Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide

  1. Home
  2. Koran Jubi
  3. Fungsi ganda terminal Oyehe
  • Rabu, 09 Mei 2018 — 20:03
  • 1412x views

Fungsi ganda terminal Oyehe

Terminal yang berlokasi di Kelurahan Oyehe, Distrik Nabire, Kabupaten Nabire ini menjadi pangkalan ojek, terminal penumpang, dan pasar hingga ‘tempat sampah’.
Situasi di Terminal Oyehe, Nabire, Senin sore, 16 April 2018 – Jubi/Titus Ruban
Titus Ruban
Editor : Timoteus Marten
LipSus
Features |
Kamis, 20 September 2018 | 09:41 WP
Features |
Rabu, 19 September 2018 | 16:08 WP
Features |
Selasa, 18 September 2018 | 07:24 WP
Features |
Senin, 17 September 2018 | 19:13 WP

PERHATIAN!!!

Penggunaan sebagian atau seluruh materi dalam portal berita ini tanpa seijin redaksi tabloidjubi.com akan dilaporkan kepada pihak berwenang sebagai tindakan pelanggaran terhadap Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang HAK CIPTA dan/atau UU RI Nomor 19 Tahun 2016 atas perubahan UU RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE)

Papua No. 1 News Portal | Jubi ,

SABAN sore, tukang ojek dan penjual sayur-sayuran melakukan aktivitasnya di terminal penumpang angkutan umum Oyehe, Nabire. Situasi ini menjadikan areal terminal terlihat super sibuk.

Jubi pun berupaya memantau aktivitas warga di areal terminal, Senin, 16 April 2018. Alhasil, aktivitas warga menyisakan tumpukan sampah di beberapa sudut terminal.

Terminal yang berlokasi di Kelurahan Oyehe, Distrik Nabire, Kabupaten Nabire ini menjadi pangkalan ojek, terminal penumpang, dan pasar hingga ‘tempat sampah’.

Terminal ini sebenarnya dikhususkan untuk angkutan rute Oyehe-Sama Busa, Oyehe-Karang Tumaritis, Oyehe-Siriwini, Oyehe-Kali Bobo dan Kota Lama (Kelurahan Morgo).

Salah satu pedagang, Nare Wonda, mengaku sudah berjualan di terminal sejak lima tahun lalu. Warga Kali Susu ini mengaku berjualan di terminal karena jaraknya hanya sekira 100 meter dari rumah.

“Terus kalau jualan di sini bagus juga dan cepat laku. Kalau sampah kami buang saja di sebelah sana,” kata Wonda.

Menjual di terminal Oyehe justru membawa keuntungan bagi Nare Wonda. Ia bisa mendapat keuntungan Rp 10.000 per hari. Pasar, katanya, mulai ramai saban hari, sejak pukul 12 siang hingga pukul 7 malam, waktu setempat.

Berbeda dengan Nare Wenda, seorang sopir angkutan umum di Nabire, Udin, mengaku pendapatan berkurang semenjak tukang ojek “menyerbu” terminal.

Pria asal Bugis, Sulawesi Selatan, yang tinggal di Nabire sejak 50 tahun lalu ini menilai, terminal kini berubah menjadi tempat sampah, pangkalan ojek, dan pasar.

“Menurut saya, saat ini terminal jadi tempat sampah. Tempat jualan sebenarnya kurang pas, sebab akan mengganggu lalu lintas di dalam sini,” kata Udin.

Ia bercerita, sejak beberapa tahun terakhir pendapat sopir berkurang seiring masuknya tukang ojek. Sehari sopir mendapatkan Rp 300 ribu, tapi kini tak lebih dari Rp 100 ribu.

Ia mengharapkan agar Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Nabire memperhatikan situasi ini, mengingat pangkalan ojek tak ditagih pajak atau retribusi. Sementara taksi ditagih pajak dan retribusi oleh Pemkab Nabire.

Salah satu pembeli, Jumria, mengatakan dirinya sering berbelanja di pasar terminal Oyehe. Selain dekat dengan rumah, sayuran di sini masih segar.

“Saya rumah dekat dan senang saja sebab tidak harus ke Pasar Kali Bobo atau pasar lain, tapi juga sayur segar di sini,” katanya.

Meski begitu, dirinya menyayangkan lokasi terminal yang tak ditata baik. Menurut Jumria, instansi terkait, terutama Dinas Lingkungan Hidup, Dinas Perhubungan, dan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Nabire harus lebih peka mengurus terminal ini.

Kepala Dinas Perhubugan (Dishub) Kabupaten Nabire, Alfius Douw, mengatakan sedianya terminal merupakan tempat penghentian bagi angkutan-angkutan kota atau taksi. Bukan tempat sampah, pasar, apalagi pangkalan ojek. Berkumpulnya banyak orang menjadikan areal terminal bermasalah.

“Dishub sering mengingatkan mereka yang melakukan aktivitas di situ, dan selanjutnya kami akan terus menindaklanjuti. Karena memang benar, terminal terlihat bukan seperti fungsinya lagi. Sudah banyak kegiatan di luar itu,” ujar Adouw kepada Jubi, .

Adouw pun mengimbau kepada warga Nabire, baik orang asli Papua (OAP), maupun warga non-OAP, agar menjaga ketertiban, kebersihan, dan kenyaman kota ini. Nabire, katanya, milik semua orang, dan wajib dijaga.

“Nabire kita semua punya,” katanya.

Ia mencontohkan sampah tersebar dimana-mana. Tumpukan sampah diakibatkan oleh ulah segelintir orang, baik ber-KTP Nabire, maupun yang bukan warga Nabire.

Alfius Douw mengaku sudah berkoordinasi dengan sejumlah Organisasi Perangkat Daerah (OPD) untuk menangani persoalan terminal dan sampah, serta pasar. Kini pihaknya sedang menunggu aksi OPD masing-masing.

“Tetapi kami juga sangat berharap kepada masyarakat agar turut berpartisipasi dalam semua persoalan, termasuk persampahan, ketertiban lalu lintas di terminal, pedagang,” katanya.

Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Nabire belum menyediakan tempat sampah. Oleh sebab itu, tahun lalu, beberapa pasar dijadikan tempat penampungan sampah (TPS).

“Beberapa pasar, termasuk terminal Oyeha dijadikan TPS, dan sampah di sana berasal dari sampah masyarakat. Nanti petugas yang mengangkut ke TPA,” kata Sekretaris DLH Nabire, Yohanis Ramandei. (*)

loading...

Sebelumnya

Pluralisme, demokrasi, dan rekomendasi HMI Papua

Selanjutnya

Pelaku kekerasan terhadap jurnalis Jubi diproses hukum

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga

Terkini

Populer

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : [email protected]

Copyright © 2013. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe