Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide

  1. Home
  2. Ekonomi
  3. Terapi Happy Dream sambil berjualan pinang
  • Kamis, 17 Mei 2018 — 14:53
  • 691x views

Terapi Happy Dream sambil berjualan pinang

“Saya hari-hari biasa jualan pinang sambil tunggu giliran. Kalo hanya duduk saja itu bosan, jadi saya bawa pinang. Tunggu giliran sambil jualan pinang. Kalo di rumah biasa jualan rujak dengan kue tapi sekarang saya tidak bikin,” ucapnya, saat ditemui Jubi, Kamis (17/5/2018).
Sawoda Worpete (54 tahun), menggunakan waktu menunggu terapi Happy Dream dengan berjualan pinang – Jubi/Yance
Yance Wenda
Editor : Dewi Wulandari
LipSus
Features |
Kamis, 20 September 2018 | 09:41 WP
Features |
Rabu, 19 September 2018 | 16:08 WP
Features |
Selasa, 18 September 2018 | 07:24 WP
Features |
Senin, 17 September 2018 | 19:13 WP

PERHATIAN!!!

Penggunaan sebagian atau seluruh materi dalam portal berita ini tanpa seijin redaksi tabloidjubi.com akan dilaporkan kepada pihak berwenang sebagai tindakan pelanggaran terhadap Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang HAK CIPTA dan/atau UU RI Nomor 19 Tahun 2016 atas perubahan UU RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE)

Papua No. 1 News Portal | Jubi ,

Sentani, Jubi – Sawoda Worpete (54 tahun), perempuan asal Kabupaten Kaimana, adalah seorang ibu yang mengikuti terapi Happy Dream yang dilakukan di Sentani Hawai. Semenjak sebulan menjalani terapi Happy Dream, sambil menunggu giliran terapi, Sawoda Worpete menjajankan buah pinang di depan ruko yang belum dibuka.

“Saya hari-hari biasa jualan pinang sambil tunggu giliran. Kalo hanya duduk saja itu bosan, jadi saya bawa pinang. Tunggu giliran sambil jualan pinang. Kalo di rumah biasa jualan rujak dengan kue tapi sekarang saya tidak bikin,” ucapnya, saat ditemui Jubi, Kamis (17/5/2018).

Sawoda mengatakan buah pinang yang ia jajankan ini ia beli dari pasar Pharaa Sentani. Ia membeli dalam jumlah tidak terlalu banyak.

“Saya tidak ambil di pohon dan untuk jual juga tidak bawa banyak. Saya beli dengan harga Rp 30 ribu saja, baru datang jual,” katanya.

Mama Worpete mengatakan walau pendapatan dengan hasil berjualan pinang tidak besar namun dapat melengkapi kebutuhan makan minumnya di rumah.

“Dalam satu hari paling tinggi itu Rp 50 ribu, itupun kalo laku semua. Kalo satu minggu itu dapat Rp 300 ribu begitu. Hasilnya saya pake beli makan karena mama ini hidup sendiri. Suami su trada,” kata Worpete.

Hal lain disampaikan Merince Wanimbo, perempuan asal Lanny Jaya, yang kuliah di Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Tanah Papua, jurusan Kriya. Ia mengisi waktu luangnya dengan berjualan tas hasil rajutannya.

“Saya punya karya tangan banyak tapi mau jual dimana tidak ada tempat, jadi saya jual hanya tas-tas ini saja di depan sini,” kata Merince, yang berjualan tidak jauh dari tempat jualan Mama Worpete.

Tas hasil rajutannya dijual dengan harga bervariasi, antara Rp 250 ribu hingga Rp 350 ribu.

“Belum ada yang beli. Orang-orang cuma datang tanya-tanya saja,” ucap Wanimbo. (*)

loading...

Sebelumnya

Awal Ramadan, penjualan kelapa di Pasar Pharaa meningkat, harga normal

Selanjutnya

Harga cabai di Jayapura melambung

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga

Terkini

Populer

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : [email protected]

Copyright © 2013. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe