Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide

  1. Home
  2. Koran Jubi
  3. Sepuluh tahun berjualan pinang di teras ruko
  • Rabu, 16 Mei 2018 — 12:07
  • 951x views

Sepuluh tahun berjualan pinang di teras ruko

Kegemaran orang Papua mengkonsumsi buah pinang membuat usaha pinang eceran menjadi salah satu sumber ekonomi orang asli Papua (OAP). Salah satu contoh Mama Lesiana Wolom yang membuka usaha di teras ruko selama hampir 10 tahun.
Pembeli mencicipi pinang dagangan Lesiana Wolom di Ruko Blok A, Kota Dekai, Kabupaten Yahukimo – Jubi/Piter Lokon
Piter Lokon
Editor : Syofiardi
LipSus
Features |
Kamis, 20 September 2018 | 09:41 WP
Features |
Rabu, 19 September 2018 | 16:08 WP
Features |
Selasa, 18 September 2018 | 07:24 WP
Features |
Senin, 17 September 2018 | 19:13 WP

PERHATIAN!!!

Penggunaan sebagian atau seluruh materi dalam portal berita ini tanpa seijin redaksi tabloidjubi.com akan dilaporkan kepada pihak berwenang sebagai tindakan pelanggaran terhadap Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang HAK CIPTA dan/atau UU RI Nomor 19 Tahun 2016 atas perubahan UU RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE)

Papua No. 1 News Portal | Jubi ,

MAMA Lesina seperti biasa duduk di balik meja kayu sederhana di teras ruko Blok A di Kota Dekai, Kabupaten Yahukimo, Jumat sore, 11 Mei 2018. Ia ditemani seorang saudara perempuannya.

Di atas meja yang beralas karpet bulu berwana hijau itu terdapat dua onggokan besar buah pinang. Semburat matahari sore tidak ia hiraukan, meski menerpa wajahnya. Ia tetap sibuk melayani pembeli.

Pinang adalah makanan kegemaran orang Papua. Karena itu usaha penjualan pinang eceran juga menjadi salah satu sumber penghasilan Orang Asli Papua (OAP) yang umumnya dilakoni mama-mama.

Karena kegemaran orang Papua makan pinang itu pula, Lesiana Wolom yang berusia 40 tahun, bisa bertahan sebagai penjual pinang eceran hampir 11 tahun sejak 2008, 10 tahun di antaranya dijalaninya di teras toko. Ia mengaku bertahan selama itu dengan suka dan duka.

“Saya berjualan pada 2008 di Pasar Baru, kemudian pada 2010 saya pindah dari Pasar Baru untuk berjualan di teras ruko, tetapi saat itu saya dimarahi dan diusir karena menurut pedagang yang orang pendatang itu saya mengganggu hasil jualan mereka,” katanya.

Wolom berjualan pinang dengan modal pribadi sebesar Rp 2 juta. Selama ia berjualan buah pinang belum ada bantuan modal atau bantuan jenis lain dari pemerintah atau dinas terkait.

“Saya juga belum pernah menerima bantuan tempat berjualan yang layak, jadi sehari-hari seperti ini saja di meja kayu yang lapuk,” katanya.

Memilih berjualan di teras ruko milik orang lain tidak mudah baginya. Ia pernah ditolak tiga kali dan dimarahi pemilik toko. Akhirnya pindah dan berlabuh di teras toko yang sekarang. Kebetulan pemiliknya menerimanya dan dengan baik hati mengizinkan dia berjualan di teras tokonya hingga sekarang.

“Saya tidak pernah merasa bosan, karena saya sudah terbiasa jualan seperti ini walaupun pembeli tidak ramai,” ujar.

Meski berjualan di teras ruko, dalam sehari Wolom bisa berpendapatan Rp 300 ribu jika tidak sedang ramai. Jika pembeli sedang ramai pendapatnnya bisa di atas Rp 1 juta dalam sehari.

“Kami sangat membutuhkan tempat yang layak untuk berjualan, karena seperti hari ini panas membuat pinang menjadi layu serta tidak laku,” katanya sambil menutup jualan pinangnya dengan payungnya agar tidak cepat layu.

Jika pinangnya dalam kondisi bagus harganya untuk tiga buah Rp 10 ribu. Tapi jika sudah layu harganya menjadi empat buah Rp 10 ribu.

“Pemerintah bisa perhatikan kita kah? Karena kami ini OAP yang jualan di sini. Kami belum punya tempat yang layak jadi kami jual di pinggir ruko walaupun ditegur. Selain memperhatikan tempat berjualan perlu juga ada pemberian modal usaha supaya usaha kami bisa dikembangkan,” katanya.

Menurutnya petugas pemerintah sudah pernah datang untuk mengambil datanya, tapi hingga kini belum pernah ada bantuan.

Meski bejualan pinang, Wolom sanggup membiayai anak-anaknya hingga sekolah tinggi. Saat ini empat anaknya kuliah S1 dan S2. Dua lainnya sedang sekolah di bangku SMA.

“Mereka itu semua dari hasil berjualan pinang selama hampir 11 tahun di Dekai ini,” katanya.

Moses Anesbey adalah pelanggan yang sering membeli pinang kepada Wolom. Ia mengaku lebih menyukai membeli hasil jualan Lesina Wolom karena ada bonusnya selain pinangnya bagus-bagus dan cara pelayanannya juga bagus.

“Saya suka makan pinang di sini karena pinang bagus dan ada bonusnya,” katanya.

Anesbey menyarankan agar pemerintah daerah memperhatikan mama-mama penjual pinang seperti Wolom.

“Saya lihat mereka berjualan di tempat yang terbatas dan tak layak di depan ruko orang lain. Saya berharap pemerintah bisa memperhatikan dengan menyediakan atau membangun tempat berjualan pinang karena mereka ini pedagang OAP semua,” ujarnya.

Dari hasil pantauan Jubi, ada 35 perempuan Papua yang berjualan pinang di teras ruko Blok A dan di samping jalan Papua. Mereka memiliki meja jual masing-masing dan dibuat dengan sederhana dari bahan kayu. Pedagang pinang tersebut semuanya orang asli Papua.

Jumlah itu belum termasuk mama-mama yang berjualan di Pasar Lama, Pasar Baru, Jalan Sosial, Jalan Paradiso, dan di Jalan pemukiman di Kota Dekai.(*)

loading...

Sebelumnya

Ambaidiru, Pionir Perkebunan Kopi di Papua

Selanjutnya

Ganti komisioner KPU dan pertaruhan Uncen

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga

Terkini

Populer
Polhukam |— Jumat, 21 September 2018 WP | 6025x views
Koran Jubi |— Senin, 17 September 2018 WP | 5680x views
Polhukam |— Kamis, 20 September 2018 WP | 3696x views

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : [email protected]

Copyright © 2013. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe