Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide

  1. Home
  2. Jawa
  3. Bangkitnya sel tidur ISIS dan “Surabaya Melawan”
  • Senin, 14 Mei 2018 — 15:39
  • 693x views

Bangkitnya sel tidur ISIS dan “Surabaya Melawan”

Di Indonesia, aksi kelompok ini dilakukan secara spontan. Tindakan itu sebagai usaha membuktikan mereka masih eksis dan sewaktu-waktu bisa melakukan serangan
Ilustrasi.Jubi
Editor : Syam Terrajana

PERHATIAN!!!

Penggunaan sebagian atau seluruh materi dalam portal berita ini tanpa seijin redaksi tabloidjubi.com akan dilaporkan kepada pihak berwenang sebagai tindakan pelanggaran terhadap Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang HAK CIPTA dan/atau UU RI Nomor 19 Tahun 2016 atas perubahan UU RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE)

Papua No. 1 News Portal | Jubi 

Surabaya, Jubi - Muhammad Jibriel Abdul Rahman, mantan terpidana kasus pemboman Hotel JW Marriot 2009, menyebut ledakan bom bunuh diri yang terjadi pagi tadi di tiga gereja di Surabaya merupakan rentetan yang berkaitan dengan kericuhan narapidana teroris di Rutan Salemba Cabang Mako Brimob Kelapa Dua, Depok, beberapa hari lalu.

Ia mengklaim jika aksi lanjutan ini dilakukan oleh kelompok ISIS di Indonesia.

"Kalau dilihat cara kerja teknik pengeboman ini dilakukan, saya bisa pastikan itu ISIS," ujar Jibriel kepada Tirto melalui sambungan telepon, Minggu (13/5).

Ia menegaskan jaringan ini kembali eksis karena kericuhan menewaskan lima anggota polisi dianggap sebuah keberhasilan.

“Sebuah kode aksi yang harus mereka lakukan karena dari kepolisian, kan, mati. Mereka merasa sukses," ujar Jibriel.

Karena klaim ini, kata Jibriel, mereka yang seideologi dengan ISIS kemudian menyusun rencana susulan. Pola-pola ini bisa dilihat dari rentetan aksi yang terjadi setelah kericuhan di Rutan Mako Brimob. Pertama, penusukan anggota kepolisian sehari setelah kejadian di Mako, kemudian berlanjut aksi bom bunuh diri hari ini.

Beberapa tahun ini, ISIS melakukan pola serangan serupa dan mengidentifikasi eksitensinya dengan menebar teror. Tahun lalu, misalnya, ISIS melakukan aksi serangan teror di beberapa negara. Serangan itu terjadi dari awal Ramadan dan berlangsung di beberapa negara, menewaskan puluhan orang.

Misalnya, serangan bom pada konser Ariana Grande di Manchester. Serangan teror berlanjut di London pada 3 Juni 2017 — yang juga diklaim oleh ISIS.

Kini pola-pola itu terjadi di Indonesia. Setelah kejadian berdarah di Mako Brimob, yang berakhir tragis bagi lima polisi yang tewas mengenaskan, menurut Jibriel kelompok ISIS di Indonesia melakukan teror susulan.

Menurut Jibriel, teror bom bunuh diri di tiga gereja—dengan korban sementara 10 orang—merupakan "kode" kelompok ISIS menjelang bulan Ramadan. “Apa yang terjadi di kemarin itu, bagi anak-anak ISIS, sebuah kode sebelum Ramadan,” ujar Jibriel.

Di Indonesia, aksi kelompok ini dilakukan secara spontan. Tindakan itu sebagai usaha membuktikan mereka masih eksis dan sewaktu-waktu bisa melakukan serangan, menurut Jibriel.

Analisa Jibriel ihwal pola-pola yang dilakukan ISIS senada dengan yang diutarakan Wawan Purwanto, jubir Badan Intelijen Negara (BIN).

Menurut Wawan, kelompok ini memanfaatkan kericuhan di Rutan Mako Brimob untuk melakukan teror lanjutan.

Di Indonesia, kata Wawan, jaringan ISIS bekerja dengan nama Jamaah Ansharut Daulah. Jaringan ini, kata Wawan, berbaiat dengan Abu Bakar Al-Baghdadi pada 2014 dan mulai eksis melakukan serangkaian teror di Indonesia.

Inspektur Jenderal Setyo Wasisto, Kepala Divisi Hubungan Masyarakat Markas Besar Polri, menyebut serangan bom yang terjadi pagi tadi di tiga gereja di Surabaya memang dilakukan kelompok JAD, kelompok lokal yang terafiliasi dengan ISIS.

Ledakan bom di tiga lokasi di wilayah Surabaya, Jawa Timur, membuat warga "Kota Pahlawan" itu ramai membuat tanda pagar (tagar) atau "hastag" dengan kata #SuraboyoWani di beberapa akun media sosialnya.

Hastag lainnya, seperti #Surabayaaman, #Kamitidaktakut, #SurabayaMelawan, hingga #TerorisJancuk juga banyak menghiasi beberapa layar media sosial, seperti Twitter, Instagram, hingga Facebook milik warga, sebagai simbol pembuktikan perlawanan masyarakat Surabaya kepada teroris di dunia maya.

Salah satu kicauan dari Aris Ernanto melalui akun twitternya @Arisern mengatakan pengeboman di Surabaya dipastikan dilakukan oleh orang tidak beragama, karena orang yang beragama selalu menyebarkan kedamaian, dan turut berduka cita atas peristiwa. Dan diakhiri dengan #SuroboyoWani.

Di Instagram, berdasarkan pantauan Antara, tagar #SurabayaWani sudah mencapai 1.056 kiriman, salah satunya dari akun @anisfauzi480 yang mengatakan bahwa agama tidak mengajarkan kita membunuh saudara sendiri, yang ditutup dengan #SurabayaWani, #surabayatidaktakutteroris dan #prayforsurabaya.

Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Jawa Timur K.H. Abdusshomad Buchori mengatakan bahwa terorisme bukan ajaran Islam dan setiap orang Islam yang memahami ajaran Islam, pasti mengutuk keras tindakan terorisme.

Tindakan terorisme berpotensi mencederai rasa persatuan dan kesatuan, serta menimbulkan kecemasan dan gangguan terhadap ketenteraman dan ketertiban masyarakat.

MUI, kata dia, mengutuk keras pelaku pengeboman yang terjadi di Surabaya yang dilakukan oleh siapapun dengan tujuan apapun.(*)

Sumber: Antara/Tirto.id

 

loading...

Sebelumnya

Pimpinan OPD diminta profesional dalam usulkan jabatan

Selanjutnya

Sengkarut Pegubin, Soedarmo: Saya juga bisa bertindak tegas

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga

Populer
Polhukam |— Rabu, 18 Juli 2018 WP | 4629x views
Nabire Membangun |— Selasa, 17 Juli 2018 WP | 4411x views
Dunia |— Minggu, 22 Juli 2018 WP | 4359x views
Jayapura Membangun |— Selasa, 17 Juli 2018 WP | 3535x views

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : [email protected]

Copyright © 2013. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe