Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide

  1. Home
  2. Pasifik
  3. Kekerasan berbasis gender di Samoa dan Pasifik
  • Kamis, 17 Mei 2018 — 17:47
  • 688x views

Kekerasan berbasis gender di Samoa dan Pasifik

Proyek ini dibiayai oleh institut riset Pasifik, NZ Institute for Pacific Research, institut dengan kolaborasi yang unik antara Universitas Auckland, Universitas Otago, dan Universitas Teknologi Auckland.
Profesor David Tombs. - Asia Pacific Report/ Sri Krishnamurthi/ NZIPR
Elisabeth Giay
Editor : Galuwo
LipSus
Features |
Kamis, 20 September 2018 | 09:41 WP
Features |
Rabu, 19 September 2018 | 16:08 WP
Features |
Selasa, 18 September 2018 | 07:24 WP
Features |
Senin, 17 September 2018 | 19:13 WP

PERHATIAN!!!

Penggunaan sebagian atau seluruh materi dalam portal berita ini tanpa seijin redaksi tabloidjubi.com akan dilaporkan kepada pihak berwenang sebagai tindakan pelanggaran terhadap Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang HAK CIPTA dan/atau UU RI Nomor 19 Tahun 2016 atas perubahan UU RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE)

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Oleh Sri Krishnamurthi di Auckland

Secara global, satu dari tiga perempuan pernah menjadi korban kekerasan, tetapi di Samoa angka itu ‘mungkin’ mencapai dua dari tiga perempuan. Itulah temuan Profesor David Tombs, peneliti utama dari proyek penelitian, untuk memperkuat peran gereja sebagai aktor dalam pencegahan kekerasan berbasis gender serta mendukung para korban.

Proyek ini dibiayai oleh institut riset Pasifik, NZ Institute for Pacific Research, institut dengan kolaborasi yang unik antara Universitas Auckland, Universitas Otago, dan Universitas Teknologi Auckland.

Meskipun sekarang penelitian ini sudah mulai mendekati masa penyelesaiannya, Profesor Tombs mengatakan masih banyak hal yang dapat dilakukan gereja saat ini untuk membantu menyelesaikan persoalan.

“Sudah sangat jelas dalam literatur bahwa gereja adalah bagian besar dari masalah ini. Ada banyak literatur tentang kekerasan terhadap perempuan di Pasifik.”

“Sebagai perkiraan kasarnya, angka prevalensi untuk kekerasan terhadap perempuan secara global adalah satu dari tiga, sangat tinggi. Tetapi di Pasifik - di Samoa mungkin dua kali lipat dari itu,” kata Profesor Tombs.

“Jika kita ingin berubah, maka gereja harus menjadi bagian dari solusi, mereka tidak bisa hanya menjadi bagian dari permasalahannya saja. Jadi, selain mengakui bahwa gereja adalah bagian dari masalah ini, fokus kami juga adalah tentang bagaimana gereja dapat menjadi bagian dari solusi, bukan hanya bagian dari masalah.”

Dia dan tim penelitiannya - pemimpin proyek Dr. Mercy Ah Siu-Maliko (dari sekolah teologi Piula Theological College di Samoa dan University of Otago); rekan sesama peneliti Dr. Melanie Beres (Universitas Otago), dan Dr. Caroline Blyth (Universitas Auckland); Asisten Peneliti Dr. Ramona Boodoosingh; dan Penasihat proyek Dr. Tess Patterson sedang bekerja bersama-sama untuk mengerjakan proyek yang berjudul ‘Fola le ta’ui a le Atua: Rolling Out the Mat of Scripture: Church Responses to Gender-Based Violence Against Women in Samoa: Supporting Church Capacity for Transformative Social Leadershipitu .

Bekerja dengan seseorang seperti Dr. Ah Siu-Maliko memberikan proyek itu kredibilitas tambahan di pandangan masyarakat Samoa, kata Profesor Tombs, Kepala Pusat Teologi Howard Paterson di Universitas Otago.

Gereja-gereja perlu dilibatkan

“Kita sedang membangun sebuah hubungan, kita memperkuat mereka yang bekerja di dalam lingkungan gereja seperti Mercy, yang merupakan perempuan Samoa pertama yang mendapatkan gelar PhD, perempuan pertama yang ditunjuk untuk bekerja sebagai pengajar di sebuah sekolah tinggi teologi Samoa, jadi pendekatan yang kita gunakan adalah untuk memperkuat pekerjaannya di dalam gereja, pekerjaannya dalam pendidikan teologi, pekerjaannya sebagai orang Samoa, untuk mengangkat isu ini di dalam gereja.”

Tim ini sedang mempelajari pendekatan apa yang dapat dilakukan oleh denominasi-denominasi gereja yang besar, yaitu gereja-gereja Congregational, Metodis, Katolik, Anglikan, dan Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh.

“Denominasi gereja Anglikan adalah gereja yang berkomitmen paling banyak terhadap masalah ini. Meskipun mereka memiliki jemaat yang relatif kecil di Samoa, banyak hal yang sudah mereka lakukan. Sekarang denominasi gereja lain yang juga mulai aktif adalah Gereja Advent Hari Ketujuh dan mereka juga mulai banyak terlibat. Sementara itu, Katolik, Methodis, dan Congregational belum begitu banyak terlibat dalam masalah ini,” katanya.

Temuan awal penelitian ini menunjukkan bahwa gereja merupakan faktor penting dalam kekerasan terhadap perempuan, atau setidaknya bahwa Gereja menunjukkan ketidakpedulian terhadap masalah ini.

“Banyak tulisan dalam literatur yang menunjukkan bahwa tingkat prevalensi kekerasan terhadap perempuan tinggi, gereja adalah faktor yang signifikan dalam isu ini, dan bahwa gereja-gereja belum dilibatkan,” tuturnya.

“Namun, indikasi dari temuan kita sejauh ini adalah bahwa ajaran Alkitabiah dapat menjadi jembatan yang sangat penting untuk menyelesaikan masalah ini. Kita menggunakan idiom menggelarkan karpet teks suci Alkitab; ide kami adalah bahwa Alkitab adalah ‘karpet’ yang dapat mendatangkan orang-orang dan memulai percakapan yang baru seputar masalah ini, itu merupakan salah satu cara yang paling efektif.“

Ada optimisme tertentu bahwa perubahan transformasional dapat terjadi, namun ini akan memerlukan waktu yang tidak singkat.

Kontribusi yang positif

“Kita optimis bahwa kita dapat memberikan kontribusi yang positif. Kita tidak senaif itu untuk berpikir bahwa proyek ini dapat menyelesaikan masalah kekerasan, tetapi kita optimis bahwa bagi mereka yang juga berusaha untuk mengatasi persoalan ini, akan memiliki satu lagi sumber daya literatur yang baik.”

“Tidak ada tongkat ajaib yang akan menyelesaikan masalah ini, karena kekerasan berbasis gender adalah masalah yang berakar. Persoalan ini adalah sesuatu yang dapat diselesaikan, menurut literatur dan bukti yang ada, dan dapat diubah, tetapi untuk mencapai perubahan kita memerlukan komitmen yang kuat dari berbagai aspek dalam gereja.”

Kendala terbesar yang mereka hadapi adalah pandangan tradisional, yang mana lebih banyak laki-laki yang berkuasa di semua denominasi gereja.

“Titik awal untuk memulai sebuah proyek tentang kekerasan terhadap perempuan adalah tentang sistematika kekuasaan dan kontrol, dan ini bukan masalah budaya yang hanya terlihat dalam konteks Pasifik, hal ini sangat umum dalam konteks global; gereja sebagai bagian dari sistem itu juga memainkan peran mereka dengan mendukung dan mempertahankan bentuk-bentuk kekuasaan dan kontrol yang mendorong kekerasan. Tetapi, tentu saja, gereja juga dapat memimpin di garis depan dalam perjuangan untuk menghentikan kekerasan terhadap perempuan dengan mengkritisi konsep kekuasaan dan kontrol sebagai sesuatu yang salah dan jahat,” jelasnya.

Gereja juga tidak bisa duduk diam dan menolak perubahan yang positif seperti ini sebagai konsep asing.

Alkitab telah menjadi bagian dari Samoa’

"Menurut saya perlawanan mereka (gereja) terhadap perubahan seperti ini terkait dengan persepsi bahwa perubahan ini datang dari luar negeri, ini bukan cara ‘Samoa’ dan karena itu perubahan adalah agenda luar dari luar Samoa,” tambahnya.

“Oleh karena itu penting sekali bagi kami dan tim kami untuk dipimpin oleh seorang perempuan Samoa, dengan begini seruan kepada gereja-gereja untuk berubah datang dari organisasi-organisasi dan badan-badan Samoa dan khususnya terkait isu perempuan. Selain itu seruan ini didasarkan dan dibenarkan oleh Alkitab.”

“Alkitab memang berasal dari luar Samoa, tetapi sekarang Alkitab telah menjadi bagian dari Samoa, dan di Samoa itu tidak dilihat sebagai faktor asing, kuar, atau sesuatu yang intrusif”, tambah Profesor Tombs. (Asia Pacific Report)

Laporan ini disusun oleh Sri Krishnamurthi dari Pusat Media Pasifik AUT bekerja sama dengan institut NZ Institute for Pacific Research.

loading...

Sebelumnya

Siklon Gita sebabkan kerugian AS$ 156 juta di Tonga

Selanjutnya

Narkoba di Selandia Baru dari negara "gagal" di Pasifik”

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga

Terkini

Populer

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : [email protected]

Copyright © 2013. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe