TUTUP
Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide

  1. Home
  2. Jawa
  3. Mayday, AMP Yogyakarta: Biarkan Papua tentukan nasib sendiri
  • Selasa, 01 Mei 2018 — 22:47
  • 3293x views

Mayday, AMP Yogyakarta: Biarkan Papua tentukan nasib sendiri

Tak hanya dari Papua saja, sejumlah mahasiswa Indonesia dan gabungan organisasi masyarakat sipil yang pro terhadap nasib orang West Papua, turut andil.
Ratusan mahasiswa asli Papua bersama sejumlah mahasiswa Indonesia dan organisasi masyarakat sipil di Yogyakarta melaksanakan peringatan hari buruh internasional (mayday) dengan menyampaikan sejumlah tuntutan, satu diantaranya penghentian penindasan oleh militer Indonesia di Papua – Jubi/AMP Yogyakarta.
Edho Sinaga
[email protected]
Editor : Edho Sinaga

PERHATIAN!!!

Penggunaan sebagian atau seluruh materi dalam portal berita ini tanpa seijin redaksi tabloidjubi.com akan dilaporkan kepada pihak berwenang sebagai tindakan pelanggaran terhadap Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang HAK CIPTA dan/atau UU RI Nomor 19 Tahun 2016 atas perubahan UU RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE)

Papua No. 1 News Portal | Jubi ,

Yogyakarta, Jubi  - Peringatan hari buruh internasional atau Mayday menjadi momentum pergerakan yang dilakukan mahasiswa Papua yang mengenyam pendidikan di Daerah Istimewa Yogyakarta.

Menyuarakan kebebasan berpendapat, dan memilih referendum sebagai jalan politik serta penegakan sejumlah kasus Hak Asasi Manusia (HAM) di Papua, tak luput disampaikan oleh sedikitnya 200 massa aksi tersebut, yang tergabung dalam aliansi KOMITMEN (Komite 1 Mei Untuk Kemerdekaan, Kesetaraan, dan Kesejahteraan).

Dihubungi Jubi, Rico Tude, Sekretaris pembebasan kolektif wilayah Yogyakarta yang ikut dalam aksi tersebut mengatakan, selain berorasi mahasiswa asli Papua ini juga melakukan aksi teatrikal, dengan mempertontonkan kepada masyarakat betapa kejamnya penindasan otoritas milter  Indonesia terhadap orang asli Papua.

Tak hanya dari Papua saja, sejumlah mahasiswa Indonesia dan gabungan organisasi masyarakat sipil yang pro terhadap nasib orang West Papua, turut andil.

“Massa aksi kami sekitar 200an orang yang titik startnya terbagi menjadi dua, ada yang memulai aksi dari parkiran ABA (Abu Bakar Ali) dan ada yang memulai aksi dari asrama Kamasan I Papua Yogyakarta, jalan Kusumanegara. Aku sendiri ikut yang dari asrama Kamasan bersama kawan-kawan AMP (Aliansi Mahasiswa Papua),” ujar Rico yang juga anggota Front Rakyat Indonesia untuk West Papua (FRI WP), Selasa (1/5/2018).

Rico menjelaskan sepanjang perjalanan dari asrama Kamasan ke titik nol kilometer, massa meneriakkan yel-yel Papua merdeka, sembari membawa tandu mayat yang bertuliskan RIP Demokrasi di Indonesia.

“Saat sampai di titik nol, massa aksi Papua langsung melakukan tarian Wisisi, Waita, Tumbuk Tanah, sambil menunggu sebagian massa aksi yang tergabung dalam KOMITMEN yang memulai aksi dari parkiran ABA,” terangnya.

Kendati tidak mendapatkan perlakuan semena-mena dari pihak keamanan, namun ada hal yang sangat disayangkan.

“Di penghujung acara aksi tadi sempat polisi mau menangkap kawan Indonesia yang memegang poster bergambar bintang kejora. Nampaknya mereka lebih khawatirkan dan takut kalau semakin banyak orang Indonesia yang mendukung perjuangan kemerdekaan bangsa West Papua. Tapi massa aksi cepat ambil sikap mengamankan kawan tersebut, syukurnya tidak terjadi apapun,” ujarnya.

Aksi ini kata Rico, membuahkan 34 tuntutan kepada rezim Jokowi-JK dan juga pengusaha. Namun yang khusus untuk Papua setidaknya terdapat sejumlah poin.

“Usut pelanggaran HAM, tarik TNI/Polri organik dan non-organik dari Papua. Tangkap, adili jenderal pelanggar HAM. Buka seluas-luasnya kemerdekaan berpendapat dan akses terhadap jurnalis internasional ke Papua. Bubarkan struktur komando teritorial. Hapuskan status kawasan industri sebagai obyek vital nasional. Hapuskan program bela negara di kampus. Stop penggusuran dan perampasan tanah serta kembalikan reforma agraria sejati,” terang Rico seperti dalam tuntutan yang diterima oleh Jubi.

Tak hanya itu, sejumlah tuntutan lain yang merupakan suara orang Papua terkait penindasan yang dialami seperti  penghapusan pasal makar, serta menyudahi kriminalisasi terhadap aktivis juga turut disampaikan.

“Kami tidak berjalan sendiri. Ada tuntutan terkait buruh juga yang kami sampaikan, seperti penghapusan upah murah, dan stop buruh kontrak serta tuntutan lainnya. Karena ini adalah momen hari buruh, yang merupakan momen perjuangan. Dulu momen ini dilarang, namun karena upaya keras dari buruh, malah diakui oleh penguasa. Semangat ini yang menurut kami sama untuk West Papua,” terangnya.

Sementara itu, beredar informasi jika sejumlah massa aksi tersebut ikut bergabung dengan sejumlah mahasiswa UIN yang disinyalir melakukan perusakan pos polisi setempat. Tak ayal, kabar ini pun dibantah keras Rico.

“Saya memang dengar aksi tersebut ada pembakaran pos polisi. Itu aksi di depan kampus UIN Yogyakarta. Tidak ada mahasiswa Papua yang terlibat dalam aksi tersebut. Itu hoaks (kabar bohong) yang sengaja dilakukan untuk mendeskreditkan mahasiswa Papua di Jogja,” tegasnya. (*)

loading...

Sebelumnya

Penyandang disabilitas bisa kerja di KAI

Selanjutnya

Pekerja di RSUD Yowari tidak boleh dipecat

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : [email protected]

Copyright © 2013. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe
wso shell IndoXploit shell wso shell hacklink hacklink satış hacklink wso shell evden eve nakliyat istanbul nakliyat evden eve nakliyat istanbul evden eve nakliyat evden eve nakliyat istanbul nakliyat