Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide

  1. Home
  2. Pasifik
  3. PM Samoa dan PM Selandia Baru soal kritik daring
  • Minggu, 13 Mei 2018 — 15:39
  • 619x views

PM Samoa dan PM Selandia Baru soal kritik daring

Perdana Menteri Selandia Baru Jacinda Ardern, saat bertemu dengan Perdana Menteri Samoa Tuilaepa Sailele Malielegaoi -
Perdana Menteri Selandia Baru Jacinda Ardern, saat bertemu dengan Perdana Menteri Samoa Tuilaepa Sailele Malielegaoi - RNZI/ Pacific Media Network
Elisabeth Giay
Editor : Galuwo

PERHATIAN!!!

Penggunaan sebagian atau seluruh materi dalam portal berita ini tanpa seijin redaksi tabloidjubi.com akan dilaporkan kepada pihak berwenang sebagai tindakan pelanggaran terhadap Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang HAK CIPTA dan/atau UU RI Nomor 19 Tahun 2016 atas perubahan UU RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE)

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Oleh Mata'afa Keni Lesa

Perdana Menteri kita di Samoa, Tuilaepa Sa'ilele Malielegaoi, terus-menerus mengomel tentang ‘penulis tak berwajah' yang menggunakan media-media sosial, terutama Facebook, untuk menyerang korban sasaran mereka, adalah alasan yang masuk akal.

Ini adalah argumen yang telah dia tekankan berkali-kali selama beberapa tahun terakhir dan minggu ini, yang mana dia menegaskan pendapatnya sekali lagi ketika dia menuduh mereka melakukan bukan hanya ‘pembunuhan karakter’ atau perusakan reputasi, tetapi juga membandingkannya dengan ‘pembunuh’ dan anggota organisasi teroris ISIS.

“Orang-orang yang menggunakan media sosial untuk menyakiti begitu banyak orang, sama saja dengan para ‘pembunuh’ di negara-negara Arab. Satu-satunya perbedaan adalah bahwa di kasus ini mereka membunuh orang dengan membunuh karakter atau reputasi orang tersebut, sementara di negara-negara Arab, mereka menembak mati orang-orang dengan senjata,” kata PM Tuilaepa.

Mari kita jujur, perbandingan yang digunakannya memang agak ekstrem, tetapi itu adalah Tuilaepa yang kita semua kenal.

Rupanya, Perdana Menteri Tuilaepa baru saja kembali dari London di mana isu keamanan dunia maya, adalah salah satu topik diskusi utama di Pertemuan Kepala-Kepala Pemerintahan Persemakmuran (Commonwealth Heads of Government Meeting) tahun 2018. Sementara pertemuan itu berlangsung, Perdana Menteri Tuilaepa sepertinya mencatat dan mempelajari satu atau dua hal tentang penindas dunia maya atau cyber bullies.

Sekarang, sekembalinya di Samoa, Tuilaepa kelihatannya senang mengetahui bahwa bukan hanya Samoa yang sedang berjuang melawan masalah penulis-penulis tidak berwajah.

“Ketika membahas tentang masalah teknologi online, semua lima puluh tiga negara (dari Persemakmuran) sedang dipengaruhi oleh masalah-masalah akibat media sosial,” katanya.

Tuilaepa mengatakan persoalan yang dibahas berkisar dari pembunuhan karakter hingga banyak tuduhan lainnya tak berdasar. Saat itulah ia mulai mengangkat perbandingannya dengan ISIS Orang-orang ini seperti ISIS dalam hal alur pemikiran dan tujuan mereka,” katanya. “Tujuan mereka adalah untuk memecah belah rakyat dan pemerintah. Mereka suka menimbulkan kebencian, menciptakan kecemasan, memulai perselisihan. Apa yang dihasilkan oleh hal-hal tersebut adalah mereka membuat rakyat membenci para pemimpin mereka.”

Perdana Menteri Tuilaepa menambahkan bahwa oknum-oknum itu suka menggunakan topik yang dapat menghasut tanggapan emosional dari para pembacanya.

“Ini bukanlah hal yang baik, penyalahgunaan sarana komunikasi seperti media sosial yang sebenarnya dimaksudkan untuk membantu pembangunan. Ada oknum-oknum tertentu yang menyalahgunakan sarana-sarana seperti ini, untuk mengarang tuduhan-tuduhan yang merusak reputasi dan karakter orang lain.”

Komentar terbaru Perdana Menteri ini memperpanjang sejarah komentar kritisnya terhadap penulis-penulis tak berwajah, yang telah menggunakan Facebook dan sarana daring lainnya untuk menyerang pemerintahannya. Percaya atau tidak, Tuilaepa bahkan pernah mengancam akan memblokir Facebook sepenuhnya dari Samoa.

“Pembunuhan karakter dan reputasi itu jauh lebih buruk daripada pembunuhan," tutur Tuilaepa sebelumnya. “Masalahnya adalah seperti yang dapat lihat, bahwa meskipun orang itu hidup, dia sudah mati (karakter dan reputasinya). Saya pikir hal ini hanya terjadi di Samoa, tetapi rupanya ini terjadi di semua negara.”

Mungkin sebaiknya Perdana Menteri Tuilaepa belajar dari perilaku Perdana Menteri Selandia Baru, Jacinda Ardern, dalam hal menanggapi berbagai persoalan yang menyebabkan cyber bullying dan perselisihan daring.

Sekitar tiga minggu yang lalu, pasangan de-facto dari PM Ardern, Clarke Gayford, menjadi topik desas-desus dan sindiran palsu di media sosial - sama seperti yang sering kali dialami Perdana Menteri Tuilaepa dan pemerintahannya di masa lalu.

Tapi tanggapan PM Ardern atas isu ini adalah sesuatu yang, menurut saya, harus dipelajari dan diterapkan oleh setiap pemimpin ketika mereka bergulat dengan realitas media daring dan media sosial di mana semua orang bisa mengungkapkan apapun yang mereka inginkan.

Mari kita dengarkan Ardern: “Dengar, tidak ada lagi yang harus saya katakan tentang masalah ini. Ini bukanlah alasan kenapa saya berada di sini. Ini bukanlah alasan mengapa saya masuk dalam dalam dunia politik, saya punya pekerjaan yang harus saya lakukan dan saya akan melakukannya. Bagi saya apa pun yang kalian sebutkan itu bukanlah masalah saya, dan saya tidak akan menyalahkan dan menunjukkan jari untuk menuduh siapa pun. Yang saya tahu adalah itu bukanlah alasan mengapa saya di sini. Itu tidak ada hubungannya dengan pekerjaan saya sebagai Perdana Menteri yang harusnya saya lakukan di sini, jadi saya hanya akan terus melakukan tugas saya kepada negara dan rakyat, dan saya juga akan tersenyum melewati semua ini.”

Bukankah itu tanggapan yang luar biasa? Sungguh sebuah respons yang berkelas dari seorang perempuan yang berkelas. Tanggapannya ini merangkum pendapat bahwa jika para pemimpin tersebut tidak khawatir akan kritik terhadap mereka, mengapa mereka harus terganggu? Kecuali apa yang dikatakan para penulis tak berwajah itu benar? (Samoa Observer)

Mata'afa Keni Lesa adalah seorang editor senior di surat kabar Samoa Observer

loading...

Sebelumnya

Blok Oposisi Vanuatu: Natuman tak layak masuk Parlemen

Selanjutnya

Pemimpin kudeta pertama Fiji janji kebebasan demokrasi jika terpilih

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : [email protected]

Copyright © 2013. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe