Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide

  1. Home
  2. Pasifik
  3. PNG krisis ekonomi, mengapa adakan KTT APEC?
  • Minggu, 20 Mei 2018 — 17:54
  • 583x views

PNG krisis ekonomi, mengapa adakan KTT APEC?

Itu mungkin merupakan pernyataan yang paling akurat, di balik mengapa PNG akan menjadi tuan rumah KTT APEC 2018
Perdana Menteri PNG, Peter O Neill. - Lowy Institute/ Commonwealth Secretariat/Flickr.
Elisabeth Giay
Editor : Galuwo

PERHATIAN!!!

Penggunaan sebagian atau seluruh materi dalam portal berita ini tanpa seijin redaksi tabloidjubi.com akan dilaporkan kepada pihak berwenang sebagai tindakan pelanggaran terhadap Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang HAK CIPTA dan/atau UU RI Nomor 19 Tahun 2016 atas perubahan UU RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE)

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Oleh Watna Mori

Hingga sekarang masih belum jelas sejak kapan politik big-man’ dalam hal kebijakan luar negeri Papua Nugini dimulai. Kemungkinan besar hal ini dimulai dari era Perdana Menteri Sir Michael Somare, pada awal 2000-an, ketika ia mendorong PNG agar menjadi sumber donor bantuan ke kawasan Pasifik.

Pada saat itu, dan bahkan sampai hari ini, PNG masih terus menjadi negara penerima bantuan terbesar dari Australia, menyebabkan keputusan Somare ketika ia menjadikan PNG negara donor di Pasifik, tampak sangat ironis. Ambisi itu memulai perdebatan umum di koran-koran nasional PNG antara pengikut dan kritikus Somare.

Dengan keluarnya Somare dari Kantor Perdana Menteri dan masuknya PM Peter O’Neill, kebijakan PNG terus bertumbuh. Pada 2013, O’Neill meluncurkan program bantuan negaranya ke kawasan Pasifik, dinamakan Pacific Aid, dan mulai memberikan donasi ke berbagai negara Pasifik, termasuk bantuan besar-besaran senilai AS $ 18,5 juta untuk pemilihan nasional Fiji pada 2014.

Saat ini, pemerintahan O’Neill juga masih perlu menggenapkan beberapa komitmen besarnya yang memerlukan banyak infrastruktur baru, komitmen yang ia buat dalam momen-momen ‘panas’ ketika ia menguraikan manfaat ekonomi dan pembangunan dari proyek gas alam cair (LNG) untuk PNG. Komitmen ini termasuk Festival Seni Melanesia pada Juli 2014, dan acara olahraga kawasan Pasifik Selatan, South Pacific Games, pada Juli 2015. Festival Seni Melanesia tahun 2014 baru dipersiapkan pada menit-menit terakhir, diselenggarakan dalam fasilitas-fasilitas dadakan yang bukan didesain dan dibangun untuk digunakan secara permanen. Kegiatan olahraga South Pacific Games, meskipun dielu-elukan sebagai acara yang sukses, diselenggarakan dalam beberapa fasilitas dan infrastruktur yang tidak lengkap, dan belum rampung konstruksinya.

Namun, keterbatasan ini tidak menghentikan Menteri Olahraga pada saat itu, Justin Tkatchenko, dan Gubernur Jenderal PNG saat itu, Sir Michael Ogio, dari mengumumkan rencana mereka untuk mengajukan PNG sebagai tuan rumah kegiatan olahraga Persemakmuran, Commonwealth Games, tahun 2026.

Tiga tahun setelah itu, 2018 ini, beberapa stadion dan infrastruktur South Pacific Games 2015 masih belum juga diselesaikan, fasilitas yang lainnya tidak terbuka untuk masyarakat umum, dan banyak gedung yang ditutup untuk sementara karena kelalaian pemerintah dalam membayar tagihan atas berbagai macam layanan yang terakumulasi dari kegiatan itu.

Hal-hal di atas adalah contoh dari apa yang mungkin akan terjadi pada infrastruktur yang sekarang sedang dibangun, dalam mempersiapkan PNG untuk menjadi tuan rumah KTT APEC pada November tahun ini. KTT ini diharapkan akan mengumpulkan para pemimpin dari 21 ekonomi, dan ribuan pejabat negara dan delegasi, semuanya di Port Moresby.

Dengan absennya data, fakta, dan angka-angka dari pemerintah yang akurat tentang manfaat ekonomi dari komitmen-komitmen ini, termasuk KTT APEC mendatang, kepada PNG secara riil, sulit sekali bagi kita untuk menumbuhkan antusiasme mengenai pengeluaran pemerintah yang besar-besaran, dan tercurah hanya untuk pertemuan selama beberapa hari. Terutama mengingat ekonomi PNG yang sedang mengalami pengunduran berkelanjutan sejak tahap pra-produksi LNG, ketika tingkat pertumbuhan ekonomi lebih dari 10%.

Beberapa data dan tren boom-to-bust yang mengejutkan baru-baru ini disorot oleh laporan organisasi nonprofit Jubilee Australia, namun PM O`Neill dengan cepat merespons dan melabel pelaporan tersebut sebagai ‘berita palsu’.

Meskipun laporan yang disusun Jubilee mungkin sedikit berlebihan dalam menyindir proyek LNG yang, menurut mereka, seharusnya tidak perlu dimulai sama sekali, namun mereka ada benarnya bahwa banyak dari manfaat yang diprediksi untuk PNG dan masyarakatnya dari proyek belum terwujud, kegagalan yang sebagian besar disebabkan oleh keteledoran pemerintah. Bencana gempa bumi besar yang mengguncang area proyek LNG pada Maret tahun ini, merupakan indikasi kurangnya manfaat dari proyek itu bagi masyarakat lokal yang terkena dampak kerusakan, menyusul gempa itu dan gempa-gempa susulan setelahnya.

Hampir semua komentator bidang ekonomi dan keuangan PNG, selain dari pemerintah sendiri, setuju bahwa negara ini sedang berada dalam situasi ekonomi yang tragis. Hingga rencana anggaran tahunan 2018 diumumkan, PM O’Neill menolak untuk mengakui bahwa ekonomi negara ini dibawah pimpinannya sedang dalam krisis. Dia sekarang terus menegaskan bahwa ‘ekonomi kita sudah mulai pulih’.

Namun, pada April lalu Bank ANZ merilis sebuah laporan analisis menyingkapkan bahwa, tampaknya, ekonomi PNG tidak mungkin pulih secara penuh sebelum tahun 2020, dan bahkan untuk pulih pada dalam dua tahun ke depan, ini tidak akan terjadi tanpa Pemerintah mengambil langkah-langkah fiskal tertentu, seperti devaluasi mata uang Kina.

Pada saat menghadiri forum bisnis dan pameran perdagangan Australia dan PNG, Australia Papua New Guinea Business Forum and Trade Expo, di Brisbane, PM O'Neill sekali lagi menekankan, dalam pidatonya, bahwa menyelenggarakan APEC akan membawa dampak yang positif untuk PNG, karena pertemuan itu akan menempatkan negara PNG dalam peta ekonomi global, memastikan ‘semua orang akan ingat di mana letak Papua Nugini’ dan tidak lagi bingung antara PNG dan salah satu negara di Benua Afrika.

Itu mungkin merupakan pernyataan yang paling akurat, di balik mengapa PNG akan menjadi tuan rumah KTT APEC 2018. (The Interpreter by Lowy Institute)

Watna Mori adalah seorang pengacara yang bekerja di bidang HAM.

loading...

Sebelumnya

Edouard Fritch terpilih kembali jadi Presiden Polinesia Prancis

Selanjutnya

Parpol perempuan pertama dibentuk di Vanuatu

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga

Populer

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : [email protected]

Copyright © 2013. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe