sekarang dia lagi bikin puisi khusus buat Heni.

***

Saya mencoba memahami ungkapan-ungkapan kesedihan yang menyesali kepergian Heni. Mereka kehilangan figur pejuang perempuan yang langka. Perempuan pertama yang ada di struktur pimpinan AMP itu memang pantas dikenang dan jadi inspirasi.

Diakui Dolly, Heni merupakan satu-satunya perempuan yang membuat banyak perubahan di tubuh AMP. Salah satu perubahan yang dilahirkan Heni adalah masuknya materi “Asal-Usul Penindasan terhadap Perempuan” ke dalam silabus pendidikan AMP. Tak semudah membalikkan telapak tangan, untuk menambahkan materi itu, Heni harus melewati perdebatan panjang terlebih dahulu dengan kawan-kawan pria yang kontra dengannya.

Heni Lusia Lani adalah salah satu bukti yang bisa menggugurkan pandangan rasis yang diidap sebagian orang Indonesia. Di Indonesia, terutama kalangan chauvinis kerap melihat orang Papua sebagai orang yang malas, bodoh, dan terbelakang. Dan Heni Lani adalah bantahan konkret atas pandangan tersebut.

Selamat jalan, Kawan Heni. Seperti dibilang Napi Sam, jiwa dan semangatmu tetap dan selalu hidup.

Bandung, 21 April 2018*

Penulis adalah aktivis Fri-WP

loading...

Sebelumnya

YPPK Jayawijaya diminta tangguh menghadapi kendala

Selanjutnya

Jalan rusak parah di perbatasan Erom-Jagebob

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : [email protected]

Copyright © 2013. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe